Analisis ketersediaan obat di Puskesmas Kota Jayapura
MAKABA, Sarce, dr. Sulanto S. Danu, SpFK
2006 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Manajemen dan KebijaLatar Belakang :Salah satu indikator keberhasilan pelayanan kesehatan adalah obat tersedia di puskesmas pada saat dibutuhkan. Dari studi pendahuluan di puskesmas Kota Jayapura tahun 2005 di seluruh puskesmas pernah terjadi kekosongan obat dengan waktu kekosongan mulai dari 2-14 hari bahkan sampai lebih dari 1 bulan untuk beberapa macam obat, sehingga ada obat yang tidak terlayani dan diganti, pasien umum membayar obat yang diberikan yang seharusnya diperoleh dengan cuma-cuma, tetapi ada juga beberapa macam obat yang over stok karena jarang diresepkan. Tujuan penelitian ini :a) Untuk mengetahui kesesuaian obat dengan DOEN di puskesmas Kota Jayapura,b) untuk mengetahui apakah obat yang tersedia sesuai dengan pola penyakit,c) mengetahui tingkat ketersediaan obat di puskesmas d) mengetahui prosentase obat kadaluarsa/ obat rusak, e)untuk mengetahui waktu kekosongan obat, f) untuk mengetahui bagaimana pasien mengakses obat. Metode penelitian: Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif, dengan rancangan cross sectional, data dianalisis secara deskiriptif. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan dalam bentuk observasi dokumen dan observasi ke gudang puskesmas dan GFK, data kualitatif dengan wawancara mendalam. Unit analisis adalah puskesmas di Kota Jayapura dan GFK Jayapura. Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan obat yang tersedia di puskesmas Kota Jayapura sesuai DOEN prosentase rata-rata 87,82%. Obat yang tersedia sudah sesuai dengan pedoman pengobatan untuk penyakit malaria dan diare. Pada beberapa puskesmas ada obat untuk ISPA tidak tersedia. Tingkat ketersediaan obat di puskesmas Kota Jayapura untuk obat yang paling banyak digunakan berada dalam tingkat aman bahkan ada yang belebih, karena tingkat ketersediaan lebih dari 3 bulan.Semua puskesmas di kota Jayapura pernah mengalami kekosongan obat mulai dari 2 hari sampai 2 bulan atau lebih. Prosentase obat kadaluarsa/rusak di puskesmas bervariasi mulai dari 3,85% terdapat di puskesmas Elly uyo dan terbanyak di puskesmas Waena sebesar 23,66%. Pasien yang mengakses obat di puskesmas dengan prosentase resep yang terlayani sebesar 99,18%,resep yang tidak terlayani 0,82% serta resep yang diganti sebesar 0,75%. Disamping itu pasien umum membayar obat diluar pembayaran retribusi dengan tarif yang berbeda-beda untuk masing-masing puskesmas mulai seribu rupiah sampai sepuluh ribu rupiah. Kesimpulan : Ketersediaan obat di puskesmas kota Jayapura rata-rata berada dalam tingkat aman bahkan cenderung berlebih, akses pasien terhadap obat di puskesmas sudah baik dengan prosentase resep terlayani sebesar 99,18%.
Background: One success indicator of health service is availability of drugs at the health center whenever they are needed. A preliminary study at the health center of Jayapura Municipality in 2005 indicates that there has been drug unavailability in all health centers from 2 – 14 days, even up to over a month for some kinds of drugs so that some drugs can not be prescribed, some are substituted and patients have to pay for drugs which they can get for free. However, there are some overstocked drugs because they are rarely prescribed. Objective: The objective of the study was to find out: a) relevance of drugs with list of national essential drugs; b) relevance of drug available with disease pattern; c) availability of drugs at the health center; d) percentage of expired / damaged drugs; e) period of drug unavailability; f) patients' access to drugs. Method: The study was observational using both quantitative and qualitative method with cross sectional design. Quantitative data were obtained from observation of documents and drug storeroom at the health center and district / municipal pharmaceutical warehouse and qualitative data were collected from in depth interview. Analysis unit were health centers at Jayapura Municipality and Municipal Pharmaceutical warehouse in Jayapura. Data were analyzed descriptively. Result: In average as much as 87.82% of drugs available at the health center of Jayapura Municipality was relevant with list of national essential drugs. Drugs available were relevant with medication guideline for malaria disease and diarrhea. In some health centers drugs for acute respiratory tract infection were unavailable. Availability of drugs mostly used was relatively good, some drugs were even overstocked because they were available more than 3 months. All health centers at Jayapura Municipality had drugs unavailable from 2 days to 2 months or more. Percentage of damaged drugs varied, from 3.85% at Elly Uyo Health Center to 23.66% at Waena Health Center. As much as 99.18% of prescription could be served and 0.75% substituted. Patients paid for drugs outside retribution with different tariff for every health center, varying from one thousand to ten thousand rupiahs. Conclusion: Availability of drugs at the health center of Jayapura Municipality in general was relatively good, even overstocked. Patients' access to drugs was good with as much as 99.18% of prescription could be served.
Kata Kunci : Puskesmas,Ketersediaan Obat,drug availability, access to drugs, essential drugs