Pengaruh pemberian air minum dan zat besi terhadap kenyamanan dan produktivitas kerja pada pekerja wanita yang terpapar panas
RATU, Jacob M, Dr.dr. Lientje Setyawati Maurits, MS.,Sp.Ok
2006 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan KerjaSuhu tinggi di tempat kerja merupakan salah satu faktor fisik yang sering memapari pekerja terutama pada industri yang kegiatannya menghasilkan panas. Studi pendahuluan di PT Kurnia Bumi Pertiwi, suatu industri yang memproduksi briket arang menunjukkan pekerja wanita yang terpapar panas mengalami kurang minum dan anemia dan hal ini dapat mempengaruhi kenyamanan kerja dan produktivitas kerja. Untuk itu penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian air minum dan zat besi terhadap kenyamanan dan produktivitas kerja. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen menggunakan rancangan eksperimental ulang ( pretest-posttest control group design). Subjek penelitian adalah pekerja wanita di bagian pengepakan yang ditetapkan secara purposive dan dibatasi dengan kriteria inklusi. Hasilnya, 23 subjek memenuhi syarat. Selanjutnya subjek dikelompokkan secara random ke dalam 3 kelompok perlakuan masing-masing: kelompok I berjumlah 7 orang, mendapat air minum dan plasebo; kelompok II: berjumlah 8 orang, mendapat air minum dan Ferrous sulfate, dan kelompok III berjumlah 8 orang, mendapat air minum dan Farmabion. Kepada tiap subjek penelitian diberikan 3 liter air minum dan 1 butir Ferrous Sulfate atau Farmabion setiap hari selama 20 hari. Selama penelitian berjalan, 2 orang mengundurkan diri sebagai subjek sehingga yang berpartisipasi hingga penelitian ini selesai berjumlah 21 orang. Pengukuran kenyamanan dan produktivitas kerja dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan. Untuk mengukur kenyamanan kerja digunakan kuesioner kenyamanan kerja dan untuk mengukur produktivitas kerja digunakan stopwatch. Hasil analisis uji-t menggunakan anava 1-jalur gabung 1-faktor menunjukkan peningkatan kenyamanan kerja sesudah perlakuan pada masing-masing kelompok perlakuan secara sangat signifikan (p=0.00). Peningkatan kenyamanan kerja sesudah perlakuan pada kelompok II dan III lebih tinggi dibanding dengan kelompok I (p<0,05), sedangkan peningkatan kenyamanana kerja antara kolompok II dan III tidak signifikan (p>0,05). Sebaliknya dalam penelitian ini, produktivitas kerja sesudah perlakuan pada masing-masing kelompok dan antar kelompok perlakuan tidak menunjukkan peningkatan secara bermakna (p>0,05).
The high temperature in working place was one of the physical factors to which woman workers were usually exposed, especially in the industry whose activities produces heat. A preliminary study in PT Kurnia Bumi Pertiwi, which was an industry producing coal briquette indicated that woman workers exposed to the heat were deficient of drinking water and suffered under anemia and it influenced working comfort and working productivity. Therefore, the study was conducted to find out the impact of the drinking water and iron substance intake on the working comfort and productivity. It was of experimental one that uses pretest-posttest control group design. Its subjects were determined using purposive method and limited using inclusion criteria and it results in 23 subjects who meet the requirements. Subsequently, they were randomly classified into three treatment groups, which were the group I consisting of 7 employees with drinking water and placebo treatment, the group II consisting of 8 employees with drinking water and ferrous sulfate supplementation treatment, and group III consisting of 8 employees with drinking water and Famabion supplementation treatment. They were given 3 liters drinking water and a ferrous sulfate or farmabion pill per day for 20 days. Two subjects resign that the remaining were 21 subjects. The measurement of the working comfort was conducted before and after the treatment. It was conducted using a working comfort questionnaire, while the working productivity was measured using stopwatch. The analysis results of the t-test using two-factor mixed design of anava: repeated measure on one-factor indicated that the increase in the working comfort for each of the treatment groups was significant (p=0.00). The working comfort of the group II and III was significantly higher than that of the group I (p<0.05), while the increase in the working comfort of group II and III was not significant (p>0.05). On the contrary, the working productivities after the treatment of each of the groups and between the treatment groups were indicative of significant increase (p>0.05).
Kata Kunci : Kesehatan Kerja,Lingkungan Kerja,Air Minum dan Zat Besi, work comfort and productivity