Studi dinamika penularan Leptospirosis di Desa Bakung Kecamatan Jogonalan Kabupaten Klaten Provinsi Jawa Tengah
RUSMINI, dr. Haripurnomo Kushadiwijaya, MPH.,DrPH
2006 | Tesis | S2 Ilmu Kedokteran TropisPada Bulan Mei–Juni tahun 2005 terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) Leptospirosis di Kabupaten Klaten dengan Case Fatality Rate (CFR) 25% dari empat orang kasus. Dua orang diantara kasus leptospirosis tersebut berasal dari Desa Bakung Kecamatan Jogonalan. Perilaku manusia, faktor lingkungan dan pelayanan kesehatan merupakan faktor risiko penularan leptospirosis. Tujuan penelitian untuk mengetahui dinamika penularan leptospirosis, yaitu faktor risiko terhadap kejadian leptospirosis, meliputi lingkungan, agent, reservoir dan perilaku manusia. Penelitian dilakukan pada bulan Juli 2005–Januari 2006 di daerah endemik leptospirosis desa Bakung Kecamatan Jogonalan Kabupaten Klaten Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini merupakan penelitian Epidemiologi Deskriptif, yang dilakukan secara Retrospektif. Data kasus leptospirosis diperoleh melalui rekam medik dari Rumah Sakit Umum Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Data lingkungan (curah hujan) di peroleh dari Badan Pusat Statistik Klaten, sedangkan suhu udara harian dan kelembaban udara, dilakukan pengukuran. Pengamatan dan identifikasi vegetasi dilakukan pada daerah persawahan serta tegalan. Kepadatan dan jenis tikus dihitung dengan Metode T3 Jolly-Seber, identifikasi berdasarkan jumlah dan ciri morfologi tikus yang tertangkap, selanjutnya dilakukan uji serologi serum darah tikus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku manusia tidak berhubungan dengan kejadian leptospirosis di desa Bakung. Rendahnya suhu udara (23,690C – 32,150C), tingginya kelembaban udara pada musim hujan (64% – 85%), curah hujan cukup tinggi (167 mm), keragaman vegetasi merupakan faktor risiko penularan leptospirosis di desa Bakung. Trap Success untuk habitat rumah 88,57%, angka ini menunjukkan bahwa risiko penularan leptospirosis di desa Bakung, terjadi di dalam rumah. Hasil uji serologi menunjukkan bahwa 11,53% sampel adalah positif mengandung Leptospira sp., ditemukan pada tikus rumah R. tanezumi, hal ini menunjukkan prevalensi leptospirosis terdapat pada tikus rumah R. tanezumi sebagai faktor risiko penularan leptospirosis di desa Bakung. Perilaku manusia meliputi mandi/mencuci, memancing, berenang di sungai, mencari belut atau katak serta sering bekerja di sawah, bukan faktor risiko penularan leptospirosis di Desa Bakung. Faktor lingkungan abiotik, meliputi suhu udara harian yang rendah dan kelembaban udara yang tinggi, merupakan faktor risiko penularan leptospirosis di Desa Bakung. Faktor lingkungan biotik, meliputi vegetasi yang beragam sebagai sumber pakan tikus, tingginya angka kepadatan tikus serta banyak jenis tikus, merupakan faktor risiko penularan leptospirosis di Desa Bakung. perlu pemberantasan tikus di pemukiman penduduk, penyuluhan kesehatan tentang leptospirosis, pengamatan epidemiologi leptospirosis di Desa Bakung Kecamatan Jogonalan Kabupaten Klaten Provinsi Jawa Tengah untuk menetapkan sistem kewaspadaan dini.
In May – June 2005 an outbreak of leptospirosis occurred in Klaten district. The Case Fatality Rate was 25%. Two of the four cases were native of Bakung village. This study aimed at explaining the dynamics of the transmission of the disease in the area. The study describes the risk factors, environment, reservoir, agent and human behaviour in the leptospirosis occurrence. The study was conducted from July 2005 to January 2006 in the leptospirosis endemic area of Bakung village. The study was a retrospective, descriptive, epidemiological study. Cases were obtained from Soeradji Tirtonegoro Hospital of Klaten, rainfall data from Statistics Bureau of Klaten, and temperature humidity from field measurement. Observations and identifications of vegetations were conducted in the area rice fields and bushes. Density and species of the reservoir was analyzed with the Jolly-Seber T3 Method. Mouse blood was tested. Result show that human behaviour does correlate with the leptospirosis in the Bakung village. Temperature in the area was low (23oC), humidity high (87,46%) and monthly precipitation high (167mm). Trap success at homes was high (88,57%), indicating high transmission of leptospirosis in the Bakung village houses. Serological tests show 11,53% of sampled mice were positive bearing the Leptospira sp. The house mouse R. tanezumi contained the leptospira agent. The various human behaviour such as bathing, washing and fishing in river, and catching eels and frogs in rice fields, are not risk factors. The various vegetations and the many species and high density of mice are the factors in leptospirosis transmissions. Mice control, education on leptospirosis, and epidemiological observation of leptospirosis in Bakung village are suggested
Kata Kunci : Leptospirosis,Dinamika Penularan,Resiko, Leptospira, Leptopsirosis, Trap Success, Serological Test