Faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat kebugaran lanjut usia penghuni Panti Budi Agung Kupang di Kota Kupang
SETIA, Agustina, dr. I Dewa Putu Pramantara, Sp.PD
2006 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Gizi dan Kesehatan)Latar belakang : Perubahan fisiologis yang utama pada proses menua adalah penurunan kebutuhan energi yang berkaitan dengan penurunan lean body mass dan kurangnya aktivitas fisik. Hal ini tentunya berdampak pada penurunan daya terima. Gizi berperan meningkatkan kebugaran jasmani, mencegah penyakit degeneratif, dan meningkatkan kemandirian. Penurunan kebugaran pada lanjut usia dapat dihambat dengan berolahraga, asupan gizi yang memadai, kemandirian dan mobilitas dalam melakukan aktivitas seharihari. Tujuan : Untuk mengetahui faktor – faktor yang berhubungan dengan tingkat kebugaran lanjut usia penghuni panti Budi Agung Kupang. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Penelitian dilakukan di panti lanjut usia Budi Agung Kupang di Kota Kupang. Subyek penelitian berdasarkan kriteria inklusi adalah lanjut usia yang berusia ≥ 60 tahun, dapat melakukan aktivitas hidup sehari-hari, tidak sedang mengalami sakit akut, bersedia menjadi subyek dan kriteria ekslusinya adalah yang menderita penyakit jantung, penyakit paru-paru, gangguan kognitif dan mengalami gangguan mobilitas. Data asupan zat gizi dikumpulkan dengan food record diolah dengan Program Nutri Survey. Data status gizi diukur dengan Indeks Massa Tubuh (IMT). Kadar hemoglobin diukur dengan cyanmethemoglobin. Aktivitas hidup sehari-hari diukur dengan menggunakan Assesment Functional Independence Measurement (FIM).Tingkat kebugaran diukur dengan tes jalan 6 menit ( 6MWT ). Data dianalisis dengan Pearson Korelasi dan uji Regresi Multiple. Hasil :Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat sepuluh variabel yang berhubungan secara signifikan dengan tingkat kebugaran lanjut usia yaitu asupan energi (p=0,009, r=0,368),asupan protein (p=0,012, r=0,354), asupan karbohidrat (p=0,036, r=0,297), asupan vitamin B12 (p=0,000, r=0,691), asupan vitamin D (p=0,001, r=0,455), asupan asam folat (p=0,005, r= 0,394), asupan zat besi (p=0,000, r=0,540), umur (p=0,002, r= - 0,428), kadar Hb (p=0,003, r=0,410), ADL (p=0,000, r=0,800), sedangkan asupan lemak, asupan vitamin B6, IMT terhadap tingkat kebugaran lanjut usia tidak bermakna secara statistik dengan (p>0,05). Hasil analisis regresi multiple yang paling berpengaruh terjadi kurang bugar pada lanjut usia adalah asupan protein (B=-3,730 dan p=0,012 ), asupan vitamin B12 (B=10,352 dan p=0,000), asupan asam folat (B=-9,574 dan p=0,028), asupan Fe (B=7,085 dan r=0,045 dan ADL(p:0,029 dan (B=8,014 dan p=0,000). Kesimpulan: Meningkatnya asupan energi, protein, vitamin B12, asm folat, Fe dan meningkatnya ADL dapat meningkatkan kebugaran pada lanjut usia di Panti Budi Agung Kupang.
Background: Main physiological changes during aging is decreasing need of energy as a consequence of decreasing lean body mass and physical activity. This process affects absorption level. Nutrition has an important role in improving physical fitness, preventing degenerative diseases, and minimizing dependence. Decreasing fitness among the elderly may be overcome through physical exercise, sufficient nutrient intake, autonomy and mobility in undertaking daily activities. Objective: To find out factors related to fitness of the elderly at Budi Agung Charitable House, Kupang. Method: The study was observational with cross sectional design. Subject of the study based on inclusion criteria were the elderly aged 60 years old, could do daily activities, were not having acute diseases. Exclusion criteria were those having heart disease, lung disease, cognitive disorder and mobility disorder. Data of nutrient intake were obtained from food record processed with Nutri Survey Program. Data of nutrition status were measured with Body Mass Index, haemoglobin level with cyanmethemoglobin and daily activities with Functional Independence Measurement. Fitness level was measured using 6 minute walk test. Data were analyses used pearson correlation and multiple regression test. Result: The study showed that there were 10 variables significantly related to fitness of the elderly, i.e. energi intek (p:0,009, r:0,368), protein intake (p:0,012, r:0,354), carbohydrate intake (p:0,036, r:0,297), vitamin B12 intake (p:0,000, r:0,691), vitamin D intake (p:0,001, r:0,455), folat acid intake (p:0,005, r:0,394), iron intake (p:0,000, r:0,540), age (p:0,002, r:-0,428), Hb level (p:0,003, r:0,410), Activities Daily Living (p:0,000, r:0,800), whereas intake of fat, vitamin B6. Body Mass Index statistically did not have significant relationship (p>0.05) with elderly fitness level. Multiple Regretion analysis showed that the most influential variables that made the elderly unfit were protein intake (p:0.012 and B: -3,730), vitamin B12 intake(p:0,000 and B:10,352), folat acid intake (p:0,045 and B:7,085), Activities Daily Living (p:0.000 and B:8,014). Conclusion: High protein intake, vitamin B12 intake, folat acid intake and activities daily living will increase physical fitness for old ageed people at Budi Agung Charitable House, Kupang.
Kata Kunci : Asupan Protein,Kebugaran Lansia, aging, energy intake, nutrient intake, nutrient status, age, haemoglobin, daily activities, fitness