Laporkan Masalah

Hubungan pemberian ASI eksklusif dengan status gizi berdasarkan tinggi badan menurut umur pada anak umur 2 tahun di Kabupaten Purworejo Propinsi Jawa Tengah

AVIANTI, Irna, Prof.dr. M. Hakimi, SpOG(K).,PhD

2006 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kes. Ibu dan Anak-Ke

Latar belakang: Status gizi merupakan hal penting yang dapat menggambarkan pertumbuhan dalam 2 tahun pertama kehidupan anak. Evaluasi status gizi dapat dilakukan dengan melihat prevalensi ASI eksk!usif dan anak tlnggl badan pendek. Di Indosesia kejadian pemberian ASI eksklusif masih rendah sementara kejadian anak tinggi badan pendek, tinggi. Tujuan studi ini adalah untuk mendapatkan angka kejadian pemberian ASI eksklusif dan kejadian anak tinggi badan pendek diantara anak-anak umur 2 tahun juga untuk menganalisis hubungan antara pemberian ASI eksklusif dan anak tinggi badan pendek serta faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap kejadian anak tinggi badan pendek. Metode: Penelitian ini memanfaatkan data uji klinis dari pemberian suplementasi vitamin A dan zink selama kehamilan, suplementasi zat besi dan zink pada bayi dan studi pengamatan pertumbuhan dan perkembangan anak hingga sampai umur 2 tahun, yang dilakukan di Kabupaten Purworejo, Propinsi Jawa Tengah selama periode tahun 1994-2003. Pemberian ASI eksklusif didefinisikan sebagai pemberian makanan dan minuman lain kecuali obat-obatan; sedangkan anak tinggi badan pendek didefinisikan bila anak umur 2 tahun mempunyai tinggi badan menurut umur jika Zscore terletak < - 2 SD. Data dianalisis dengan chi-square untuk membandingkan antara ASI eksklusif dan faktor-faktor lain yang mempengaruhinya. Analisis General Linear Model dengan distribusi binomial log dilakukan untuk melihat hubungan pemberian ASI eksklusif dan anak tinggi badan pendek serta faktor-faktor lain yang berpengaruh. Variabel-variabel yang bermakna secara statistik kemudian diikutsertakan dalam analisis multivariabel. Hasil: Kejadian pemberian ASI eksklusif dan anak tinggi badan pendek secara berurutan yaitu 7,9% dan 25,6%. Kejadian anak tinggi badan pendek meningkat sebesar 98% pada anak-anak yang tidak mendapat ASI ekskiusif, namun hubungan pemberian ASI eksklusif dan kejadian anak tinggi badan pendek tidak bermakna secara statistik (RR = 1,98, IK95% = 0,98-3,99). Risiko tinggi badan pendek meningkat diantara anak-anak yang memiliki ibu dengan lama pendidikan ≤ 9 tahun, ibu dengan tinggi badan ≤150 cm dan anak yang berasal dari keluarga ekonomi rendah. Pada analisis multivariabel diketahui risiko tinggi badan pendek diantara anak umur 2 tahun berhubungan dengan tinggi badan ibu (RR= 2,79, IK95% = 1,84-4,21) dan status ekonomi keluarga (RR= 2,13, IK95% = 1,60-2,83) Kesimpulan: Pemberian ASI eksklusif dan anak tinggi badan pendek masih merupakan masalah gizi di Kabupaten Purworejo, Propinsi Jawa Tengah. Pemberian ASI eksklusif secara klinis berpengaruh terhadap pertumbuhan anak, yang dapat dilihat dari kejadian anak tinggi badan pendek. Anak tinggi badan pendek lebih banyak ditemukan pada anak yang memiliki ibu dengan tinggi badan rendah dan berasal dari ekonomi keluarga yang rendah.

Backgrounds: Children's nutritional status is important for their development in the first 2 year of life, which could be reflected by evaluate the exclusive breastfeeding and stunting rates. However, the incidence of exclusive breastfeeding still remains low, while the incidence of stunting is high. Objectives: The objectives of this study were to obtain the incidences of exclusive breastfeeding and stunting among children of 2 year-old and to explore the association between stunting and exclusive breastfeeding, as well as other possible risk factors. Methods: This study took advantage of the randomized clinical trial of vitamin A and zinc supplementation during pregnancy; iron and zinc supplementation during infancy; and the follow up study of the development of the children up to 2 years of age, which was conducted in Purworejo District, Central Java Province during the period of 1994-2003. The exclusive breastfeeding defined as only breastfed during the first 4 month of life, while stunting was determined if the height for age among 2 year-old children was Zscore under -2 SD. The chisquare analyses were used to compare the exclusive breastfeeding and background factors. General Linear Model with log binomial distribution was used to examine the relationship between stunting and exclusive breastfeeding, as well as other possible risk factors. Only significant variables kept in the final multivariate logistic regression models. Results: The incidence of exclusive breastfeeding and stunting were 7,9% and 25,6% , respectively. The incidence of stunting increased by 98% among nonexclusive breastfed children, however this relationship was not statistically significant (RR: 1.98, 95%CI: 0.98-3.99). The risk of stunting is also increased among children whose mother had length education of less than 9 years, height less than 150 cm and came from low income family. In multivariate analyses, the height of the mother and the family income remained significant risk factors of stunting among 2 year-old children, the relative risks were 2.79 (95% CI: 1.84-4.21) and 2.13 (95% CI: 1.60-2.83), respectively. Conclusions: Exclusive breastfeeding and stunting remains nutritional problem in Purworejo District, Central Java Province. Exclusive breastfeeding influenced the development of children clinically, indicated by stunting. Stunting is more common among children whose mother had short stature and low family income.

Kata Kunci : ASI Eksklusif, Status Gizi,Tinggi Badan, exclusive breastfeeding, stunting, children of 2 year-old.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.