Laporkan Masalah

Perbaikan dinding bata merah akibat pengujian beban statik menggunakan ferosemen

PURBA, Urip Tri, Dr.-Ing.Ir. Andreas Triwiyono

2006 | Tesis | S2 Teknik Sipil

Kerusakan yang paling sering ditemukan akibat kejadian gempa pada bangunan rumah sederhana adalah kerusakan pada bagian non struktural terutama pada dinding. Kerusakan tersebut berupa retakan atau kehancuran dinding. Perbaikan diusahakan dapat mengembalikan kemampuan dinding dengan tetap memperhatikan penampilan arsitekturalnya. Perbaikan dengan ferosemen dapat tetap menjaga penampilan arsitektural, tetapi perlu dilakukan pengujian untuk mengetahui keefektifan metode perbaikan ini. Hubungan beban-simpangan, kekakuan, drift ratio, model keruntuhan dan pola retak, kuat geser ultimit (ultimate shear strength), dan daktikitas akan dibahas sebagai tujuan utama penelitian ini. Dalam penelitian ini diuji 2 buah dinding pasangan bata skala penuh dengan lebar dan tinggi 3 m yang telah mengalami kerusakan akibat pembebanan statik yang kemudian diperbaiki dengan pemberian lapisan ferosemen, yaitu IRBFR (Infill Red Brick Ferrocement Retrofitting) untuk perbaikan IRB (Infill Red Brick ) dan IRBHBFR (Infill Red Brick Horisontal Bar Ferrocement Retrofitting) untuk perbaikan IRBHB (Infill Red Brick Horisontal Bar). Benda uji selanjutnya diberikan beban horizontal searah sumbu kuat dinding pada puncak dinding sebagai pemodelan beban gempa dengan metoda pembebanan mengacu pada ASTM E 564-00. Pola retak pada kedua model didominasi oleh kerusakan pada sambungan antara dinding dengan dengan balok landasan / sloof dan lolosnya tulangan pada kolom dinding dan jenis keruntuhan yang terjadi adalah keruntuhan guling (rocking failure). Perbaikan dengan ferosemen pada dinding IRBFR meningkatkan tahanan lateral maksimal IRB hingga 231,258 % sedangkan pada IRBHBFR mampu meningkatkan tahanan lateral maksimal IRBHB hingga 138,89 %, selain itu metode perbaikan juga memperkaku dinding. Keruntuhan pada dinding IRBFR dan IRBHBFR berlangsung secara mendadak setelah beban puncak tercapai, sedangkan pada IRB dan IRBHB keruntuhan berlangsung lebih lambat setelah beban puncak tercapai. Nilai daktikitas IRBFR (μ = 2,44), IRB (μ = 3,55), IRBHBFR (μ = 2,51), dan IRBHB (μ = 4,69) tergolong dalam struktur dengan tingkat daktikitas sedang. Perbaikan dengan ferosemen meningkatkan pemakaian dinding IRBFR dan IRBHBFR hingga wilayah gempa 6 untuk segala jenis tanah pada pembagian wilayah gempa di Indonesia.

Commonly found damages due to earthquake events are damages occurred to non-engineered structures especially walls. These damages can take form as slight cracks or even as wall disintegration. Retrofitting process is being attempted with full attention towards its architectural appearance. Retrofitting using ferrocement is able to maintain the architectural appearance, but several tests is needed in order to know the effectivity of this method using static lateral load at the top of the walls in the direction of the strong axis as an earthquake load modeling. The relations between load-displacement, stiffness, drift ratio, failure model and crack pattern, ultimate shear strength and ductility will be discuss as the main purpose of this research. The specimens for this research are 2 full scale brick masonry walls 3 m in height and width that has sustain damages cause by static load which later on being restore by applying ferrocement layer, IRBFR (Infill Red Brick Ferrocement Retrofitting) for the IRB (Infill Red Brick) retrofitting and IRBHBFR (Infill Red Brick Horizontal Bar Ferrocement Retrofitting) for the IRBHB (Infill Red Brick Horizontal Bar) retrofitting. The specimens later are being given horizontal load in the direction of the strong wall axis at the top of the wall with the loading method referring to the ASTM E 564-00. The crack pattern on both specimens is being dominated by damages on the joint between wall and the platform beam/sloof and the reinforcement abscond on the wall column, while the rocking failure was the failure type that commonly occurs. The using of ferrocement on IRBFR wall enhance the maximum lateral constraint up to 231,258 %, while on the IRBHBFR ferrocement is able to increase it up to 138,89 %. More over, this method also stiffens the walls. The failure on IRBFR and IRBHBFR walls transpire abruptly after the peak load achieve, while on the IRB and IRBHB the failure occur slower. The ductility value of IRBFR (μ = 2, 44), IRB (μ = 3, 55), IRBHBFR (μ = 2, 51), and IRBHB (μ = 4, 69) are categorized in structure with mid ductility level category. The using of ferrocement for restoration increase the use of IRBFR and IRBHBFR walls up to 6 earthquake region for all types of terrain on the earthquake region segmentations in Indonesia.

Kata Kunci : Dinding Bata Merah,Ferosemen,Beban Statik,retrofitting, ferrocement, brick masonry walls, static load


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.