Laporkan Masalah

Nyai Dasima karya Rahmat Ali :: Kajian intertekstual

SUNGKOWATI, Yulitin, Prof.Dr. Rachmat Djoko Pradopo

2006 | Tesis | S2 Sastra

Novel Nyai Dasima (ND) karya Rahmat Ali (RA), yang diterbitkan oleh Grasindo pada tahun 2000, merupakan karya sastra yang ditulis berdasarkan cerita yang sudah ada sebelumnya. G. Francis dianggap sebagai orang yang pertama kali mempopulerkan kisah ini melalui karyanya, Tjerita Njai Dasima (TND), yang diterbitkan di Batavia pada tahun 1896 sehingga karya G. Francis selalu dijadikan rujukkan oleh para peneliti. Oleh karena itu, TND dipilih sebagai hipogram. Tidak sedikit orang yang menganggap karya itu sebagai kisah nyata sehingga versi yang berbeda dengannya dianggap salah. Mengingat karya sastra merupakan gambaran kehidupan yang sudah melalui seleksi dan abstraksi oleh pengarang, ND dan TND sebagai karya sastra tidak dapat dikatakan sebagai dokumen sosial yang berisi kisah nyata. ND yang berbeda dengan TND bukan kesalahan, tetapi merupakan dialog antarteks atau interteks dengan TND. Oleh karena itu, ND perlu dikaji untuk mengungkap hubungan intertekstualnya dengan TND yang menjadi hipogramnya. Untuk mencapai tujuan itu, digunakan teori intertekstual dengan dukungan teori filologi, struktur, dan resepsi. Penelitian ini menunjukkan bahwa ND merupakan reaksi terhadap TND dalam hal gaya bahasa, plot, penokohan, latar, dan tema. TND yang menggunakan bahasa Melayu Rendah ditentang ND dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai media ekspresinya. Plot ND mengikuti plot TND. Akan tetapi, kecuali episode godaan, ND memperluas atau melakukan ekspansi dari teks hipogramnya. Unsur anti-Islam dan anti-pribumi dalam episode itu dihilangkan. Homogenitas manusia yang dalam TND diwujudkan melalui konstruksi tokoh-tokoh yang didasarkan pada agama dan ras ditentang ND dengan menghadirkan karakter tokoh yang dibangun atas dasar sifat manusia terlepas dari agama dan rasnya. ND memperlihatkan bahwa identitas itu cair dan dapat dinegosiasikan. Dalam hal tema, ND mengukuhkan nasib perempuan sebagai korban yang ada dalam TND, tetapi ND menentang alasan yang melatarinya. Selain bermakna agama dan ras, terdapat makna lain, yaitu berkaitan dengan perempuan. Islam bukan masalah, tetapi solusi untuk hidup selamat. Ras pribumi juga tidak lebih rendah dari ras Eropa. ND ditulis oleh pengarang yang memiliki latar belakang pengalaman dan hidup di zaman yang berbeda dengan TND. G. Francis sebagai bagian bangsa kolonial diduga memiliki kepentingan untuk ikut melanggengkan hegemoni kekuasaan kolonial, sedangkan RA hidup di era kemerdekaan dengan kondisi bangsa yang terpuruk akibat berbagai krisis dan guncangan kerusuhan bernuansa SARA. Oleh karena itu, ND menentang persoalan ras dan agama atau persoalan SARA yang ada dalam TND. RA tampaknya ingin mengajak manusia Indonesia untuk menghargai manusia sebagai manusia terlepas dari agama dan rasnya.

Rahmat Ali’s Nyai Dasima (ND) published by Grasindo in 2000 was written based on a previously existing literary work, i.e., G. Francis’s Tjerita Njai Dasima (TND) published in Batavia in 1896. The public consider TND a true story such that any other form of work deviating it will be considered wrong. Regarding that literary work is a picture of real life after going through selection and abstraction by author, neither ND nor TND as literary works can be considered as social documents containing true story. The difference of ND from TND is not wrong, rather, it shows an intertext dialogue with TND. Therefore, ND needs a study to reveal its intertextual relation with TND which serves as its hypogram. It applies intertextual theory supported with philological, structural, and receptive theories in order to achieve this goal. The research shows that ND has an intertextual relation with TND in the form of opposition and continuation as identified from the style, plot, character, setting, and theme. ND does not have a different plot from TND, i.e., divided into eight episodes. However, except the temptation episode, ND expands the hypogram. The anti-Islam and anti-indigenous elements in this episode are deleted. Human homogeneity manifested in TND through the construction of characters built on religion and race is opposed by ND by presenting the character built on human basic nature that is free from any religion and race. ND poses how identity is dissolved and negotiable. In terms of the theme, ND strengthens woman’s fate as a victim as depicted in TND, but opposes the background reason in TND. Apart from the religion and race related meaning, it also relates to woman. Islam is not a problem, but a solution to lead a safe life. Neither is indigenous man inferior to European race. The different background of the authors and settings of time are accountable for the difference of ND from the hypogram. G. Francis as a member of the colonial society has a vested interest to preserve the hegemony of colonial rule, while Rahmat Ali who lives in the era of independence but paralyzed by crises and conflicts related to religion, religion, and ethinic creates a picture about appreciation for human free from religion and race.

Kata Kunci : Sastra Indonesia,Novel Nyai Dasima,Intertekstual,intertextual, hypogram, reaction, meaning


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.