Faktor-faktor risiko kejadian demam tifoid di Kabupaten Purworejo
SANTOSO, Yoyok Dwi, dr. Haripurnomo K., MPH.,DrPH
2006 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Epidemiologi LapangaLatar belakang: Diperkirakan pada tahun 2000 demam tifoid telah menyebabkan lebih dari 21,6 juta kesakitan dan 216.510 kematian. Di Indonesia penyakit ini masih sangat endemis. Angka kesakitan untuk daerah semi pedesaan adalah 157/100.000 penduduk pedesaan dan meningkat mencapai 810/100.000 penduduk untuk daerah perkotaan. Di Kabupaten Purworejo angka kesakitan demam tifoid masih sangat tinggi (521/100.000 penduduk). Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian demam tifoid. Metode penelitian: Penelitian ini menggunakan rancangan observasional dengan pendekatan case control study. Lokasi penelitian adalah rumah sakit dan puskesmas yang melayani rawat inap di Kabupaten Purworejo. Kasus adalah pasien rawat inap yang didiagnosis menderita demam tifoid berdasarkan gejala klinis demam 7 hari atau lebih dan adanya kenaikan titer antibodi terhadap antigen O ≥1/200 pada pengulangan uji Widal kedua yang dilakukan 7-10 hari berselang, dan/ atau hasil kultur darah positip S. typhi. Kontrol adalah pasien baru yang tidak menunjukkan gejala klinis demam. Analisis data menggunakan chi-square, perhitungan odds ratio (OR) dan regresi logistik. Hasil: Analisis multivariat menunjukkan bahwa kebiasaan kadang-kadang dan tidak pernah menggunakan sabun ketika cuci tangan sebelum makan dengan nilai OR sebesar 7,04 (95% CI 2,36-21,02) dan 22,05 (95% CI 5,55-87,54) berturut-turut, kebiasaan kadang-kadang dan sering makan/ jajan di warung/ pinggir jalan dengan nilai OR sebesar 4,16 (95% CI 1,001-17,23) dan 5,8 (95% CI 1,54-21,78) berturut-turut, dan adanya riwayat tifoid dalam keluarga dengan nilai OR sebesar 3,83 (95% CI 1,13- 12,92) berhubungan signifikan dengan kejadian demam tifoid. Jenis sarana sumber air bersih di rumah tidak berhubungan signifikan dengan kejadian demam tifoid. Kesimpulan: Faktor dalam rumah seperti hygiene perorangan yang rendah serta faktor di luar rumah seperti makan dan minum diluar penyediaan rumah berperanan penting dalam penularan demam tifoid.
Background: Typhoid fever, a food-and-waterborne disease caused by Salmonella enterica serotype Typhi (S. typhi), is estimated to have caused 21.6 million illnesses and 216,500 deaths globally in 2000, affecting all ages. Typhoid fever is highly endemic in Indonesia. It occurs perennialy all over the country with the annual morbidity of 157/100,000 population in semi urban area and 810/100,000 population in urban area and tends to increase over time. Objective: To determine risk factors for typhoid fever. Method: Patient-based case-control study conducted in hospitals and health centers in Purworejo. Cases were 66 patients with a fever 7 days or more and an increased O antibody titer equal or more than 1/200 in the follow-up serum specimen by Widal test performed 7 to 10 days later, and/ or laboratory-confirmed positive culture of S. typhi. Control were 66 patients with clinically no fever and individually matched for gender and age. Data analysis used chi-square, odds ratio (OR) calculation and logistic regression test. Result: Multivariate analysis showed the following risk factors for typhoid fever: sometimes and never use soap for hand washing before eating (OR=7.04) and (OR=22.05) respectively, rare and frequent consumption of food from street vendors (OR=4.16) and (OR=5.8) respectively, and recent typhoid fever in the household (OR=3.83) were associated with typhoid fever. Type of water sources at home was not associated with typhoid fever. Conclusion: Factors within the household (eg. poor personal hygiene), and factors outside household (eg. food from street vendors) are more important risk factors for typhoid fever.
Kata Kunci : Demam Tifoid,Resiko Kejadian, typhoid fever, case-control, risk factors