Dampak kemitraan praktisi swasta terhadap keterlambatan pengelolaan dan pembiayaan pasien Tuberkulosis di Kota Denpasar
ARMINI, Luh Putu Sri, dr. Adi Utarini, MSc.,MPH.,PhD
2006 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kebij. dan Manaj. PeLatar Belakang. Sejak dilibatkannya praktisi swasta pada tahun 2002 secara bertahap tahun 2003 dan tahun 2004 angka penemuan penderita TB BTA (+) semakin meningkat tetapi belum memenuhi target nasional. Untuk mempercepat dan meningkatkan penemuan kasus TB BTA (+) di Denpasar telah dilaksanakan ekspansi DOTS kepada sektor swasta melalui kerjasama dengan Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Universitas Gadjah Mada (PMPK UGM) didukung dana dari Fidelis. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program kemitraan tersebut. Tujuan Penelitian. Mengevaluasi dampak kemitraan dengan praktisi swasta terhadap keterlambatan diagnosis dan pengobatan dan mendiskripsikan biaya yang dikeluarkan oleh pasien untuk penanggulangan TB. Metode Penelitian. Rancangan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Quasi Experimental pretest-posttest Design dengan subyek yang berbeda. Hasil Penelitian. Lama dari muncul gejala hingga terdiagnosis menunjukkan bahwa program kemitraan telah mempercepat penemuan kasus TB dan mempercepat pengobatan kasus TB. Lama waktu dari mulai terdiagnosis hingga diobati relatif sama yaitu sekitar tiga hari. Secara keseluruhan program kemitraan telah mempercepat penemuan dan pengobatan kasus TB di Kota Denpasar. Biaya langsung yang dikeluarkan pasien selama pengobatannya nol karena pengobatan DOTS diberikan secara gratis. Biaya tak langsung sebelum kemitraan dan setelah kemitraan ada perbedaan namun tidak signifikan (p>0,05). Kesimpulan. Program kemitraan yang dilaksanakan di Denpasar mempercepat penemuan kasus TB BTA (+) dan pasien yang telah terdiagnosis TB tersebut segera mendapatkan pengobatan DOTS di UPK praktek swasta, namun program tersebut belum mampu menurunkan biaya yang dikeluarkan pasien baik sebelum maupun sesudah mendapatkan pengobatan DOTS.
Background. Since the involvement of private practitioner in the year 2002 and gradually in the year 2003 and 2004, the finding rate of TB with BTA (+) has been improved but not yet fulfilled the national target. In order to accelerate and improve the case finding in Denpasar, the DOTS was expanded to private sector through collaboration with Center of Health Service and Management (CHSM) Gadjah Mada University that supported with funding from Fidelis. Therefore, evaluation toward the application of partnership program should be implemented. Objective. This research was aimed to evaluate the impact of partnership with private practitioner toward the delay of diagnosis and treatment as well as to describe the cost spent by patient for TB control. Method. This research was quasi experimental pretest-postest design with different subject. Result. The time from the occurrence of symptom until diagnosis showed that the partnership program has accelerated the case finding of TB and accelerated the TB case treatment. The time from being diagnosed to being treated was relatively similar that was 3 days. In general, the partnership program has accelerated the finding and treatment of TB case in Denpasar. The patients were free of charge for their treatment. There was an insignificant different of indirect payment before and after partnership (p>0,05). Conclusion. The partnership program in Denpasar has accelerated the case finding of TB (+) and patients who were diagnosed TB obtained DOTS treatment in private practice of health service effort (UPK). However, the program was not able to decrease the cost spent by doctor before and after obtaining DOTS treatment.
Kata Kunci : Layanan Kesehatan,Kemitraan,Pembiayaan Pasien, public private mix, delay diagnosis, cost analysis