Laporkan Masalah

Permintaan rokok di Indonesia :: Suatu kajian empirik potensi penerimaan cukai, 1970-2003

WIBOWO, Rusminto, Promotor Prof.Dr. Dibyo Wibowo, M.Sc

2006 | Disertasi | S3 Ilmu Ekonomi

Cukai rokok merupakan komponen pajak yang memberikan kontribusi berarti dalam penerimaan negara. Kebijakan pemerintah untuk menaikkan penerimaan cukai dilakukan melalui kenaikan harga dan atau tarif cukai. Potensi penerimaan cukai ditentukan elastisitas permintaan rokok. Studi ini mengaji karakteristik permintaan rokok di Indonesia dengan menggunakan data agregat runtun waktu selama periode 1970 – 2003. Model habit persistence yang merupakan model penyesuaian parsial diterapkan terutama untuk meneliti pengaruh harga terhadap konsumsi perkapita perokok. Hasil empirik menunjukkan elastisitas harga dari permintaan sigaret tidak elastis yaitu sekitar -0,2 dalam jangka pendek dan berkisar antara -0,4 - -0,5 dalam jangka panjang, elastisitas pendapatan berkisar antara 0,3 – 0,5 dalam jangka pendek dan berkisar antara 0,8 – 1,0 dalam jangka panjang. Kebijakan harga jual eceran minimum sejak tahun 1991 berpengaruh positif dan signifikan secara statistics. Hubungan substitusi antar jenis sigaret pada umumnya tidak signifikan kecuali efek substitusi produk sigaret putih mesin dengan sigaret kretek mesin. Penelitian menyimpulkan masih ada potensi cukup tinggi untuk menaikkan penerimaan cukai rokok, baik melalui kenaikan harga maupun cukai lebih dua kali lipat. Kenaikan harga atau tarif cukai sigaret perlu dilakukan secara bertahap agar tidak terjadi kegoncangan dalam industri rokok. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada pemerintah di dalam menetapkan kebijakan tentang cukai rokok dan bagi pihak yang berkepentingan dengan perilaku masyarakat di dalam mengkonsumsi rokok.

Cigarettes excise is one of the taxation component that provides a significant contribution of government revenue. The government policy to increase cigarette excise tax revenue has been released by increasing of price and or excise rate. The excise tax revenue potential is determined the demand price elasticity. This study examines the demand characteristics of cigarettes in Indonesia using time series aggregate data for the 1970 – 2003 periods. The habit persistence model or a partial adjustment model is applied especially to investigate the effect of price on per capita consumption for smokers. The empirical evidence shows that the price elasticity of cigarette demand as -0,2 in the short run and between -0,4 - -0,5 in the long run. The income elasticity is estimated at about 0,3 – 0,5 in the short run and it is around 0,8 – 1,0 in the long run. The effect of the minimum retail sales prices policy that was adopted in 1991 is found to be statistically significant. In general, the substitution relationship among cigarette types are statistically insignificant, except the substitution effect of machine kretek cigarettes for machine white cigarettes. The excise tax revenue potential had not been utilized optimally. In the simulation, based on price elasticity of demand, a doubling of the price or excise tax rate would still increase more excise government revenue. The increase of price or excise rate needs to be implemented gradually to reduce cigarette industrial shocks. This study could contribute to establish government excise tax policy and to them who are interested of behaviour people in cigarette consumption.

Kata Kunci : Penerimaan Cukai,Permintaan Rokok, Demand, excise tax, excise tax revenue.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.