Laporkan Masalah

Perspektif perempuan terhadap otoritas laki-laki di bidang produksi dan reproduksi dalam komunitas pedesaaan Batak Toba

MUNTE, Masda, Dr. Janianton Damanik

2006 | Tesis | S2 Sosiologi (Kebijakan dan Kesejahteraan Sosial)

Secara garis besar penelitian ini menjelaskan mengenai perspektif perempuan terhadap otoritas kaum laki-laki di daerah Batak Toba. Mengingat budaya masyarakat Batak Toba pada umumnya mengacu pada Dalihan Na Tolu (Tungku Nan Tiga) sehingga menempatkan laki-laki lebih tinggi jika dibandingkan dengan kaum perempuan. Konsekwensi yang terjadi adalah bahwa kaum perempuan menjadi lebih terpinggirkan. Pada asimsi yang demikianlah penelitian tentang perspektif perempuan terhadap laki- laki ini dilaksanakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perspektif perempuan terhadap laki-laki dan apakah ada upaya yang dilakukan oleh perempuan untuk meminimalkan otoritas laki-laki dalam bidang produksi dan reproduksi. Penelitian ini menggunakan perspektif gender sebagai kerangka berpikirnya. Oleh sebab itu penelitian ini merupakan penelitian studi kasus dengan perempuan Desa Batak Toba sebagai unit analisisnya. Tehnik pengumpulan data menggunakan tehnik pengamatan, dokumentasi dan wawancara secara mendalam. Sedangkan datanya diolah atau dianalisa secara kualitatif yaitu dengan menggunakan pemaparan secara diskriptif dan interpretatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: Pertama, biarpun diberbagai belahan bumi pengakuan atas kesamaan kemanusiaan tampak mengalami peningkatan yang signifikan. Pengakuan ini juga berlaku atas kemampuan kaum perempuan sebagai manusia yang memiliki potensi sejajar dengan kaum laki- laki, namun kesetaraan dalam otoritas antarmanusia belum mencapai tahap ideal, khususnya di daerah pedesaan Batak Toba. Dalam masyarakat Batak Toba, masih banyak dijumpai tindakan ketidakadilan yang menimpa kaum perempuan. Kedua, kaum perempuan Batak Toba merupakan salah satu kaum yang tersisih serta masih mengalami subordisasi, diskriminasi bahkan kekerasan baik dari segi fisiklahiriah maupun psikisbatiniah. Tindakan yang tidak berpihak pada kaum perempuan terjadi khususnya dalam bidang produksi dan reproduksi, yakni dari pribadi, keluarga (suami), tempat kerja dan masyarakat. Ketiga, penderitaan dan ketidakadilan yang masih dialami oleh kaum perempuan Batak Toba merupakan kenyataan dari peneguhan budaya masyarakat yang memberikan peluang besar kepada kaum laki-laki untuk memiliki otoritas. Peneguhan yang membuat perempuan makin terpinggirkan dilegitimasi oleh tradisi, budaya, adat istiadat, peraturan dan agama yang berlaku. Keempat, ketimpangan ini diwariskan dari generasi ke generasi oleh budaya otoritas, yaitu patriarki. Kenyataan ini sering kali menempatkan kaum perempuan Batak Toba dalam posisi lemah dan dilemahkan dan akhirnya kaum perempuan makin terpinggirkan. Keterpurukan posisi kaum perempuan telah mematikan potensi dan kemampuannya sebagai manusia yang harus dihargai.

The core of this research highlights the Bataknese women’s perspective upon the greater authority of men. In Toba Bataknese culture, refering to Dalihan Na Tolu (Three furnaces), men are highly superior to women. The consequence of this is that woman are then marginalized. It is based on this assumption that this research is carried out. This research is aimed at undestanding how the women’s perspective toward men and to know whether women have made efforts to minimize men’s authorities in the fields of production and reproduction. Hence, this research takes the form of a framework of gender perspective and is, terefore, a case-study upon women in Batak Toba as the analysis unit. The technique of gathering the data is by profound and close observation, documentation and interviews. The data are then qualitatively analyzed through descriptive and interpretative methods. The research outcome shows that: First, eventhough across almost all countries in the hemisphere, the acknowledgement of the equality of rights has significantly increased and this also works on the rights and abilities of women who have parallel potency to men. However, as human beings, the equality of rights has not come to its ideal level, especially in the rural areas in Batak Toba. In the community of Batak Toba, injustice against women is still easily found. Second, women are still physically and psychologically marginalized, subordinated, discriminated and violated. Actions agains women take place, especially in the cases of production and reproduction emergins from thmselves, family (husbands), workplace and the community. Third, it is still a matter of fact that women still undergo sufferings and injustice. The fact also comes from the cultural enforcement from the community that provides men with greater authorities. Even the tradition, culture, mores, rules and religion uplift the legitimacy of the marginalization of women as if inherited from one genertion to another–called patriarchy. All of these weaken the women’s position and may create further marginalization. The defeat of women has extinguished their power and abilities, undermining their personal values.

Kata Kunci : Masyarakat Batak, Otoritas Laki,laki, Perempuan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.