Laporkan Masalah

Jumlah dan kualitas tenaga kesehatan Puskesmas :: Studi distribusi Desa-Kota dan Regional analisis data Sakerti 2000

HUSAIN, Ihsan, dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA

2006 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kebij. dan Manaj. Pe

Latar Belakang: Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dan terpenting dari pembangunan nasional. Puskesmas adalah penanggungjawab penyelenggara upaya kesehatan untuk tingkat pertama dan merupakan ujung tombak dalam pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan sangat dipengaruhi oleh penataan dan pengelolaan sumber daya manusia. Masalah utama dalam pengelolaan tenaga kesehatan adalah distribusi SDM yang tidak merata. Program Pegawai Tidak Tetap (PTT) untuk dokter, dokter gigi dan bidan menyebabkan kekurangan tenaga medis di puskesmas untuk daerah sulit. Penyebaran tenaga medis tidak merata baik antar propinsi maupun antar kabupaten dalam propinsi yang sama. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui ketersediaan tenaga kesehatan di puskesmas, untuk mengetahui perbandingan sebaran tenaga kesehatan di Sumatera, Jawa-Bali dan Kawasan Timur Indonesia serta Indonesia, untuk mengetahui ratio sebaran tenaga kesehatan di kota dan desa, untuk mengetahui apakah sumber daya manusia yang ada di puskesmas sudah sesuai standar ketenagaan, untuk mengetahui kualitas tenaga kesehatan yang ada di puskesmas. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional, dengan menggunakan rancangan cross sectional survei. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kuantitatif. Penelitian ini dilakukan di 13 propinsi. Populasi penelitian adalah kepala puskesmas dan pustu se-Indonesia. Unit analisis dalam penelitian ini adalah data puskesmas dan pustu Sakerti tahun 2000. Hasil Penelitian: Jumlah tenaga kesehatan secara nasional belum cukup yang ditunjukkan dengan masih banyaknya puskesmas dan pustu yang mempunyai tenaga yang kurang. Jumlah tenaga dalam konteks desa-kota menunjukkan bahwa tenaga di kota lebih baik, berdasarkan jenis tenaga masih banyak terjadi kekurangan dokter dan dokter gigi di desa. Kualitas tenaga di kota lebih baik dari di desa yang ditandai prosentase tenaga medis yang lebih besar. Jumlah tenaga dalam konteks regional menunjukan bahwa tenaga di Jawa-Bali lebih baik, dari aspek jenis tenaga masih banyak terjadi kekurangan dokter dan dokter gigi di KTI dan Sumatera. Kualitas tenaga di Jawa-Bali lebih baik dari Sumatera dan KTI. Tenaga medis di KTI masih kurang dari standar minimal untuk suatu puskesmas. Kesimpulan: Penelitian ini membuktikan bahwa pemerintah belum bisa mendorong dokter/tenaga kesehatan untuk melawan teori pasar. Puskesmas di kota memiliki jumlah tenaga yang lebih baik dibanding puskesmas di desa. Jumlah tenaga berkaitan erat dengan lokasi puskesmas, di kota atau di desa dan dengan letak geografisnya di Jawa-Bali, Sumatera atau di KTI. Kualitas tenaga di kota lebih baik dari di desa dan di Jawa-Bali lebih baik dari Sumatera dan KTI.

Background: Health Development represents the integral part and the most important of national development. Health center is the underwriter of health effort organizer for the first level and represent tip of lance in health service. The service was most influenced by settlement and human resource management. Main problem in management of health staff is distribution human resource which not to spread, the other problem is over-staffing for non professional (non technical) staff and under-staffing for professional (technical) staff. The Erratic Officer (PTT) program for physicians, dentists and midwifes cause the medical staff insufficiency in health center at the difficult area. Medical staff spreading not to spread correctly inter province or inter regency in same province. Objectives: To know the availability of health staff in health center, to know the comparison of health staff spread in Sumatera, Jawa-Bali and East Area of Indonesia and Indonesia, to know the ratio of health staff spread in urban area and village, to know whether human resource available in health center in this time have according to standard official affairs, to know the quality of health staff available in health center. Methods: This Research type of observational research, by using device of cross sectional survey. This research uses the quantitative method approach. This research was conducted in 13 provinces. Research population is head of health center and pustu entire of Indonesia. The unit analyses in this research are data of health center and pustu Sakerti year 2000. Results: Amount of health staff nationally are insufficient, it showed with still to many of health center and pustu having less staff. The number of staff in village-urban area context indicates that staff in urbane area more better, base on the staff types still a lot of happened insufficiency of physicians and dentists in village. Quality of staff in urban area was better than in village, it showed by the percentage of medical staff which larger. The number of staff in regional context indicated that staff in Jawa-Bali better, from aspect of staff skills a lot of happened insufficiency of physician and dentist in East Area of Indonesia and Sumatera. Medical staffs in East Area of Indonesia still less from standard for health center. Conclusion: This Research proves that government not yet able to push the physicians/ health staff to resist of market theory. Health center in urban area has the more better of staff compared to health center in village. The number of staff is firm interlaced with health center location, in urban area or village as well as interlaced with a geographical position in Jawa-Bali, Sumatera or East Area of Indonesia. Quality of staff in urban area was better than in village and in Jawa-Bali was better than Sumatera and East Area of Indonesia.

Kata Kunci : Manajemen Kesehatan,Puskesmas,Kualitas Sumberdaya Manusia, number, quality, health staff, puskesmas, Sakerti 2000


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.