Laporkan Masalah

Perbandingan pembiayaan tarif paket pelayanan esensial dan tarif paket Askes pelayanan kesehatan rawat inap keluarga miskin di RSU dr. Tengku Mansyur Tanjung Balai Tahun 2004-2005

ASRIL, Prof.dr. Ali Ghufron Mukti, MSc.,PhD

2006 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kebij. Pembiayaan da

Latar Belakang : Menteri Kesehatan Republik Indonesia (2004) membuat suatu keputusan dengan nomor 1241/Menkes/SK/XI/2004 mengenai penugasan PT. Askes dalam pengelolaan program pemeliharaan Kesehatan bagi keluarga miskin. Pada tahun 2004 pelayanan kesehatan rawat inap keluarga miskin di RSU dr. Tengku Mansyur Tanjungbalai menggunakan pola pembiayaan Tarif Paket Pelayanan Esensial (PPE) merupakan hasil godokan dan kesepakatan bersama dari Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) dan disahkan oleh Kepala Daerah. Pada tahun 2005 terjadi perubahan dengan diberlakukannya pola pembiayaan Tarif Paket Askes dan secara otomatis pola pembiayaan Tarif PPE tidak berlaku lagi. Tujuan : Untuk mengetahui perbandingan rerata biaya pelayanan rawat inap bagi keluarga miskin berdasar pembiayaan Tarif PPE dan pembiayaan Tarif Paket Askes di RSU dr. Tengku Mansyur Tanjungbalai dan untuk mengetahui persepsi stakeholder terhadap penerapan pembiayaan Tarif PPE dan pembiayaan Tarif Paket Askes. Metode : Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan rancangan studi kasus. Metode pengumpulan data secara kuantitatif dan diperkuat oleh data kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari penelusuran dokumen Rekam Medik RSU dr. Tengku Mansyur Tanjungbalai dan data kualitatif diperoleh melalui pedoman wawancara dengan stakeholder. Hasil : Hasil penelitian mendapatkan bahwa perbandingan rerata total biaya pelayanan per hari di RSU dr. Tengku Mansyur Tanjungbalai dengan pembiayaan Tarif PPE sebesar Rp. 532.884 lebih rendah dibanding pembiayaan Tarif Paket Askes sebesar Rp. 552.954. Perbandingan rerata LOS antara kedua pembiayaan ini tidak ada perbedaan yaitu 4,53 hari. Perbandingan rerata komponen biaya pelayanan per hari 10 penyakit terbesar pada pembiayaan Tarif PPE dan pembiayaan Tarif Paket Askes yang lebih banyak menyerap biaya pelayanan terjadi pada komponen obat/BMHP sebesar Rp. 230.603 dan Rp. 339.320, sedangkan biaya pelayanan terendah pada komponen penunjang medik sebesar Rp. 5.063 dan Rp. 31.578. Persepsi stakeholder diketahui bahwa pembiayaan Tarif PPE lebih diminati dan disukai oleh PPK dengan alasan telah familiar dan cocok dengan sistem Tarif PPE. Pelayanan rawat inap yang didapat pasien antara pembiayaan Tarif PPE dan pembiayaan Tarif Paket Askes tidak berbeda dengan pelayanan rawat inap pasien umum lainnya. Kesimpulan : Total biaya pelayanan per hari pelayanan rawat inap bagi keluarga miskin dengan pembiayaan Tarif PPE lebih rendah dibanding dengan pembiayaan Tarif Paket Askes.

Background: Based on the decree of the Ministry of Health No. 1241/Menkes/SK/XI/2004 PT. Askes is assigned to manage health insurance program for poor families. In 2004 inpatient health service for poor families at dr. Tengku Mansyur Hospital, Tanjungabalai used essential service package tariff finance pattern as a result of agreement among health service providers and was established by the Head of local government in 2005 there was a change by the implementation of PT. Askes package tariff finance pattern which replaced the former pattern. Objective: To find out differences in average cost of inpatient service for poor families based on essential service package tariff and PT. Askes package tariff at dr. Tengku Mansyur Hospital, Tanjungbalai and identify stakeholders' perception about the implementation of essential service package tariff and PT. Askes package tariff. Method: This was a descriptive study with case study design. Data were obtained both quantitatively and qualitatively. Quantitative data were obtained from medical records at dr. Tengku Mansyur Hospital and qualitative data were obtained from guided interview with stakeholders. Result: The difference in average total cost per day at dr. Tengku Mansyur Hospital with essential service package tariff was as much as Rp 532,884. This tariff was lower than the tariff based on PT. Askes package tariff which was as much as Rp 552,954. There was no difference in average length of stay between the two systems, ie. about 4.53 days. Highest average cost of 10 major diseases per day in essential service package tariff and PT. Askes package tariff was spent in drugs (Rp 230,603 and Rp 339,320), whereas the lowest was spent on medical support (Rp 5,063 and Rp 31,578). Stakeholders perceived that health service providers preferred essential service package tariff because they found it more familiar and suitable. Inpatient service in essential service package tariff and PT. Askes package tariff did not differ from other public inpatient service. Conclusion: Total cost of inpatient service per day for poor families with essential service package tariff was lower than with PT. Askes package tariff.

Kata Kunci : Askes,Pembiayaan Tarif Paket,Persepsi Stakeholder, Essential service package tariff, PT. Askes package tariff, stakeholders' perception

  1. S2-PAS-2007-ASRIL-ABSTRACT.pdf  
  2. S2-PAS-2007-ASRIL-BIBLIOGRAPHY.pdf  
  3. S2-PAS-2007-ASRIL-TABLE_OF_CONTENT.pdf  
  4. S2-PAS-2007-ASRIL-TITLE.pdf