Konflik antara peruntukan dengan pemanfaatan ruang terbuka publik di kawasan ALun-alun Pekalongan
ROSALIA, Hanifa, Ir. Haryadi, M.Arch.,Ph.D
2006 | Tesis | S2 Teknik Arsitektur (Desain Kawasan Binaan)Ruang publik di pusat kota merupakan kawasan yang sangat menonjol dalam pertumbuhannya, hal ini didorong oleh berbagai macam aktifitas di sekitarnya. Alunalun sebagai tempat berkumpul masyarakat mendorong terjadinya konflik berbagai kepentingan yang tidak dapat dihindarkan. Konflik utama di kawasan Alun-alun Pekalongan adalah konflik antara peruntukan dengan pemanfaatannya, dimana peruntukan Alun-alun ditetapkan dalam RDTRK Pekalongan tahun 2003 - 2013 sebagai zona Open Space (ruang terbuka kota) yaitu kawasan ruang terbuka hijau yang berupa taman yang juga merupakan tempat bermain anak-anak / rekreasi dan berolahraga sekaligus sebagai paru-paru kota (taman kota), tetapi dalam pemanfaatannya untuk komersial dagang dan parkir, sehingga kinerjanya belum mencerminkan sebagai taman kota dan rekreasi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh permasalahan yang ditimbulkan oleh aktifitas / perilaku sektor informal di ruang terbuka publik berpengaruh terhadap kinerja/pemanfaatan sebuah peruntukan taman kota dan menimbulkan konflik, sehingga diperoleh langkah-langkah guna mengurangi konfliknya dan mengoptimalkan fungsi dari taman kota. Kinerja kawasan Alun-alun belum mencerminkan sebagai taman kota dan rekreasi masyarakat, dikarenakan penataan fisik dan bentuk yang kurang memberikan unsur estetika dan citra kawasan yang indah, serta banyak dijumpai gerobak dan tenda kosong PKL yang sengaja ditinggal sebagai penegasan wilayah kepemilikan (territory). Subyek penelitian berupa pengamatan terhadap aktifitas PKL dan parkir dengan menggunakan metode place centered mapping, time budget, person centered mapping dan interview yang dilakukan dari pukul 05.00 pagi hingga pukul 23.00 malam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik sektor informal sebagai pelaku konflik mengalami kepadatan aktifitas antara pukul 19.00 – 21.00 malam (dimana merupakan waktu puncak kegiatan) dan membentuk pola perletakan tersendiri (dimana terdapat pemisahan area jual antara PKL pangan dengan PKL sandang di sepanjang trotoar Alun-alun dan parkir di tepian jalan). Analisis konflik dilakukan dengan menggunakan teori atribut lingkungan Weisman dan diperoleh hasil bahwa elemen pengguna atribut lingkungan di Alun-alun tidak berjalan seimbang, sebagian besar hanya berkisar interaksi antara individual (PKL dan parkir) dan setting fisik (Alun-alun), kurangnya peranan dari organisasi (pemerintah) menjadikan peraturan peruntukan lahan tidak berjalan dengan semestinya. Sedangkan faktor-faktor penyebab terjadinya konflik meliputi beberapa hal, yaitu : adanya fungsi dominan aktifitas formal berupa komersial dagang dan perkantoran, adanya setting fisik kawasan Alun-alun yang mendukung kegiatan sektor informal, adanya ruang terbuka yang cukup luas dan ketidakseimbangan peranan antar elemen atribut lingkungan.
Public space at the city is a prominent area in its growth, that was motivated by various activities around the area. Alun-alun as people gathering space motivates several unavoidable importance conflicts. The main conflict at Alun-alun Pekalongan area were the allocation and the use conflicts, where the allocation of Alun-alun Pekalongan have decided in RDTRK Pekalongan year 2003 - 2013 as an open space zone (city open space), that is the green open space area such as Alun-alun and city park which also functioned as children playground, recreational area and sports area, all at once as city lungs (city park), but now virtually Alun-alun Pekalongan was used as trading commercials and parking space, so that the capability of Alun-alun Pekalongan had not reflected as a city park and people recreational area. The purpose of this research is to find the problems that was appeared by the activities / behaviors from informal sectors at the open space, could motivated for the used of the city park allocated and makes conflicts and also the steps to reduce the conflicts and optimilize the city park functions can be found. The capability of Alun-alun Pekalongan had not reflected as a city park and people recreational space, it was caused by the physical and shape arrangement of Alun-alun Pekalongan that do not quite give the aesthetical elements and the nice image of the area, as well as there was many carts and empty tents of the street vendors that intentionally been left at the area as a confirmation of their territory area. The subject of this research is the observation of street vendors and parking activity using the place centered mapping methods, time budget, person centered mapping and interview that been done from 5 am until 11 pm. The summary of this research was founded that informal sectors characteristics as conflict subjects experience dense activity at 7 pm to 9 am (as the peak time of their activity) and make their disposition pattern system themselves (where there was a separated trading area between foods and clothes street vendors at the length of Alunalun sidewalks and on-street parking). The conflicts analysis used Weisman’s atribute of environment theory and founded that the elements of atribute environment’s subjects at Alun-alun was not equally going on, most of just the interaction between individuals (street vendors and parking) and physical setting (Alun-alun). Less of organizational participations (government) makes the area allocation regulations did not going on properly. While the conflicts motive factors include several things: formal activities dominant function as trading commercials and office complex, the physical setting of Alun-alun Pekalongan that supports informal sectors activities, a quite large open space and unbalance participations between atribute environment’s elements.
Kata Kunci : Ruang Publik Kota,Sektor Informasl,Konflik, Urban space, informal sectors, conflicts, atribute of environment