Potensi dan peranan kayu hutan rakyat terhadap pendapatan rumah tangga pengelolanya :: Studi kasus Hutan Rakyat Kecamatan Arjosari dan Pringkuku Kabupaten Pacitan
MARTONO, Djoko Setyo, Prof.Dr.Ir. H. Hasanu Simon
2006 | Tesis | S2 Ilmu KehutananHutan rakyat telah berperan besar dalam mensejahterakan rakyat sementara masyarakat masih harus tetap menjaga kelestarian sumber daya alam dan fungsi lingkungan hidup. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar potensi kayu dari hutan rakyat dan mengetahui besarnya kontribusi produksi kayu hutan rakyat terhadap pendapatan total bagi pengelolanya. Penelitian dilaksanakan di hutan rakyat Desa Karangrejo dan Karanggede ( Kecamatan Arjosari ) serta Desa Poko Dan Candi ( Kecamatan Pringkuku ) pada bulan Januari sampai dengan Maret 2006.Metode dengan menggunakan metode diskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi kayu hutan rakyat bervariasi menurut kontinyuitas petani dalam mengelola lahan hutan rakyatnya baik dalam penyediaan tenaga kerja, waktu dan modal maupun pengaturan pemanenan hasil . Rata-rata potensi kayu hutan rakyat di Kabupaten Pacitan sebesar 55,80 m3/ha dengan Desa Karanggede mempunyai potensi terbesar yaitu 73,04 m3/ha dan terkecil adalah Desa Candi dengan potensi 33,17 m3/ha. Dari keempat Desa penelitian terdapat tiga Desa yang mempunyai pendapatan dari kayu hutan rakyat sebagai urutan pertama, yaitu Desa Karanggede, Poko dan Candi sedangkan Desa Karangrejo menempati urutan kedua setelah pendapatan dari usaha tani. Pendapatan kayu hutan rakyat umumnya dapat menaikkan tingkat kesejahteraan petani responden melewati ambang batas kemiskinan.
Community Forestry has been claimed having great role on people welfare while still protecting environment. This research is to observe wood potential of community forestry area and how great is the wood production of community forests contribute to the total income of people. The research was carried out in a community forests of Karangrejo and Karanggede village of Arjosari district and Poko as well as Candi village of Pringkuku district from January to March in 2006. A quantitative descriptive method was used in this research Result showed that the timber potential of community forestry varies according to farmers frequent control of their forest, manpower supply, time spend in the forest, capital and harvesting rule. The average timber potential of Pacitan Regency amounted to 55,80 m3/ha on the average with Karanggede village having the greatest (73,04 m3/ha) and Candi village as the lowest (33,17 m3/ha). Three of four villages under observation obtained their income mainly from community forest (Karanggede village, Poko and Candi) while in Karangrejo village the income from community forest only second after farming. In general, it can be concluded that community forestry could increase the farmer’s welfare above poverty level.
Kata Kunci : Kayu Hutan Rakyat,Pendapatan Rumah Tangga,Community Forestry. Role of wood community forestry, and potential of wood community forestry