Kajian kenyamanan termal dalam ruang Masjid Pathok Negoro Yogyakarta
INDRAYADI, Dr.Ing.Ir. E. Pradipto
2006 | Tesis | S2 Teknik ArsitekturMasjid dengan fungsi utamanya sebagai tempat pelaksanaan sholat jum’at berjama’ah bagi ummat Islam memiliki spesifikasi yang berbeda dengan bangunan lain, yaitu bentuk susunan jama’ah yang bershaf dan rapat di belakang imam serta menghadap ke kiblat (Ka’bah di Mekkah). Ketika pelaksanaan sholat berjama’ah lima waktu dengan jumlah jama’ah yang tidak terlalu banyak umumnya kenyamanan termal dalam ruang dapat tercapai. Namun ketika kapasitas ruang penuh (pelaksanaan sholat jum’at) tingkat kenyamanan termal menjadi menurun, karena terjadi akumulasi panas yang ditimbulkan oleh tubuh. Pada saat itu dibutuhkan adanya aliran udara untuk membuang udara yang panas dan pengap di dalam ruangan dengan udara yang lebih segar dari luar ruangan. Masjid Pathok Negoro Yogyakarta terdiri dari Masjid Mlangi, Masjid Plosokuning, Masjid Babadan dan Masjid Dongkelan, merupakan masjid lingkungan yang didirikan pada masa kerajaan Yogyakarta. Awalnya masjidmasjid ini bentuknya hampir sama, seiring berjalannya waktu telah mengalami perubahan, sehingga memiliki perbedaan dari segi bentuk dan konstruksi. Perubahan ini juga berpengaruh terhadap pencapaian kenyamanan termal dalam ruang masjid. Penelitian ini bertujuan memetakan kenyamanan termal dalam ruang dan mengetahui pengaruh bentuk dan konstruksi bangunan terhadap kenyamanan termal dalam ruang. Dari hasil pengukuran terhadap iklim di lapangan dan hasil simulasi menggunakan Program CFD (Computational Fluid Dynamic) serta penghitungan kenyamanan termal menggunakan Program ASHARE Thermal Comfort menunjukkan Masjid Mlangi memiliki tingkat kenyamanan termal paling baik dengan skala PMV 2,04 dan PDD 86% atau kondisi “hangatâ€.
Mosques that bear a primary function of holding the Friday assembled ritual prayer (sholat) for the Moslems, have a distinctive specification which distinguish them from general constructions. The distinction is due to the arrangement of the congregation which is concentrated behind the ritual leader (imam) and the direction of Mecca (kiblat). When holding a Friday ritual prayer with moderate number of assembly the thermal comfort level will usually be acceptable. However, when the Mosque is full, the thermal comfort level decreases due to the accumulation of body heat. At this time, a circulation of air is needed to replace the hot and close air inside the room with fresh air from outside. The Pathok Negoro Mosque in Yogyakarta which consists of Mlangi Mosque, Plosokuning Mosque, Babadan Mosque, and Dongkelan Mosque, is a society Mosque built on the age of the Yogyakarta kingdom. The mosques used to have similar shape, but time changed the construction and the shape of these mosques. This change also alters the thermal comfort achievement in the mosques. The purpose of this study is to map the room thermal comfort and to determine the effect of shape and construction of a building to the room thermal comfort. The field climate measurement and the simulation using CFD (Computational Fluid Dynamic) program as well as the measurement of thermal comfort using the ASHARE Thermal Comfort program show that the Mlangi mosque has the best thermal comfort level with PMV scale of 2.04 and 86% PPD or in the “warm" condition.
Kata Kunci : Masjid,Kenyamanan Termal,Masjid Pathok Negoro Yogyakarta, Friday assembled ritual prayer, the Pathok Negoro Mosque, shape and construction, thermal comfort