Laporkan Masalah

Evaluasi proses pembelajaran pada Akademi Fisioterapi "YAB" Yogyakarta

WASITO, Edi, dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA

2006 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kebij. dan Manaj. Pe

Latar belakang. Penyakit degeneratif menjadi suatu kondisi baru yang terdapat problem kesehatan di negara berkembang, untuk itu dibutuhkan ahli fisioterapi yang profesional. Saat ini di Indonesia telah berdiri sebanyak 19 perguruan tinggi fisioterapi yang tersebesar di seluruh wilayah Indonesia. Perguruan tinggi ini lebih banyak dimiliki oleh swasta. Harapan dari pendidikan ini untuk mencetak fisioterapis yang berkualitas dan profesional. Sebagai perguruan tinggi profesional diharapkan mampu merancang sistem pendidikan yang berkualitas. Langkah awal berdirinya pendidikan tinggi ini diperlukan kontrol dari asosiasi profesi dan departemen kesehatan. Perguruan tinggi yang ada ini masih keterbatasan dalam hal finansial dan tenaga dosen yang berkualitas sebagai pendukung utama dalam proses pembelajaran. Studi ini ingin melihat tentang kekuatan dan kelemahan dokumen manajemen proses pembelajaran. Evaluasi manajemen pendidikan dilihat dari standar kurikulum, fasilitas, metode dan kualifikasi dosen. Metode. Penelitian ini menggunakan rancangan studi kasus eksploratif. Informasi di dapatkan dengan wawancara mendalam dengan 15 responden yang terkait langsung yaitu: direktur, dosen tetap, staf serta mahasiswa. Wawancara dilakukan saat mereka ditemui selama di AKFIS ”YAB” Jogjakarta. Data ini diperoleh selama penelitian yaitu bulan Januari sampai dengan Februari 2006. Hasil. Fasilitas perpustakaan, metode pembelajaran, dan jumlah dosen tidak sesuai dengan kondisi yang diharapkan untuk aktifitas pembelajaran professional yang berkualitas. Ada diantara dosen yang mempunyai latar belakang pendidikan diploma tiga fisioterapi, dan telah memiliki pengalaman kerja selama 25 tahun sebagai praktisi fisioterapi. Sebagian besar dari mereka mempunyai klinik. Rasio antara dosen dengan mahasiswa 1:14. Sistem pendidikan dan pelatihan dosen belum mendapat perhatian yang serius. Akademi ini mempunyai 4 orang dosen tetap ahli fisioterapi dan 2 orang dosen bukan fisioterapis. Penelitian ini telah membuktikan kualitas proses pembelajaran dan kualifikasi dosen sangat terbatas, walaupun demikian demikian, akademi ini telah berhasil menerapkan prinsif pendekatan pendidikan keahlian profesional. Kesimpulan: Penelitian ini telah membuktikan bahwa pendidikan keahlian sangat tergantung pada dosen. Kegiatan pendukung pendidikan termasuk fasilitas dan pengembangan dosen masih sedikit mendapat perhatian manajemen. Kekuatan utama dalam pendidikan fisioterapi di AKFIS YAB adalah pemanfaatan dosen yang berasal dari praktisi fisioterapi yang berpengalaman. Penguatan dosen dalam sisi akademis dan metode pembelajaran seharusnya menjadi perhatian dalam pengembangan lembaga pendidikan ini.

Background. Degenerative health conditions have become a new health problem in developing countries that demand for professional physiotherapists. Indonesia has now 19 physiotherapy training institutes across the country. These institutes are privately owned. The higher expectation of qualified professionals instructs the institutes to provide quality training systems. Since there is still lack of control from the professional association and ministry of health, many institutes develop in their own initiatives. These institute have limited financial and human resources that support quality learning and teaching processes. To allow the improvement of these institutes, this study want to document the strengths and weaknesses in the management of teaching and learning activities. The study evaluate the management of training institutes, use of standardized curriculum, and the quantity and qualification of lecturers, Method. This case study uses explorative approach. Information is based on the indepth interview of 15 respondents consisting of lecturer, chief administrors and staff, and students They are selected by snowball approach during study period in Yogyakarta. Data collection was taken from January to February 2006. Results. Library facility, learning methods, and teaching staff number do not match well to the expectated conditions of quality professional teaching activities. Although some of the lecturers are graduated from a three year diplome in physioterapy, they have more than 25 years experiences. Some of them have their own clinics. The ratio of the number of lecturers and students was 1:14. The lecturer’s training and development system still haven’t got some serious attentions. There were four permanent lecturers from physiotherapy and two from nonphysiotherapy. This research provides evidence that learning process and lecturer quality, eventhough quite limited, the institute have succesfully applied the principle of competency base training approach. Conclusion. This study shows although there are problems in administration and management of the institute, the availability of experienced physiotherapy practitioners as the students mentors are important determinant of training outcome.

Kata Kunci : Pendidikan Kesehatan,Proses Pembelajaran,Akad Fisioterapi


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.