Laporkan Masalah

Pemanfaatan penginderaan jauh dan Sistem Informasi geografis dalam pemodelan konsolidasi lahan perkotaan :: Studi di sebagian kota Salatiga

FERYANDI, Faus Tinus Handi, Prof.Dr. Dulbahri

2006 | Tesis | S2 Penginderaan Jauh

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Sidomukti dan Argomulyo, Kota Salatiga. Keberadaan permukiman kumuh dan maraknya perubahan lahan belum terbangun menjadi permukiman menuntut suatu perencanaan dan penataan kawasan komprehensif yang salah satu alternatifnya adalah konsolidasi lahan perkotaan (KLP). Citra Quickbird dan sistem informasi geografis (SIG) dapat diaplikasikan untuk mendukung pelaksanaan KLP. Tujuan penelitian adalah (1) mengkaji ketelitian citra Quickbird dalam menyediakan informasi-informasi lahan kekotaan, dan (2) pemodelan lokasi prioritas dan desain blok KLP dengan bantuan SIG. Cara penelitian merupakan gabungan teknik interpretasi visual citra Quickbird beserta uji ketelitiannya, survai lapangan, analisis dan pengolahan data geografis. Interpretasi dilakukan untuk mendapatkan penggunaan lahan dan parameter kualitas permukiman. Survai lapangan dilakukan untuk mendapatkan parameter lingkungan pemukiman. Analisis dan pengolahan data menggunakan SIG dilakukan untuk mendapatkan variabel kualitas lingkungan permukiman, potensi lahan belum terbangun, kesesuaian pemanfaatan ruang wilayah dan ketersediaan infrastruktur jalan, guna menentukan sebaran lokasi prioritas; serta karakteristik, aksesibilitas dan penggunaan lahan persil, guna memperoleh nilai lahan persil pada lokasi prioritas terpilih. Hasil pertama penelitian menunjukkan bahwa untuk kategori pemanfaatan bersifat non metrik, citra Quickbird dapat digunakan sebagai sumber data primer bagi pekerjaan konsolidasi lahan perkotaan. Pada uji ketelitian hasil interpretasi dan pemetaan, diperoleh ketelitian sebesar 90% dan 79,05% untuk parameter penggunaan lahan, 83,12% dan 75,15% untuk parameter kepadatan bangunan, 88,68% dan 81,64% untuk parameter ukuran bangunan, serta 86,61% dan 70,61% untuk parameter jenis bangunan. Pada uji ketelitian ukuran jarak, standar toleransi kesalahan untuk skala 1: 5.000 dipenuhi, yakni di bawah 2,5 m. Hasil kedua memperlihatkan bahwa di lokasi penelitian, berdasarkan model analog peta sebaran lokasi prioritas terdapat lima kelas lokasi prioritas (LP), yakni LP 1, LP 2, LP 3, LP 4, dan lokasi tidak diproritaskan (LTP). Selain itu, berdasarkan pemodelan berbasis nilai persil lahan, serta menggunakan perhitungan perimbangan rasio antara nilai dan luas persil untuk mendapatkan kontribusi lahan, dapat diperoleh model desain blok berupa layout grid persil yang menonjolkan aksesibilitas. Model pada lokasi terpilih tersebut terdiri dari 3 lot, 34 blok, 293 persil, serta 75 bidang kontribusi lahan.

The research was carried out in Sidomukti and Argomulyo Sub District, Salatiga Municipality. The increasing number of vacant land conversion and the existence of slum areas demanded a comprehensive regional design and planning. One strategy could be implemented was urban land consolidation (ULC). Quickbird imagery and Geographical Information System (GIS) can be applied for supporting ULC work. The objectives of research were (1) to evaluate the Quickbird imagery accuracy-capability to provide urban land information in correlation with ULC, and (2) to model the priority locations and block design by assistance from Geographical Information System (GIS). The method of research was the combination among visual interpretation technique therewith accuracy assessment, field survey, data processing and analysis GIS-based, and qualitative analysis. Interpretation was conducted to acquire land use and settlement quality parameters while field survey for environment parameter. Data processing and analysis were aimed for procuring settlement environment quality, vacant land potency, the suitability of land-space planning use, and the availability of road infrastructure variable – which all applied to map priority location. Parcel characteristic, accessibility, and land use parameter were analyzed to model land parcel value. The first result pointed out that Quickbird imagery was reliable as a primary data for non metric use in ULC. From interpretation and mapping accuracy assessment, the result indicated that for land use the accuracy reached 90% and 79.05%, for house building orderliness it reached 83.12% and 75.15%, for house building size it achieved 88.68% and 81.64%, for house building type it achieved 86.61% and 70.61%. Moreover, for distance accuracy assessment the result showed that the minimum standard of error tolerance for map scale 1:5.000 was compiled with, that was under 2.5 m. The second result showed that in the research area, there were five priority location classes (LP) for ULC namely LP 1, LP 2, LP 3, LP 4, and no priority area (LTP). Besides, by land value based approach and ratio calculation between parcel value and size to obtain land contribution, block design could be arranged following layout grid model which emphasized accessibility. It consisted of 3 lots, 34 blocks, 293 parcels, and 75 land-contribution parcels.

Kata Kunci : Sistem Informasi Geografis dan Penginderaan Jauh, Konsolidasi Lahan Perkotaan, Quickbird imagery, GIS, urban land consolidation.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.