Laporkan Masalah

Perbandingan efisiensi pengelola obat di Rumah Sakit Formularium dan Non Formularium :: Kajian di RS Karya Medika I Cikarang Barat dan RS Dewi Sri Karawan

SAM, Piristin Anisa, dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK

2006 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Manajemen Rumah Saki

Latar belakang: Pengelolaan obat di rumah sakit merupakan salah satu segi manajemen rumah sakit yang penting, salah satu prinsip manajemen menuntut bahwa dalam memperoleh maupun dalam menggunakan dana harus didasarkan pada pertimbangan efisiensi karena ketidak-efisienan akan memberi dampak negatif terhadap rumah sakit, baik secara medik maupun secara ekonomik. Dampak negatif ketidak-efisienan pengelolaan obat mulai dirasakan oleh manajemen RS. Dewi Sri (RSDS) dengan banyaknya keluhan yang disampaikan oleh pasien umum dan pasien dari perusahaan atau asuransi yang berkerjasama dengan RSDS yang mempertanyakan mengenai penggunaan obat. Obat merupakan sarana intervensi yang penting dan strategis dalam pelayanan medis dilihat dari rencana anggaran dalam pembelian obat di RSDS terlihat bahwa setiap tahunnya semakin meningkat. Berbeda jika dibandingkan dengan RS.Karya Medika I (RSKM I) yang sudah menerapkan formularium sejak tahun 1995. Dimana pola peresepan dokter lebih terkendali dengan adanya formularium. Dilihat besarnya dana realisasi pengadaan obat di RSDS tiap tahunnya sering melebihi anggaran rumah sakit, hal ini juga yang mendasari RSDS bahwa obat harus dikelola secara efisien agar dapat memberi manfaat sebesarbesarnya bagi pasien dan bagi rumah sakit. Belum adanya formularium membuat perencanaan pengadaan obat di rumah sakit ini menjadi unpredictable. Pengelolaan obat secara efisien seharusnya dapat dilakukan sejak perencanaan pengadaan obat sampai obat tersebut digunakan oleh pasien. Hal ini sangat penting agar pendanaan yang dikeluarkan sesuai dengan kebutuhan rumah sakit. Tujuan: Penelitian yang akan dilakukan ini memiliki beberapa tujuan sebagai berikut: mengidentifikasi tingkat efisiensi pengelolaan obat di RS.Dewi Sri Karawang dan RS.Karya Medika I Cikarang, mengidentifikasi perbedaan efisiensi pengelolaan obat tanpa formularium di RS.Dewi Sri Karawang dan pengelolaan obat dengan formularium di RS.Karya Medika I Cikarang, mengidentifikasi Kebijakan yang mendasari penerapan formularium di rumah sakit formularium dan non formularium dikedua rumah sakit, mengidentifikasi efisiensi pembiayaan obat dirumah sakit formularium dan non formularium Metode: Jenis penelitian studi kasus explanatori, kasus pengelolaan obat dengan unit analisis di RS.Dewi Sri Karawang (non formularium) dan RS. Karya Medika I Cikarang (formularium). Hasil : Penelitian ini menunjukkan bahwa 1) Pemilihan obat, pengadaan obat penggunaan obat, distribusi obat dan pendanaan obat rumah sakit berformularium lebih efisien dibandingkan non formularium tetapi ada beberapa kebijakan yang berkaitan dengan distribusi dan pendanaan yang membuat pengelolaan obat di rumah sakit berformularium menjadi tidak efisien. Kesimpulan : Dengan adanya formularium pengelolaan obat dan pendanaan obat di Rumah Sakit berformularium lebih efisien dibandingkan dengan Rumah Sakit non formularium, Tetapi dengan kebijakan manajemen yang kurang tepat dapat menyebabkan dengan adanya formularium menjadi tidak berarti

Backgroud: Drug management is one important aspect of hospital management. One principle of management hospital is to manage fund based on efficiency because inefficiency affecting negative impact to hospital, medical and economic. Negative impact inefficiency of drug management is felt by management of Dewi Sri Hospital. It’s proved by many complaints informed by patient, asks about drug management in hospital. Drug is an important and strategic tools in intervention of medical service referred to budget plan in drug procurement in Dewi Sri Hospital that showed increasing every year. It is different compared to Karya Medika I hospital that had been implemented formulary since 1995 so that drug prescription was under control. Based on drug financing in drug procurement that exceed hospital budget every year, forced Dewi Sri to manage drug efficiency to achived benefit for patient and hospital. Non formulary affected drug procurement in hospital to be unpredictable. Efficiency in drug management should be done since planning to its utility. This was important in order to make adjustment between funding that spent to hospital needs. Objectives : The study aimed to identify level efficiency of drug management in Dewi Sri Karawang hospital and Karya Medika I hospital, Cikarang, to identify efficiency different on drug management without formulary in both hospital, to identify policy that basec formulary implementation in hospital’s formulary and non formulary in both hospital, and to identify drug financing efficiency in hospital formulary and non formulary. Method : This was explanatory case study. Unit analysis of the study was drug management of non formulary in Dewi Sri Hospital and formulary in Karya Medika I hospital, Cikarang Result : The result of the study showed that drug selection, drug procurement, drug use, drug distribution, and drug financing of formulary drug in hospital is more efficient that non formulary one but there is some policy related to distribution and funding that make drug management in formulary hospital become inefficient. Conclusion : By formulary implementation, drug management and funding in hospital is more efficient than non formulary hospital, but inappropriate policy of drug management make formulary is not significant

Kata Kunci : Manajemen Rumah Sakit,Pengelolaan Obat,Formularium dan Non Formularium


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.