Analisa variabel yang berpengaruh terhadap besarnya tingkat Underpricing pada Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Jakarta periode tahun 1999-2003
JAUHARI, Thontowy, Marwan Asri SW., Prof.Dr.MBA
2005 | Tesis | Magister ManajemenPelaksanaan Initial Pubic Offering (IPO) di Bursa Efek telah memberikan gambaran tentang terjadinya beberapa anomali, salah satunya adalah underpricing – yaitu suatu bentuk dari ketidakefisienan (dimana munculnya kelompok investor yang sangat antusias, namun irrasional). Kita dapat melihat underpricing sebagai akibat adanya usaha dari penjamin emisi untuk memaksimalkan “pendapatan†dari investor yang sangat antusias. Dalam pasar yang sedang “hangatâ€, kebijakan yang paling optimal untuk investor reguler (dan institusional) adalah dengan mengalokasikan saham IPO dengan harga diskon, untuk kemudian dijual lagi – mendapatkan laba (gain) – bagi investor yang antusias di bursa saham. Underpricing digunakan utuk menyeimbangkan perdagangan dari penawaran yang terbatas dan pemeliharaan harga, dengan mengabaikan kemungkinan bahwa di pasar yang sedang “hangat†akan berakhir secara prematur. Sangat menarik untuk melakukan observasi fenomena dari terjadinya underpricing. Penelitian domestik dan luar negeri memperlihatkan bahwa perusahaan yang melakukan listing di pasar saham “biasanya†akan mengalami underpricing. Suad Husnan (1996) melakukan penelitian pada perusahaan swasta dan perusahaan milik pemerintah di Indonesia, menunjukkan bahwa IPO yang dilaksanakan perusahaaan – perusahaan tersebut akan mengalami underpricing. Hasil yang sama juga diperlihatkan oleh penelitian Beatty (1989) dan Ritter (1991) di Amerika Serikat, Janine (1995) di Australia. Pada sisi yang satu, underpricing merupakan suatu kondisi tang merugikan. Underpricing terjadi karena perusahaan dinilai lebih rendah dari kondisi yang sebenarnya oleh penjamin emisi, yang mana hal ini terjadi karena ii penjamin emisi berusaha untuk menekan resiko kegagalan IPO karena adanya fungsi penjaminan. Pada sisi yang lain, perusahaan sebagai emiten, tidak mengetahui kondisi yang sebenarnya di pasar saham. Kenyataannya, penjamin emisi sebagai pihak yang berhubungan dengan pasar, memiliki informasi yang lebih baik mengenai pasar saham daripada perusahaan yang akan melakukan go-public. Informasi yang tidak seimbang ini disebut sebagai ketidakseimbangan informasi. Hal ini menyebabkan harga saham pada saat IPO lebih kecil daripada harga saham saat di pasar sekunder. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk meneliti faktor – faktor yang diduga dapat menyebabkan terjadinya underpricing, seperti reputasi/kualitas penjamin emisi, skala/ukuran perusahaan, umur perusahaan, ratio ROA, financial leverage, dan pertumbuhan penjualan dari perusahaan – perusahaan yang melaksanakan IPO di periode tahun 1999 – 2003. Penelitian ini dilaksanakan dengan melakukan analisa pada data sekunder yang berhubungan dengan permasalahan. Sedangkan hipotesis dari penelitian, kemudian ditelaah dengan system double regresi untuk memperoleh gambaran secara keseluruhan tentang hubungan antara variabel dependen (tingkat underpricing) dengan variabel independen (reputasi/kualitas penjamin emisi, skala/ukuran perusahaan, umur perusahaan, ratio ROA, financial leverage, dan pertumbuhan penjualan dari perusahaan). Penelitian ini dilaksanakan pada 72 perusahaan yang melaksanakan listing di Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada periode tahun 1999 sampai dengan 2003 yang mengalami underpricing. Hasilnya mengindikasikan bahwa semua variabel independen yang mempengaruhi terjadinya underpricing hanya sebesar 2,3%, sedangnya sisanya sebesar 97,7% dipengaruhi oleh faktor – faktor yang tidak digunakan dalam penelitian ini.
Our model of the IPO process traces several empirical “anomaliesâ€, one of which is under pricing – to common source of inefficiency: the presence of a class of irrationally enthusiastic investors. We show how under pric ing can emerge as underwriters attempt to maximize issue proceeds by extracting surplus from enthusiastic investors. In hot markets, the optimal policy for regular (institutional) investors to be allocated IPO stock at a discount, for resale – at a profit – enthusiastic investors in the after market. Under pricing serves to compensate the regulars for restricting the supply of available shares and maintaining price despite the possibility that the hot market may end prematurely. It was interesting to observe the phenomenon of empirical research on under pricing condition. Domestic and overseas research show that companies which listings in share market are usually got under priced. Suad Husan (1996), held research on private company and state company in Indonesia, showed that Initial Public Offering (IPO) of those companies is usually got under priced. The same result also showed by Beatty (1989) and Ritter (1991) in the United States, Janine et al (1995) in Australia. At the one side, under pricing condition is absolutely harmed. Under priced happens because the company is evaluated less than the real condition by underwriter, in order to minimize risk because of its guarantee function. At the other side, the company, unfortunately, do not know at all about the real situation in the share market. In fact, underwriters as the related party with market, have more information about share market than the company that will go public. This unbalance information is known as v asymmetry information. Asymmetry information caused the share price on IPO is less than the price in the secondary market. Based on that, this research is aim to research suspected factors that causing under priced, such as underwriter reputation, company size, company age, ROA, financial leverage, and sales growth of the company. This research belonging to analyze research that the discussion is organized by doing analysis to secondary data obtains and discussed related to the problem. Hypothesis in this research meanwhile, is examined with double regression system to get whole picture about the relation between variable dependent (under priced level) with variable independent (underwriter reputation, company size, company age, ROA, financial leverage, and sales growth of the company). The research of test held on 72 companies listed on Jakarta Stock Exchange from 1999 to 2003 that got under priced. The result indicates that all variable independent influence under price with only 2,3%, while another 97,7% influenced by another factors beyond variable used in this research.
Kata Kunci : Pasar Modal,IPO,Under Pricing, Under pricing, IPO, Dependent Variable, Independent Variable, Double Regression