Laporkan Masalah

Short term overreaction in Indonesian and Australian Stock Market :: Case study LQ 45 and ASK 100

YUDISTIRA, Eko, Jogiyanto Hartono, Prof.Dr.MBA

2005 | Tesis | Magister Manajemen

Kehadiran aspek-aspek perilaku dalam pasar saham tidak dapat terbantahkan. Sudah banyak bukti-bukti empiris mendukung kenyataan tersebut. Salah satu bukti adalah overreaction yang ditemukan oleh De Bondt dan Thaler pada tahun 1986. Overreaction dalam pasar saham akan menghasilkan winner-loser effect yang adalah efek pembalik dari portofolio ektrim ke arah yang berlawanan setelah masa formasi. Hal ini disebabkan oleh kecenderungan manusia untuk membesar-besarkan informasi tunggal yang dianggap penting dan tidak memperhatikan informasi yang teratur yang di keluarkan oleh perusahaan. De Bondt dan Thaler juga menemukan adanya magnitude effect yaitu tingkat pembalikan yang sesuai dengan tingkat ektrimnya pada masa formasi. Akhirnya, mereka mendapatkan bahwa beta dari CAPM bukan merupakan indikator yang baik untuk resiko saham. Dalam melakukan penelitiannya, De Bondt dan Thaler menggunakan data bulanan selama setengah abad. Karenanya, fenomena-fenomena di atas dianggap sebagai kejadian jangka panjang. Penelitian ini mencoba menyelidiki apakah winner-loser dan magnitude effect, juga beta CAPM yang tidak representatif dapat ditemukan pada jangka waktu yang lebih pendek. Untuk mendapatkan data yang lebih rinci, data mingguan dipergunakan selama lima tahun dari Januari 2000 sampai dengan Nopember 2004. Agar menarik, dua populasi dipergunakan yaitu pasar saham Australia (ASX 100) dan pasar saham Indonesia (LQ 45). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam jangka waktu yang pendek hanya loser ektrim yang membalik menjadi winner, sementara winner tetap berada di atas nilai normal. Karenanya, hanya sebagian dari winner-loser effect terjadi pada jangka waktu yang pendek. Beberapa alasan juga dikemukakan untuk menjelaskan hasil yang didapat. Di antaranya adalah perilaku loss averse dari pelaku pasar dan keadaan bullish di pasar saham Indonesia saat ini. Magnitude effect dapat ditemukan pada loser ektrim ASX 100 tapi winner dari populsasi yang sama tidak menunjukkan tren tersebut. Sementara ini pada LQ 45, winner dan loser menciptakan pergerakan yang acak sehingga sulit untuk dideteksi apakah terdapat magnitude effect pada populasi ini. Pemicu keadaan di atas meliputi emosi, factor eksternal seperti masalah politik dan keamanan, sampai tingkat kedewasaan masing-masing pasar saham. Pada akhir penelitian, beta yang tidak representatif juga ditemukan dalam pasar saham Indonesia dan Australia.

The presence of behavioral aspects in stock market is inevitable. A lot of empirical evidences have been presented in support. One of those early evidences is overreaction phenomenon as discovered by De Bondt and Thaler in 1986. Overreaction in stock market will create winner- loser effect which is the reversal movement of extreme portfolios to the opposite direction after the point of formation. The cause of such incidence is the tendency that people tend to overreact to single salient outstanding information and underestimate the base rate information. De Bondt and Thaler also revealed the presence of magnitude effect which is the level of reversal will be dependent to the extremeness of the portfolio. Finally, they portrayed that CAPM beta, as the measure of risk, is not a reliable indicator. In finding this phenomenon, De Bondt and Thaler used half of a century monthly data. Therefore, the effect can be accepted as a long term trend. This research tries to find out whether or not winner-loser and magnitude effect, and unreliable CAPM beta are also the case in shorter period. To gain more detail movement of extreme portfolios, weekly data for five year, January 2000 up to November 2004, are used. To make it more interesting is the usage of two set of populations which are Australian stock market (ASX 100) and Indonesian stock market (LQ 45). The result shows that in short period, only extreme losers reverse to become winners, while extreme winners intend to stay above the normal value. Therefore, only some part of winner-loser effect is fulfilled. Some reasons are provided to explain such finding. Among others are the loss aversion nature of stock market personals and recent bullish condition in Indonesia. Magnitude effect is present in ASX 100 loser portfolios, while the winners do not indicate the same trend. In LQ 45, both winners and losers give mixed pattern and make it difficult to detect whether or not any magnitude effect is in play. The drivers of such findings are ranged from emotion, external factors such as political and security issues, to the maturity of each stock market. Lastly, the same unreliable beta is found in both Australian and Indonesian stock market.

Kata Kunci : Pasar Modal,Perilaku,Overreaction, overreaction, winner-loser effect, magnitude effect, extreme loser portfolios, extreme winner portfolios


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.