Orang Cina di Bandung 1930-1960 :: Siasat etnis Cina di Bandung dalam menghadapi kebijakan penguasa
SKOBER, Tanti Restiasih, Dr. Harlem Siahaan
2006 | Tesis | S2 SejarahTesis ini mencoba menngungkap kehidupan orang Cina di Bandung selama periode 1930 sampai dengan 1960. Sebuah harapan akan adanya benang merah dari kebijakan pemerintah terhadap orang Cina di Bandung, serta bagaimana mereka bisa tetap bertahan hidup terhadap tekanan ekonomi, politik, dan sosial budaya. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode sejarah. Adapun tahapan-tahapan metode sejarah tersebut adalah heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Adaptasi atau lebih sederhananya dalam penelitian ini memakai istilah “siasatâ€, adalah usaha untuk tetap menjalankan eksistensi bukan hanya kodrat sebagai manusia yang terus hidup, juga tetap mempertahankan eksistensi sosio-kultural. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa terdapat kebijakankebijakan yang diterapkan oleh pemerintah terhadap orang Cina di Bandung yang pada sisi tertentu tidak menguntungkan bagi orang Cina di Bandung. Hal inilah yang membuat orang Cina sebagai minoritas melakukan siasat-siasat tertentu untuk dapat bertahan hidup. Dalam bidang ekonomi, pada masa Hindia Belanda, Cina Mindring, ternyata cukup banyak ditemukan di Bandung. Kemudian, pada masa Pendudukan Jepang, terdapat Kumiai yang cukup besar di Bandung. Akan tetapi, ternyata juga ditemukan perdagangan gula ilegal pada masa revolusi. Dalam bidang politik, pada tiga masa pemerintahan, muncul organisasi-organisasi politik, yang memperjuangkan hak mereka sebagai warga negara. Dalam bidang budaya, orang Cina di Bandung berusaha beradaptasi dengan berbagai cara. Antara lain melalui pendidikan dan berusaha lebih dekat dengan pribumi melalui penggunaan bahasa Sunda dalam berinteraksi dengan pribumi. Mengarungi ruang dan waktu, dalam memetakan kehidupan sosio-kultural sejarah orang Cina di Bandung, tentunya menampilkan faktor eksternal yang dapat mempengaruhi adaptasi etnis Cina. Lantas akan muncul kebijakan pemerintah yang terkadang tidak berpihak, kalaupun ada keberpihakan tentunya hanya menghadirkan catatan dikotomi. Dan yang menjadi penting adalah tekanan dari komunitas masyarakat. Bahwa dikotomi mayoritas dan minoritas maupun penguasa dan yang dikuasai menghasilkan siasat etnis Cina.
The thesis tries to reveal the life of Chinese community in Bandung during period 1930 to 1960 that focuses on two questions, i.e. whether or not there is the red thread of governmental policies on the Chinese in Bandung and how they had still survived in economic, political, dan social-cultural pressures. The research uses a historical method and the stages of the method are heuristic, criticism, interpretation, and historiography. Adaptation or what the research call more simply “strategyâ€, is an effort to actually undergo the existence not only due to the fate as human being that will continuously survive, but rather to survive the socio-cultural existence. The result of the research indicates that there had been policies applied by governments to the Chinese community in Bandung that in certain aspect had really inflicted harm for them. It is the fact that had encouraged the Chinese as minority enforced certain strategies to survive. In economic, at the period of colonial Dutch, Cina Mindring can actually be found in Bandung. At the period of Japan occupation, a large enough community of Kumiai had lived in Bandung. But, at the period of revolution, they had been involved in illegal sugar trades. In politics, at the three periods of governments, various political organization had established to struggle for their human rights as citizen. In socio-cultural life, the Chinese in Bandung had tried to adapt by using any ways, including through education. Tried to be closer with indigenes through the use of Sundanese in any interaction with them. By studying the history, in mapping the historical socio-cultural life of the Chinese in Bandung, it clearly appears that there are external factors affecting the Chinese ethnic adaptation. At the context, many policies had been determined by the three different governments that had at times not benefited them. If there are any policies benefiting them, a dichotomy clearly appears behind the policies due to the pressures of majority. The dichotomy i.e. that of majority and minority or of the ruler and the ruled is the main cause for the Chinese ethnic strategy taken.
Kata Kunci : Sejarah Indonesia,Komunitas Cina,Bandung 1930,1960,Kebijakan Penguasa