Perencanaan kesehatan reproduksi keluarga miskin; pembelajaran melalui skenario :: Studi kasus di Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta
RULIYANDARI, Rochana, Prof.dr. Hari Kusnanto J., DrPH
2006 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kebij. dan Manaj. PeLatar belakang: Perencanaan kesehatan reproduksi bagi penduduk miskin tidak bisa didasarkan semata-mata atas pengalaman atau data yang tersedia pada masa lalu untuk meramalkan masa mendatang. Perubahan demografi, politik, kondisi sosial-ekonomi dan teknologi terus berlangsung dengan cepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi program-program kesehatan reproduksi yang perlu menjadi prioritas bagi penduduk miskin di Kabupaten Bantul. Pengembangan skenario-skenario untuk memperluas wawasan dan pembelajaran, dapat dimanfaatkan untuk penyusunan program-program kesehatan reproduksi bagi masyarakat miskin. Metode penelitian: Studi kasus diterapkan sebagai metode penelitian, dengan pengumpulan data melalui wawancara terhadap para pejabat dan petugas yang terkait dengan pelayanan kesehatan reproduksi, tokoh masyarakat dan keluarga miskin di Kabupaten Bantul. Unit analisis penelitian adalah program-program kesehatan reproduksi bagi keluarga miskin di Kabupaten Bantul. Dilakukan analisis data secara kualitatif, meliputi koding dan identifikasi kategori utama, dan survei perkiraan masa mendatang dengan kuesioner terstruktur. Implikasi dari skenario-skenario yang dihasilkan dapat menjadi dasar perencanaan program-program kesehatan reproduksi bagi masyarakat miskin di Kabupaten Bantul. Hasil penelitian: Para responden penelitian memperkirakan jumlah penduduk miskin di Kabupaten Bantul pada masa mendatang akan semakin bertambah, sehingga semakin dibutuhkan subsidi pemerintah dalam pelayanan kesehatan reproduksi. Di lain pihak, keluarga miskin lebih memilih pelayanan yang berkualitas, sekalipun harus membayar. Dukungan masyarakat yang selama ini diandalkan bagi keluarga miskin akan semakin dibutuhkan pada masa mendatang. Skenario-skenario yang dikembangkan menunjukkan kebutuhan dukungan pemerintah dan peran bantuan sosial kerabat atau sanak saudara akan semakin dibutuhkan, khususnya dalam penyediaan pelayanan kesehatan reproduksi yang bermutu, responsif terhadap kebutuhan orang miskin, dengan dukungan masyarakat melalui inisiatif-inisiatif berbasis masyarakat. Kesimpulan: Program-program kesehatan reproduksi perlu ditingkatkan dengan advokasi dan reorientasi kebijakan atau program, agar sarana dan prasarana memadai, petugas memiliki komitmen dalam pelayanan publik di bidang kesehatan reproduksi bagi orang miskin, dan masyarakat memberikan dukungan terhadap inisiatif-inisiatif kesehatan reproduksi berbasis masyarakat.
Background: Reproductive health planning for poor people cannot be based entirely on past experiences and data. Changes in demographic structure, politics, socio-economic conditions, and technology have occurred rapidly. This research aimed to identify reproductive health programs which should receive high priorities for poor families in Bantul District. The development of scenarios in this research was a process to broaden perspectives and learning. The implications of each scenario could become the foundation of reproductive health planning for poor people. Methods: A case study was implemented with various methods for data collection, including surveys using structured questionnaires, and interviews with district health officer, district community hospital director, reproductive health personnel, community leaders and poor families who lived in Bantul District. The units of analysis were reproductive health programs for poor families in Bantul District. Qualitative data analyses were carried out after data coding and classification to identify core category which was then translated into scenarios. The implications of the scenarios became the basis of reproductive health program planning for poor families in Bantul District. Results: The results of the study showed that the number of poor families were predicted to increase in the coming years, therefore the government need to allocate increasing amount of subsidy for the reproductive health of the poor. On the other hand, poor families prefer to obtain reproductive health services with better quality, although they have to pay. Social support for poor families will be much needed in the future. Scenarios developed based on quality reproductive health program with the support of government and relatives or neighbors indicate that reproductive health programs should include the supplies of contraceptives, prenatal care, and delivery assisted by trained and committed health professionals, which provide services accessible and affordable physically and culturally by poor people. Conclusion: Reproductive health programs should be improved through advocacy and program reorientation so that program infrastructure will be adequate, health workers are highly committed to providing services to poor people, and community-based reproductive health initiatives are strongly supported.
Kata Kunci : Kebijakan Kesehatan,Kesehatan Reproduksi,Penduduk Miskin, reproductive health, poor people, scenario planning