Laporkan Masalah

Kajian rencana tata ruang kawasan budidaya dan non budidaya di Kota Tarakan Kalimantan Timur ditinjau dari aspek konservasi air tanah

AINUN, Agustin Anis, Prof.Dr.Ir. Sri Harto Br., Dip.H

2006 | Tesis | S2 Teknik Sipil (Magister Pengelolaan Sumberdaya A

Kota Tarakan Kalimantan Timur yang dikenal kota tak kenal musim memiliki persoalan yang hampir sama dengan persoalan sumberdaya air pada umumnya yaitu minimnya persediaan air baku untuk air bersih. Banyak hal telah dilakukan untuk mengatasi hal ini, diantaranya adalah usaha konservasi air bawah tanah. Usaha ini hendaknya sejalan dengan Rencana Detail Tata Kota (RDTK) yang ada. Untuk itu perlu penelitian tentang RDTK ini jika ditinjau dari aspek konservasi air tanah. Dengan mengklasifikasikan wilayah kota Tarakan menjadi kawasan budidaya dan non budidaya, menentukan koefisien run off (C) masing-masing lahan, mengetahui besarnya curah hujan rata-rata pertahun dan juga besarnya nilai evapotranspirasi yang terjadi di kota Tarakan, maka dapat dihitung perkiraan jumlah air yang meresap kedalam tanah. Usaha konservasi ABT adalah mutlak diusahakan pada saat sumber air ini dimanfaatkan. Sumur resapan adalah salah satu solusi dari usaha konservasi ABT. Dengan menganggap 60% luasan kawasan budidaya sebagai daerah tangkapan hujan, dan didasarkan kondisi permeabilitas tanah, faktor geometrik, lama pengaliran, dan dimensi yang sesuai maka perkiraan jumlah sumur resapan dapat ditetapkan. Pada penelitian ini dicoba menggunakan C versi tabel Asdak dan C versi Australian Rainfall. Jika menggunakan C tabel Asdak di Tarakan Utara kondisi sebelum RDTK ke kondisi pasca RDTK mengalami kenaikan jumlah air yang terkonservasi sebesar 4,7% dan naik 30,1% jika menggunakan sistem peresapan. RDTK Tarakan Barat sebelum RDTK ke pasca RDTK perkiraan jumlah air terkonservasi turun sekitar 6,2%, dapat dinaikkan sekitar 30,51% jika menggunakan sistem peresapan. Tarakan Timur jumlah air yang terkonservasi dari kondisi sebelum RDTK ke pasca RDTK mengalami penurunan sekitar 0,01%, kondisi ini dapat dinaikkan 21,22% jika menggunakan sumur resapan. Dengan menggunakan C versi Autralian Rainfall perkiraan jumlah air terkonservasi adalah sebagai berikut: Tarakan Utara sebelum RDTK ke pasca RDTK naik 7,6% dan naik 36,89% jika dengan sistem peresapan, Tarakan Barat sebelum RDTK ke pasca RDTK mengalami 46,62%, dapat dinaikkan 1,86% jika menggunakan sistem peresapan, Tarakan Timur sebelum RDTK ke pasca RDTK naik 2,8% naik 21,40% jika menggunakan sumur resapan. Jumlah sumur resapan yang dibutuh adalah sebagai berikut: Tarakan Timur 3.670 buah, Tarakan Barat 4.270 buah, dan Tarakan Utara 11.993 buah dengan kedalaman 5 meter dan Ø 1 meter.

Tarakan City in East Kalimantan that is known as the city without season has a typical problem that related to water resources problem. It has minimum supply of fresh water. Many efforts has been taken to overcome this problem, among them is the program of ground water conservation. This program should be in accordance with the prevailing City Layout Master Plan (RDTK). Therefore, in relation with this, a research needs to be conducted concerning ground water conservation aspect. By dividing Tarakan City area into cultivation area and non-cultivation area, defining run off coefficient (C) for each of the field area, identifying the amount of average rainfall each year as well as the amount of evapotranspiration that occur in Tarakan City, the approximation of water volume that are recharged to the ground can be calculated. The program of ground water conservation is undoubtly a solution that should be taken when the water resources is to be exploited. The recharge well is one way to apply ground water conservation program. By assuming that 60% of cultivation area is the rainfall retaining area, and based on the land permeability condition, geometrical factor, flowing duration and appropriate dimension, then the approximation number of recharge wells can be defined. On this research, the use of C Asdak table version and C Rainfall Australian version is implemented. When using C Asdak table version, North Tarakan from the condition before RDTK to its condition after RDTK has increased its water volume as much as 4.7% and increase by 30.1% when using absorption system. In East Tarakan, the conservated water volume from the condition before RDTK to its condition after RDTK has decrease about 0.01%, this condition can be increased by 21.22% when using absorption system, West Tarakan from before-RDTK to after-RDTK has increased its conservated water by 7.6% and it increases by 36.89% when using recharge system. West Tarakan from before RDTK to after RDTK has increased its water volume by 46.62% and can be raised by 1.86% when using absorption system. East Tarakan from before RDTK to after RDTK has increased its water volume by 2.8% and could be increased as much as 21.40% when using recharge well. The total needs of recharge well in Tarakan City is as follows: East Tarakan: 3,670 units, and North Tarakan: 11,993 with 5 meters in depth and Ø 1 meter.

Kata Kunci : Konservasi Air Tanah,Tata Ruang Kawasan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.