Tanah Sende dan dinamika sosial ekonomi petani :: Studi kasus di Yogyakarta pada awal abad XX
HASTUTI, Tiwuk Kusuma, Prof.Dr. Suhartono
2006 | Tesis | S2 SejarahTanah dan pola pemilikannya bagi masyarakat pedesaan merupakan suatu faktor yang krusial bagi perkembangan kehidupan sosial, ekonomi, dan politik masing-masing warga desa. Hal tersebut menyebabkan petani tidak ingin melepaskan tanahnya (jual lepas) karena memiliki tanah berarti mempunyai kedudukan sosial tertentu dalam masyarakat. Transaksi tanah sende terjadi karena pemilik tanah memerlukan uang tetapi tidak ingin melepaskan tanahnya untuk selama-lamanya. Dengan transaksi tanah sende, pemilik tanah tidak akan kehilangan status sosialnya sebagai pemilik tanah, sebab meskipun tanahnya dijual secara sende terus-menerus, statusnya sebagai pemilik tetap dihormati. Maka dengan menggadaikan tanah di satu pihak kebutuhan yang sangat mendesak akan uang kontan dapat dipenuhi dengan mudah tanpa melepaskan tanah untuk selama-lamanya karena sewaktu-waktu dapat ditebus. Di lain pihak pemilik tanah masih dapat menggarap tanah sebagai buruh upahan atau penyakap, sehingga masih mempunyai penghasilan untuk menopang hidupnya. Dalam hal demikian ia masih merasa sebagai seorang petani, karena masih ikut bertanggung jawab atas pekerjaannya. Selain itu petani juga masih dapat aktif dalam proses pengambilan keputusan desa sebab secara de yure masih sebagai pemilik tanah meski secara de facto tidak menguasai tanah. Bagi pemilik modal, landasan untuk membeli sende yang selalu ada ialah bahwa si calon penjual sudah dikenal betul dan pembeli tanah percaya bahwa uang yang diserahkan akan dikembalikan secara utuh. Dengan membeli tanah sende, maka pemilik modal akan mendapatkan keuntungan sebagai bunga tanah, yaitu hak pakai, sehingga dapat meningkatkan penghasilannya. Pemilik modal pun tidak akan menderita rugi, meskipun mengalami kegagalan panen, karena uangnya akan kembali secara utuh. Adanya pandangan kemasyarakatan, bahwa pemilikan tanah dapat berarti peningkatan kedudukan sosial, menyebabkan pemilik modal berusaha keras untuk mendapatkan tanah meskipun hanya untuk sementara waktu. Transaksi tanah sende juga memberikan keuntungan tidak langsung kepada pemilik modal, misalnya pemanfaatan ternak, waktu dan tenaga kerja yang ada secara baik. Cukup banyak petani yang sukses dalam memperkembangkan usaha taninya melalui sende atau gadai tanah. Karena dengan jumlah modal yang sama besarnya ia tidak akan memperoleh tanah yasan yang sama luasnya dengan tanah garapan yang diperolehnya dari sende. Lazimnya harga dalam gadai tanah lebih rendah jika dibanding dengan pembelian tanah yasan. Sehingga pemilik modal mempunyai keuntungan karena tidak memerlukan modal yang besar untuk pembelian tanah dan modal lainnya dapat digunakan untuk biaya pengelolaan secara intensif. Transaksi tanah sende di Yogyakarta telah menimbulkan perubahan sosial dalam masyarakat. Transaksi tanah sende telah menimbulkan mobilitas pekerja di sektor pertanian. Petani yang telah kehilangan tanahnya kemudian bekerja sebagai buruh upahan dan bekerja di sektor nonpertanian. Transaksi tanah sende telah menyebabkan terjadinya mobilitas sosial dalam penguasaan tanah. Mobilitas ini meliputi semua lapisan. Petani kecil banyak yang kehilangan tanah dan menjadi tunakisma buruh upahan. Di sisi lain pemilik modal yang dulunya tidak mempunyai tanah dapat mengumpulkan modal untuk membeli tanah secara sende. Transaksi tanah sende juga mengakibatkan perubahan dalam sistem agraria, misalnya dalam aspek produksi terjadi perubahan dari sistem produksi yang ditundukkan kepada nilai-nilai tradisional menjadi sistem produksi komersial
Land and its ownership pattern is a crucial factor for most people who live in village. Both can affect the life development of villager whether it is in social, economic or politic aspect as well. That is the reason why landowner want to keep their land foor good, if it is possible. It prevails even when the landowner faces the difficult finen situation. Sende transaction happens when the landowner needs money but he still wants to possess his land. By doing the transaction, the landowner will not give his social status away. He can overcome the difficult finen situation and at the same time still get respect as the owner the land even the land is sustainably sold. Sende offers the landowner secure feeling that he is able to redeem his land at any time. Moreover, the landowner still has the earning from the land by cultivating it as casual worker or hired farmer. Thus, the landowner feels as the farmer still, for he takes the responsibility in cultivating the land. He also takes a part in village decision making process. It is because de jure he is the landowner although de facto he does not possess it. There are some reasons why the financier is willing to buy land through sende transaction. First is that the financier has known the seller well. Second is the financier’s conviction that his money will be returned fully. The financier will also receive some advantages such as the make use of land which will increase the financierâ€s income. Even when the harvest is not good, he will not suffer from a loss because he will receive his money back fully. The belief in society that the land ownership will heighthen the social status is the other reason why the financier tries hard to possess the land. Eventhough it is for temporary. Further, sende also offers indirect advantages like the make use of cattle, labour and time. The number of farmer (as financier) who are more successful through sende in developing their cultivation are quite a lot. It is because the price for pawn land is cheaper. The financier will not get the land as wide as the land he buy through sende with the same price. Thus, the financier does not need great capital to buy the land which allow him to support management expenses more intensively. Sende transaction occurred in Yogyakarta causes social changes in society. In agriculture field, it creates worker mobility. The farmer who sell and lose his land will work as hired farmer or may work in non-agriculture field. Most peasants use money from sende transaction to migrate in order to look for jobs. Sende transaction also causes social mobility in land ownership. The mobility covers all layer in society like small farmer and financier. The small farmer who lose his land will be the hired farmer. On the order side, the financier who does not have the land before is able to collect money to buy sende. Sende also changes agrarian system for example traditional production system become commercial production system.
Kata Kunci : Sejarah Indonesia,Petani Awal Abad XX,Tanah Sende dan Dinamika Sosial