Persepsi komunitas adat terpencil Suku Anak Dalam terhadap pelayanan kesehatan dalam pengobatan malaria di Kabupaten Batang Hari
NURJALI, Prof.dr. Hari Kusnanto J., DrPH
2006 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kebij. dan Manaj. PeLatar Belakang: Provinsi Jambi merupakan daerah endemis malaria, jumlah kasus malaria pada tahun 2004 sebanyak 42.013 kasus, 12.066 kasus (28,71 %) diantaranya terjangkit di Kabupaten Batang Hari. Komunitas Adat Terpencil Suku Anak Dalam di Provinsi Jambi berjumlah 2.689 KK dan 1.306 KK berada di Kabupaten Batang Hari yang memiliki permasalahan sosial yang sifatnya kompleks seperti; rendahnya tingkat ekonomi (kemiskinan), pendidikan dan kesehatan. Tujuan: Mengetahui gambaran tentang persepsi Komunitas Adat Terpencil Suku Anak Dalam terhadap pelayanan kesehatan dalam pengobatan malaria. Metode: Jenis penelitian ini deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Informasi didapatkan melalui wawancara kelompok, wawancara mendalam dan observasi. Keabsahan data dilakukan dengan triangulasi baik sumber ataupun metode. Analisis data yang digunakan adalah analisis isi (content analysis). Hasil: Persepsi konsep sehat sakit menurut Komunitas Adat Tepencil Suku Anak Dalam yaitu; seseorang dikatakan sehat apabila enak makan, enak tidur dan enak berpikir, dan dikatakan sakit jika sebaliknya. Penyebab sakit antara lain; makanan, kebersihan, cuaca, kecapaian, roh jahat, guna-guna dan takdir. Penyakit malaria (demam kuro) adalah penyakit yang sangat mengancam, berat dan mematikan. Dorongan untuk melakukan pengobatan bila sakit yaitu; dari diri sendiri, keluarga dan ketua kelompok (Tumenggung). Tindakan yang dianjurkan dalam pengobatan malaria dengan cara tradisional yaitu menggunakan ramuan dari akar-akaran seperti; empedu tanah, bedaro putih, pasak bumi, bertawali dan kulit barumbung. Jika penyakit sulit untuk disembuhkan, maka alternatif terakhir yaitu melalui ritual “Besaleâ€. Upaya pengobatan ke sarana pelayanan kesehatan sangat jarang dilakukan, karena jarak tempuh yang jauh dan terbatasnya sarana transportasi Kesimpulan: Persepsi Komunitas Adat Terpencil Suku Anak Dalam Terhadap Pelayanan Kesehatan dalam Pengobatan Malaria di Kabupaten Batang Hari, masih dipengaruhi oleh faktor sosial budaya dan adat istiadat
Background: Jambi Province is an endemic area of malaria. There were 42,013 Malaria cases in 2004, 28.71% (12,066 cases) of which are found in Batang Hari Regency. Some 1,306 households out of the total population of 2,689 of isolated adat community of Suku Anak Dalam live in Batang Hari regency. They have complicated social problems such as low level of economic (poverty), education, and health. Objectives: The research aims to describe the perception of the Isolated Adat Community of Suku Anak Dalam toward health care service for Malaria treatment. Method: The research is descriptive and adopts a qualitative approach. It obtains data from group interview, in-depth interview, and observation. Data validation uses triangulation method and data analysis uses content analysis. Results: The Perception of health and sickness in this community is that one is healthy when he eats, sleeps, and think comfortably; one is sick when he undergoes the opposite state. The causes of sickness include: food, sanitation, weather, fatigue, evil spirit, magic spell, and fate. Malaria (kuro fever) is a fatal disease. Motivations to cure a disease may come from oneself, family, or tribal chief (Tumenggung). Recommended attempts of healing in traditional method is by using herbal mixture of different kinds of roots: empedu tanah, bedaro putih, pasak bumi, bratawali, and kulit barumbung. If the disease remains, “Besale†ritual is the last healing alternative. The community hardly makes any attempts to go to health care center for treatment due to its far distance, and lack of transportation means. Conclusion: The isolated adat community of Suku Anak Dalam in Batang Hari regency holds a perception toward health care service for Malaria treatment that is influenced by social culture and custom factors.
Kata Kunci : Layanan Kesehatan,Pengobatan Malaria,Persepsi Masyarakat Adat,Perception, Health Care Service, Isolated Adat Community of Suku Anak Dalam, Malaria