Etika bisnis di komunitas pengusaha Tionghoa Muslim Kota Yogyakarta
SHULTHONI, M, Prof.Dr. Irwan Abdullah
2006 | Tesis | S2 Ilmu Perbandingan AgamaMelihat kesuksesan komunitas Tionghoa Muslim kota Yogyakarta dalam bidang perdagangan bukan satu hal yang mengherankan. Di satu sisi, hal ini disebabkan oleh adanya peraturan pemerintah baik secara eksplisit maupun implisit yang berlaku bagi orang-orang Tionghoa di kota Yogyakarta (di Pulau Jawa umumnya) yang melarang mereka untuk bekerja selain di sektor perdagangan. Dengan demikian, mereka hanya mempunyai kesempatan untuk dapat hidup dengan berdagang, sehingga mereka curahkan semua potensi dan bakat yang mereka miliki untuk menjadi pengusaha yang profesional. Di sisi lain, kesuksesan tersebut menyatakan bahwa sekalipun pelaku bisnis melaksanakan praktek manajemen secara ilmiah, sesungguhnya mereka tidak dapat lepas dari budaya, etika, dan keyakinan agama yang mereka anut. Hal ini terjadi karena dunia bisnis adalah dunia yang sarat dengan dinamika. Bisnis tanpa etika jangka panjang tidak mungkin akan berhasil. Dunia bisnis adalah salah satu dari kegiatan manusia, betapapun pentingnya kegiatan bisnis itu, maka etika bisnis dapat dipandang sebagai refleksi atau kelanjutan etika subyek bersangkutan dalam kebulatan tingkah lakunya. Untuk mendapat gambaran yang mendalam tentang topik di atas, kajian ini bertujuan mengkaji bagaimana konstruk etika bisnis yang diterapkan oleh pengusaha Tionghoa Muslim di Kota Yogyakarta dan bagaimana agama (Islam) dan budaya Tionghoa yang bermuara pada ajaran Konfusianisme berpengaruh dalam membentuk etika bisnis tersebut. Kajian ini dilakukan dengan menggunakan teori Weber ‘spirit of capitalisme’. Penelitian ini merupakan penelitian sosiologis -antropologis --yang berlangsung sejak Oktober 2005 sampai dengan Juli 2006—dengan partisipasi aktif dalam pertemuan-pertemuan dan kegiatan sosial yang diselenggarakan oleh komunitas Tionghoa Muslim Yogyakarta. Saya mengamati kegiatan-kegiatan mereka dan mewancarai mereka guna mengetahui ide-ide di balik tingkah laku yang mereka bumikan dalam kegiatan sehari-hari. Selain itu, data-data yang berupa tulisan, berita, informasi dan semua sumb er-sumber yang berkaitan dengan objek penelitian saya manfaatkan sehingga dapat membantu dalam analisa. Melalui metode pendekatan deskriptif dan interpretatif penelitian ini berkesimpulan: pertama, pengusaha Tionghoa Muslim di kota Yogyakarta berpegang pada konstruk etika bisnis yang berupa etos kerja yang kuat dan kerja keras, pandangan hidup hemat, kejujuran, kehandalan dan kepercayaan yang semuanya diterapkan dalam tindakan dan sikap, tidak lagi dalam perkataan dan pernyataan. Konstruk tersebut berpengaruh secara lebih jelas dalam kesuksesan berkat tradisi kekeluargaan, paternalisme, solidaritas kelompok, dan jaringan sosial. Oleh karena itu, mereka benar-benar menjalankan kesadaran untuk berbisnis sepanjang hidup yang dilakukan dengan penanaman rasa kedisiplinan, rasa percaya diri, ketekunan, keteguhan untuk memegang janji, kerja keras, dan stabilitas sejak usia kecil, sehingga menginjak usia dewasa mereka mempunyai kesadaran yang sangat tinggi untuk menjalankan aktivitas bisnis mereka secara mandiri. Kedua, bagi pengusaha Tionghoa Muslim Yogyakarta, ajaran Islam terlihat mempunyai pengaruh terhadap etika bisnis yang dijalankan mereka dalam perdagangan. Hal ini ditunjukkan dengan perwujudan ajaran-ajarannya dalam tindakan nyata dan dianggap sebagai sumber progresifitas dalam kegiatan bisnis mereka. Ajaran tersebut juga dipahami atas dasar citra diri mereka sebagai pedagang dengan tetap melestarikan ajaran moral Konfusianisme yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Meskipun demikian, tidak dapat dikatakan bahwa etika tersebut hanya bersumber dari ajaran agama , akan tetapi ia berkembang seiring dengan perkembangan sosio-ekonomi, sosio-budaya, dan sosio-politik komunitas tersebut. Dengan demikian, komunitas Tionghoa Muslim Yogyakarta adalah corak komunitas yang berkuasa dalam wilayah perdagangan dan tidak marjinal –yang secara struktural adalah bagian dari masyarakat sekitarnya-- oleh karena mereka rata-rata mempunyai modal yang kuat dan memiliki paham modernis.
The success of Chinese Muslim entrepreneurs in business is a well-known fact. On one side, there are explicit or implicit regulations in Jogjakarta (Java), discouraging the ethnic Chinese from working in non-commercial sectors such as government officers, military service, and farming. Their only opportunity to make a living is business, into which they direct all their talents and potential, making them professional business people. But, on the other side, their success warrants notice that even though the businessmen run their business with scientifical management, actually they have dependence on their culture, ethics, and religious beliefs. This is because business is a mobile activity. Business without reliable ethics can not succeed reliably. If business is a kind of human activity, business ethics can be perceived as a reflection of the actors in their behaviors. To obtain a comprehensive study, I will examine the business ethics implemented by Chinese Muslim entrepreneurs of Jogjakarta –by using Weber’s theory the spirit of capitalism-- in order to achieve their success. In addition, how are the Islamic teachings – as their current religion-- and Chinese traditions transforming their business ethics. In an attempt to bring to the surface the ethics in economic activities, this study will examine the business ethics in the Chinese Muslim entrepreneurs of Jogjakarta with one period of field research from October 2005 to July 2006. This is done by means of a process –as objective as possible—of description and interpretation. As I study my primary resources (from the books, magazines, websites, and interviews), my attention is focused on the treatment of the subject, how the business ethics are articulated, and the way in which they function to observe the religious teachings and Chinese traditions (Confucianism) in business activ ities. Through descriptive and interpretative approaches, this study reached the following conclusions: firstly, the Chinese Muslim entrepreneurs of Jogjakarta are dependent on the constructs of business ethics which contain work ethos, hard work, thrift, honesty, and trust. Those characteristics are then implemented in their business activities. These constructs became a factor of their success through family system, paternalism, group solidarity, and social network. Therefore, they have awareness in implementing business ethics in order to engage in business as long as their life. They do their business with high self-discipline, self-confidence, diligence, industriousness, and hard work from the younger years in order to have high consciousness to run their business in their maturity. Secondly, it can be said that Islamic teachings, for Chinese Muslim entrepreneurs of Jogjakarta, have a significant role in constructing their business ethics. These indications can be seen in their business activities and their perceptions. Its teachings are perceived as a source of motivation in economic behaviors. Even though their business ethics cannot be said to derive from religious teachings only, but rather that such ethics progress along with the socio-cultural, socio-economic and socio-politic al developments of the community. Finally, it can be said that Chinese Muslim entrepreneurs are the community who have capability in busnies and dominate the commercial activities in urban areas. In doing so, they are not perceived as the marginal people—structurally they are a part of the society around them—and on average they have enough capital (money) and modern understanding toward their religous teachings
Kata Kunci : Etika Bisnis,Komunitas Tionghoa,PITI,Chinese Muslim-Entrepreneurs-Business Ethics