Laporkan Masalah

Pengaruh perbedaan pelarut pada penggunaan feses sapi sebagai sumber inokulum pengganti cairan rumen terhadap kecernaan in vitro produksi gas beberapa bahan pakan

SARI, Tati Vidiana, Ir. Subur Priyono Sasmito Budhi, Ph.D

2006 | Tesis | S2 Ilmu Peternakan

Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui apakah larutan feses dapat menggantikan cairan rumen sebagai sumber inokulum pada proses in vitro produksi gas. Variabel yang diamati dalam penelitian yaitu derajat keasaman (pH), konsentrasi amonia (NH3), total koloni mikrobia, produksi gas (Gb), dan kecernaan bahan organik (KBO). Proses pengambilan cairan rumen dan feses dilakukan langsung pada ternak yang dilanjutkan dengan penetapan kecernaan bahan pakan secara in vitro produksi gas yang dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, dengan menggunakan dua ekor ternak sapi Peranakan Ongole (PO) berumur 6,5 tahun, berjenis kelamin betina, mempunyai bobot 290–325 kg yang berfistula pada rumennya. Pakan pada sapi penelitian diberikan dalam dua tahap yaitu tahap pertama adalah pemberian 100% pakan tunggal berupa rumput gajah kemudian dilanjutkan tahap kedua dengan pemberian 70% rumput gajah yang ditambahkan 30% konsentrat. Bahan pakan yang diuji kecernaannya adalah jerami padi, jerami jagung, rumput gajah, dan jerami kacang tanah. Periode adaptasi dilakukan selama 15 hari, diikuti pengambilan cairan rumen dan feses langsung dari dalam rektumnya. Bahan pakan dianalisis dengan metode produksi gas (gas test). Analisis kecernaan dengan metode produksi gas ini dilakukan dua tahap. Setiap tahap terdiri dari dua ulangan sehingga merupakan rancangan split plot designs, perbedaan nyata antar perlakuan diuji lanjut dengan orthogonal polynomial contrast. Hasil penelitian menunjukkan rerata kisaran pH pada pakan tahap pertama adalah 7,51±0,12 dan pada tahap kedua adalah 6,81±0,13. Rerata konsentrasi NH3 pada pakan tahap pertama yaitu 46,14±14,29 mg/l dan 72,68±15,41 mg/l pada pakan tahap kedua. Rerata total koloni mikrobia pada ketiga sumber inokulum yaitu cairan rumen adalah 17220 x 106, feses-aquades adalah 97,72 x 106, dan feses-NaCl fisiologis adalah 176,2 x 106. Rataan produksi gas (ml/200 mg BK) dan KBO (%) pada sampel uji berturutturut yaitu jerami padi adalah 16,51 dan 31,08, jerami jagung adalah 27,44 dan 42,41, rumput gajah adalah 28,10 dan 48,56, serta jerami kacang tanah adalah 34,07 dan 53,15, mendapatkan kesimpulan bahwa penggunaan cairan rumen menghasilkan nilai Gb dan KBO yang lebih tinggi dibandingkan kedua sumber inokulum lainnya (P<0,01) dan penggunaan pakan berupa campuran rumput gajah dan konsentrat menghasilkan nilai yang lebih baik pada semua parameter yang diukur, walaupun belum dapat menyamai hasil dari cairan rumen, larutan feses dapat menggantikan cairan rumen sebagai sumber inokulum pada uji kecernaan pakan berserat secara gas test.

The aim of this research was to investigate whether cow feces could replace rumen liquor as a source of inoculant for in vitro gas production. Variable obtained in this research was acidity degree (pH), concentration of ammonia (NH3), total colony of microbia, gas production (Gb), and organic matter digestibility (KBO). Rumen liquor and feces samples were collected direct to the animal that followed by measuring the digestibility of feeds for the in vitro gas production at Laboratory Animal Nutrition Faculty Animal Science University of Gadjah Mada, using two female fistulated Ongole Crossbred, aged 6,5 years with initial body weight of 290- 325 kg. Animals were fed two phases, in the first phase was given by 100% sole feed of elephant grass, and then in the second phase was given 70% of elephant grass that added 30% of concentrate. The feed that use this experiment were straw, maize hay, elephant grass, and peanut straw. Period of adaptation was done for 15 days, followed by collected samples of rumen liquor and feces direct from their rectum. Samples then analysed with gas production method (gas test). Digestibility was done by two phase. Every phase using of two replications to perform split plot designs, followed by orthogonal polynomial contrast for significantly different treatment. The result showed that the average of pH at the first phase of feed was 7.24-7.78±0.12 and at the second phase was 6.64-7.03±0.13. Average concentration of NH3 at the first phase of feed was 46.14±14.29 mg/l and 72.68±15.41 mg/l at the second. Total average of colony microbes as source of inoculant that was from rumen liquor was 17220 x 106, feces-aquades was 97.72 x 106, and feces-normal saline was 176.2 x 106. The average of Gb (ml/200 mg BK) and KBO (%) of straw, maize hay, elephant grass, and peanut straw were 16.51 and 31.08, 27.44 and 42.41, 28.10 and 48.56, 34.07 and 53.15, respectively. It can be concluded that rumen liquor produce the higher value of Gb and KBO compared to both feces as source of inoculant ( P<0.01) and the feed elephant grass of and concentrate produced the better value at all of measured parameters, although not yet earned to come up of result from rumen liquor, feces solution can replace rumen liquor as source of inoculant on digestibility test of feed fibrous by gas test.

Kata Kunci : Ternak Ruminansia,Sapi,Feses,Cairan Rumen, Cow, Feces, Rumen Liquor, Aquades, Normal Saline, pH, NH3, Total of Colony Cellulolitic Bacteria, Gas Production, Organic Matter Digestibility


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.