Laporkan Masalah

Hubungan robekan Perineum dengan Disparenia pada ibu Post partum primipara

MAWARTI, Retno, Prof.dr. Mohammad Hakimi, Ph.D.,Sp.OG(K)

2006 | Tesis | S2 Ilmu Kedokteran Klinik

Penelitian ini berjudul “Hubungan Robekan Perineum dengan Disparenia pada Ibu Post Partum Primipara” dengan tujuan untuk mengetahui hubungan robekan jalan lahir dengan berbagai tingkatan dan penyebab dengan disparenia yang terjadi saat melakukan hubungan seksual pertama setelah melahirkan. Penelitian ini didesain dengan Kohort Retrospektif. Data diambil dari ibu primipara tiga bulan setelah melahirkan pervagina yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi di RSUP Dr Sardjito, Puskesmas Tegalrejo, Puskesmas Mergangsan, Rumah Bersalin Sakina Idaman, Bidan Praktek Swasta Endang Purwati, dan Bidan Praktek Swasta Umu Hani, sewaktu ibu kontrol/ mengimunisasikan bayinya diberi kuisioner yang berisi data demografi, riwayat sakit, kotrasepsi, data disparenia. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur nyeri berdasarkan Pain Measurement in Vulvodynia dan Visual Analog Scale (VAS) dari PERDOSSI. Responden dikelompokkan menjadi 3 kelompok, Yaitu kelompok pertama dengan perineum Utuh/ ruptur derajat I, kelompok kedua perineum ruptur derajat II, dan kelompok III perineum yang dilakukan episiotomi. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Chi Squere dan untuk mengetahui hubungan kelompok perineum utuh, tuptur derajat I, II, Episiotomi dengan dyaparenia, analisis multivariat (regresi logistik) untuk mengetahui hubungan variavel ruptur perineum dengan variabel disparenia dengan mengendalikan variabel luar. Hasil Penelitian. Masing-masing kelompok terdapat 98 orang responden, pada kelompok II secara statistik mempunyai hubungan bermakna menyebabkan terjadinya disparenia ringan 6.07 kali dengan RR = 6.07 ;CI 95% (2.94-12.5), disparenia sedang 9,24 kali dengan RR = 9.242 ; CI 95% (3,67-22.61), disparenia berat 11.86 kali dengan RR =11.861;CI 95% (2.26-62.19) dibandingkan dengan perineum utuh/ ruptur derajat I. Pada kelompok episiotomi secara statistik bermakna menyebabkan terjadinya disparenia ringan 7.8 kali dengan RR =7.879;CI 95% (3.35-18.52), disparenia sedang 14.4 kali dengan RR =14.418; CI 95% (5.45-38.09), disparenia berat 94.55 kali dengan RR =94.55;CI 95% (19.50-458.30) dibandingkan dengan perineum utuh/ ruptur derajat I. Cara menjahit dengan metode jahitan terputus menyebabkan disparenia berat 2.46 kali dibandingkan dengan tidak dijahit dengan RR =2.464; CI 95% (0.398-15.248), secara statistik tidak bermakna, namun secara klinik bermakna. Menyusui secara statistik bermakna menyebabkan disparenia ringan, sedang, dan berat dengan CI tidak terbatas karena dari 270 responden, hanya 10 (3.7%) ibu yang tidak menyusui. Waktu berhubungan seksual pertama kali setelah persalinan 6-8 minggu dapat menyebabkan disparenia sedang 7.32 kali, (RR = 7.32; CI 95% = 1.099–48.759) dibanding dengan waktu berhubungan 8-12 minggu setelah persalinan, secara statistik bermakna. Waktu berhubungan seksual pertama kali kurang 6 minggu setelah persalinan secara statistik bermakna menyebabkan disparenia sedang 8.26 kali dengan (RR = 8.26; CI 95% = 1.478-46.170) dibanding dengan waktu berhubungan 8-12 minggu setelah persalinan, sedangkan variabel lain penolong, dan cara persalinan secara statistik tidak bermakna dapat menyebabkan disparenia

Background: Dyspareunia means feelings of discomfort on sexual intercourse after childbirth caused by perineal damage. Objective: to evaluate the relationship between the level of vaginal tear and dyspareunia at the first sexual intercourse after vaginal birth. Material and Methods: The study was carried out with a retrospective cohort design in 3 groups of primiparous women after vaginal birth. Group1 had an intact perineum degree 1; perineal tear group had degree 2; group 3 had episiotomy all with n=98. The outcome was resuming dyspareunia. Analyse process is based on Pain measurement in Vulvodynia and Visual Analog Scale (VAS), characteristic of the subject analysed by descriptive proporstion and RR level by chi-square. Logistic regression and multivariate analysis is used to determine correlation between the external factors that influence in dyspareunia outcome. Result: The group 2 reported that vaginal tear caused light dyspareunia . It shows by CI: 95% (3,67-22,61), worst dyspareunia is 11.l86 times with RR value 11.861; CI 95% (2.26 – 62.19) compare with perineal tear degree I. On episiotomy group, shows that light dyspareunia is 7.8 times by RR 7.879; CI: 95% (3.35 – 18.52), medium dyspareunia 14.4 times with RR 14.418; CI 95% (5.45-38.09) and the worst is 94.55 times with RR 94.55; CI 95%; CI 95% (19.50-458.30) compare with perineal degree I. Clinically found that method of sewing correspond to the worst dyspareunia 2.46 times compare with non-sewing childbirth with RR 2.464; CI95% (0.398-15.248). Breast feeding women were found correspond to those three groups of dyspareunia at CI unlimited. On 270 respondents shows 10 (3.7% of all subjects) non-breast-feeding. At the first sexual intercourse after 6-8 weeks childbirth, experienced medium dyspareunia 7.32 times (RR=7.32; CI 95%=1.099-48.759) in comparison with first sexual intercourse after 8-12 weeks childbirth found as significant. Less than 6 weeks after childbirth found as a dyspareunia 8.26; CI 95%= 1.478-46.170 compare with the subject in which their first sexual intercourse after 8-12 weeks of childbirth. Other variables such as helper, method of childbirth, statistically found as insignificant correspond to dyspareunia. Conclusion: There was a correlation between degree of vaginal tear by episiotomy or spontaneously with dyspareunea.

Kata Kunci : Post Partum Primipara,Robekan Perineum,Disparenia


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.