Laporkan Masalah

Mencari model integrasi sains dan agama :: Studi perbandingan pemikiran John F. Haught dan Mehdi Golshani dan relevansinya dengan gagasan integrasi UIN Sunan Kalijaga menurut Amin Abdullah

YUSUF, Wahyudi Irwan, Dr. Zainal Abidin Bagir

2006 | Tesis | S2 Ilmu Perbandingan Agama

Tujuan tesis ini adalah untuk menemukan model integrasi yang mampu menyatukan sains dan agama dan untuk memperkaya wacana integrasi keilmuan di Indonesia, khususnya dalam sistem pendidikan. Untuk bisa menemukan model yang tepat, model integrasi John F. Haugh dan Mehdi Golshani dijadikan sebagai sumber utama sekaligus sebagai objek penelitian. Pemikiran keduanya digunakan sebagai model untuk menganalisa gagasan integrasi Uinversitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Karena banyak pemikir yang terlibat dalam integrasi UIN Sunan Kalijaga, untuk membatasi penelitian, tawaran Amin Abdullah akan menjadi fokus utama. Penelitian ini akan diarahkan oleh beberapa pertanyaan, antara lain: 1. Landasan apakah yang digunakan Haught maupun Golshani sebagai titik tumpu untuk bisa mengintegrasikan sains dan agama? 2. Sejauh manakah agama mengambil posisi dalam teologi evolusi (theology of evolution) maupun sains Islam (Islamic science)? Adakah perubahan-perubahan siginifikan terkait dengan doktrin agama (teologi)? Dan 3. Bagaimanakah relevansi pemikiran integrasi Golshani dan Haught dalam melihat pola integrasi keilmuan (ilmu umum dan agama) di UIN Sunan Kalijaga? Langkah yang ditempuh untuk mengetahui secara rinci model integrasi adalah dengan membongkar integrasi Haught dan Golshani yang terbagi atas: respon agama terhadap sains, landasan integrasi, dan bentuk integrasi. Haught menempatkan agama sebagai media konfirmasi sains dan untuk mendukung itu, ia menempatkan “iman” bahwa semesta mempunyai hukum alam sebagai landasan sains. Secara khusus, Haught menempatkan teori evolusi sebagai teori yang paling penting untuk disikapi, oleh sebab itu ia manawarkan teologi evolusi sebagai bentuk integrasi. Dengan teologi evolusi, teologi menjadi bangunan yang aktif dan kreatif. Sedangkan Golshani menempatkan agama sebagai entitas yang telah baku. Dalam integrasi ia menempatkan praduga metafisis sebagai basis sains. Baginya, keberadaan sains sangat bergantung pada kerangka metafisis saintis yang memberi arah bagaimana menginterpretasi data ilmiah. Dalam proses interpretasi tersebut, munculnya metafisika yang berakar pada nilai keislaman sangat penting, oleh sebab itu ia mengajukan sains Islam sebagai bentuk integrasi. Integrasi Amin Abdullah cenderung diantara Haught dan Golshani. Ia tidak terlalu liberal dan juga tidak konservatif dalam menempatkan agama. Dalam kerangka pengembangan keilmuan ia sejalan dengan Golshani untuk tidak melakukan islamisasi pengetahuan.

The aim of the thesis is to find integration model, which convinces that science and religion can be integrated each other, and to enrich the relational discourse of science (knowledge) and religion in Indonesia, particularly in educational system. In finding integration model, John F. Haught and Mehdi Golshani proposals are the main resources and become the object of study. Their proposals will be used as a model to analyze integration concept of State Islamic University (UIN) Sunan Kalijaga. Even there are other scholars who have the same contribution to UIN Sunan Kalijaga, to limit the study, the research focuses on Amin Abdullah’s proposal. The research will be guided by several questions: 1. What is the basis integration of Haught and Golshani in grounding the nexus of science and religion? 2. How far religion takes a position in theology of evolution and Islamic science? And is there any changes related to doctrinal theology? And 3. How is the relevance of Haught’s and Golshani’s integration model related to the concept integration of State Islamic University (UIN) Sunan Kalijaga? To understand integration model in detail, the research will be done by take apart Haught and Golshani views about: religion respond toward science, the basis of integration, and the form of integration. Haught takes religion as a confirmation to science. Then, he takes “faith” that the universe has a natural order as the basis of the existence of science. In addition, the form of integration he proposed is theology of evolution. He tries to interpret theory of evolution using theological dimension. The theology of evolution brings theology active and creative. While Golshani takes religion as a fix entity. To build integration he takes metaphysical presupposition as the basis of science. According to Golshani, the existence of science depends on the metaphysical framework of scientist that directs how the data should be interpreted. In the interpretation process, the occurrence of metaphysics that grounded on the Islamic worldview is very important, that is why he proposes Islamic science as the form of integration. Amin Abdullah integration tends to be at the middle of the two thinkers (Haught and Golshani). He is not too liberal by letting religion move too far (like Haught), but he also does not take religion as a passive entity (like Golshani). In developing sciences, he is in line with Golshani not to make Islamization knowledge or extracting science from al-Qur’an.

Kata Kunci : Sains dan Agama,Integrasi,UIN,Amin Abdullah,integration, metaphysics, John F. Haught, Mehdi Golshani, Amin Abdullah, theology of evolution, and Islamic science


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.