Alternatif pengukuran risiko pasar khususnya risiko nilai tukar pada Bank Domestik
PAKPAHAN, Ester, Ainun Na'im, Dr.,MBA
2005 | Tesis | Magister ManajemenMeningkatnya kompleksitas usaha perbankan, perkembangan pasar global, dan meningkatnya volatilitas pasar menyebabkan eksposur bank terhadap risiko pasar semakin meningkat. Basel 2 mensyaratkan bank-bank untuk memasukkan risiko pasar termasuk di dalamnya risiko nilai tukar dalam perhitungan kecukupan modal. Belajar dari krisis tahun 1997, BI telah mengadopsi sebagian konsep Basel 2 dengan menggunakan metode standar. Studi ini bertujuan untuk mempelajari dan mengidentifikasikan alternatif lain yang dapat digunakan dalam pengukuran risiko pasar khususnya risiko nilai tukar terhadap bank domestik, membandingkan hasil pengukuran diantara dua metode perhitungan risiko yakni standardised method dan internal model terhadap 13 sampel bank dan memberikan masukan bagi manajemen bank dalam pemilihan model. Pemilihan sampel dilakukan terhadap 13 bank domestik terbesar yang mewakili 70% pangsa pasar perbankan di Indonesia, memiliki izin sebagai bank devisa dan masuk kriteria bank (berdasarkan ketentuan BI) yang harus memasukkan risiko pasar dalam perhitungan kecukupan modal. Data yang digunakan adalah posisi devisa neto bank-bank sampel per 31 Desember 2003 dan kurs penutupan Rupiah terhadap 10 jenis valuta asing selama 250 hari ke belakang sejak tahun 2003. Pengukuran risiko pasar dengan internal model menggunakan konsep Value at Risk (VaR). Nilai VaR diperoleh dengan mengukur volatilitas nilai tukar dan korelasi diantara faktor pasar. Hasil dari pengukuran risiko nilai tukar dengan menggunakan dua metode yang berbeda menunjukkan bahwa pengukuran risiko nilai tukar dengan menggunakan konsep Value at Risk secara konsisten menghasilkan bobot risiko yang lebih rendah dibandingkan dengan metode standar. Meskipun memiliki batasan dan kendala namun konsep VaR dinilai lebih baik untuk digunakan sebagai alternatif model oleh manajemen dalam perhitungan kecukupan modal di luar metode standar.
Increasing complexity on banking business, growth of global market, and increasing market volatility are some of the reasons of increasing banks exposure on market risk. Basel 2 recommended banking to include market risk on their computation for minimum capital adequacy requirement. And from banking crisis experienced in 1997, BI have been adopted some part of Basel 2 concepts. The purpose of this study is to identify other alternative to measure market risk especially foreign exchange risk for domestic banks, comparing the result between two methods of computation which are standardized method and internal model towards 13 sample banks and to provide input or suggestion for banks management. Samples were chosen among domestic banks which have been fulfilling some requirements. And the result was coming with 13 banks which in total have been represented 70% of domestic market for banking. Data collected using Net Open Position of sample banks as of December 31, 2003 and market closing rate IDR against 10 foreign currencies for 250 days from December 2003 to December 2002. Value at Risk concept was using for measurement of market risk using internal model. VaR computations were based on volatility and correlation. Computation forex risk using two models showed that Value at Risk concept were constantly resulted with lowest amount of forex risk Even tough VaR concept in general were better then standardized method but there are some limitations that should be considered by management.
Kata Kunci : risiko pasar, risiko nilai tukar, Basel 2,BI, standardised method, internal model,bank domestic, posisi devisa neto, Value at Risk, volatilitas, korelasi.