Laporkan Masalah

Citra kuasa perempuan Jawa dalam Novel Perempuan Jogja dan Maruti, Jerit Hati Seorang Penari karya Achmad Munif

RAHMAWATI, Dian, Prof.Dr. Siti Chamamah Soeratno

2007 | Tesis | S2 Sastra

Perempuan Jawa, sering di-stereotype-kan sebagai warga kelas dua yang berfungsi hanya sebagai pelengkap atau konco wingking, juga dipandang sebagai sosok yang selalu mengalah, pasrah, pasif, nrimo, dengan prinsip hidup swarga nunut neraka katut . Karena sikap dan sifat mereka yang semacam itulah, maka sering terjadi kekerasan atas diri mereka. Selain itu, perempuan sampai saat ini dianggap sebagai penggoda, Sedangkan antara perempuan dan laki- laki memiliki potensi dan kesempatan yang sama untuk menggoda dan tergoda. Dengan pengertian kuasa adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi sikap, pola pikir, dan perilaku orang lain, maka sesungguhnya di balik sifat yang dilekatkan masyarakat atas dirinya, perempuan Jawa memiliki suatu bentuk kuasa yang mereka gunakan bukan hanya untuk kepentingan mereka sendiri, tetapi juga bagi kepentingan orang-orang di sekitarnya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teori sosiologi sastra, bahwa karya satra merupakan refleksi masyarakat, dan metode dekonstruksi untuk membongkar pemahaman baku masyarakat bahwa perempuan adalah warga kelas dua yang tidak memiliki hak yang setara dengan laki-laki, dengan tujuan untuk memberikan suatu gambaran tentang kuasa yang dimiliki perempuan Jawa melalui novel Perempuan Jogja dan Maruti, Jerit Hati Seorang Penari karya Achmad Munif. Dari kedua novel itu dapat dilihat bahwa perempuan Jawa memiliki bentuk-bentuk kekuasaan yang diterapkan atas diri pribadi, keluarga, dan masyarakat sekitar.

Javanese women who considered as a give in, surrender, and nrimo, oftently stereotyped as a complementary for their man, which known as konco wingking, with famous principle of live swarga nunut, neraka katut (they came with their husband, no matter where he goes). Women also considered as a seducer (while in fact that men has same potential to them) and violence ofently come because their attitude and nature. Sociologically, definition of power was someone ability to influencing other’s attitude, behaviour, and way of live. According to the definition, Javanese women have a big power to change something bad to the good one, not only for themselves, but for everybody. This research used literature sociology to see that literature was a reflective of society, and deconstruction method to deconstruct standard society understanding that women were second-class citizen that has in equivalent rights to the men. By the novel we can figure out abuot the image of Javanese-women power to themselves,their family, and to the society.

Kata Kunci : Novel Indonesia,Citra uasa,Perempuan Jawa,power, Javanese women, sociology of literature, deconstruction


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.