Mekanisme ketahanan kentang (Solanum Tuberosum) terhadap nematoda sista kuning (Globodera Rostochiensis)
FITRIYANTI, Dewi, Prof.Dr.Ir. Mulyadi, M.Sc
2006 | Tesis | S2 FitopatologiPenelitian mekanisme ketahanan varietas kentang (Solanum tuberosum) erhadap nematoda sista kuning (Globodera rostochiensis) bertujuan untuk menentukan tingkat ketahanan 20 varietas kentang terhadap G. rostochiensis dan mengetahui adanya keterlibatan senyawa asam klorogenat dan asam kafeat dalam mekanisme ketahanan varietas kentang serta mempelajari perbedaan histopatologi antara varietas kentang tahan dan rentan terhadap G. rostochiensis. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juni 2005 s/d Mei 2006 di Dukuh Kopeng, Kelurahan Kepuhharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil uji skrining ketahanan menunjukkan bahwa dari 20 varietas kentang yang diuji terdapat 2 varietas yang tergolong tahan, yaitu varietas Hertha dan Manohara. Tiga belas varietas tergolong moderat yaitu varietas No.30, No.44, No. 5, No.19, Batang Hitam, Agria, Desiree, Berolina, Atlantik, No.095, Cipanas, FLS dan Colombus. Lima varietas tergolong rentan yaitu varietas Kikondo, Granola, Erika, LBR, dan Fries. Hasil analisis dengan Thin Layer Chromatography (TLC) menunjukkan adanya peranan asam klorogenat di dalam mekanisme ketahanan varietas kentang terhadap G. rostochiensis. Asam klorogenat merupakan salah satu turunan asam sinamat yang berfungsi sebagai prekursor lignin. Asam klorogenat pada varietas Hertha dideteksi pada umur 4, 5, dan 6 minggu setelah diinokulasi dengan G. rostochiensis , sedangkan pada varietas Granola ditemukan pada umur seminggu dan 6 minggu setelah diinokulasi dengan G. rostochiensis. Diduga asam klorogenat pada varietas Hertha menyebabkan ketahanan yang lebih tinggi pada dibandingkan pada varietas Granola yang terdeteksi pada umur 1 dan 6 minggu setelah inokulasi. Asam klorogenat kemungkinan berperanan di dalam terjadinya lignifikasi pada varietas Hertha, hal ini ditunjukkan oleh penyerapan warna Safranin ya ng kuat pada jaringan yang terserang, sedangkan pada varietas Granola lignifikasi mungkin terjadi tetapi dalam jumlah yang kecil yang ditunjukkan oleh penyerapan Safranin yang kurang intensif pada daerah yang terserang. Lignifikasi menyebabkan nematoda dalam jaringan Hertha tidak mampu berkembang dengan baik karena tidak mampu mendegradasi dinding-dinding sel dan membentuk sinsitium. Asam kafeat tidak terdeteksi baik sebelum maupun setelah diinokulasi dengan G. rostochiensis, sehingga infeksi G. rosochiensis juga tidak menstimulasi terbentuknya asam kafeat pada ke-2 varietas kentang tersebut.
A Study of mechanism of resistance of potato to Globodera rostochiensis were aimed to find the resistance of 20 potato varieties to G. rostochiensis, to know the role of chlorogenic acid and caffeic acid in the mechanism of resistance and to know the histopathological differences between resistant and susceptible potato varieties to G. rostochiensis. The research was conducted from June 2005 to May 2006 in Kepuhharjo, Cangkringan, Sleman,DIY. The research results showed that 2 varieties were resistant to G. rostochiensis, i.e, Hertha and Manohara. Thirteen varieties were moderately resistant, i.e; No.30, No.44, No. 5, No.19, Batang Hitam, Agria, Desiree, Berolina, Atlantik, No.095, Cipanas, FLS and Colombus and 5 varieties were susceptible, i.e; Kikondo, Granola, Erika, LBR, and Fries. The presence of chlorogenic acid and caffeic acid in Hertha (resistant variety) and in Granola (susceptible variety) were analized by TLC. In Hertha chlorogenic acid was detected at 4, 5, and 6 days after inoculatuion (DAI) with G. rostochiensis, whereas in Granola it was detected at 1 and 6 DAI with G. rostochiensis. It was assumed that the presence of chlorogenic acid for 3 successively week in Hertha, caused it more resistant than Granola. Chlorogenic acid caused intensive lignification in infected areas of Hertha as indicated by histopathological study that they were deeply stained with red colour (safranin) which was a characteristic of lignin or lignin precursor colours. Cell lignification inhibited G. rostochiensis to grow well inside root tissue of Hertha, whereas in Granola only a few cell might be lignified as indicated by less absorpstion of red colour (safranin) in infected areas. Caffeic acid was not detected either in uninoculated or inoculated of both potato varieties. These indicated that caffeic acid might not be naturally present in Hertha and Granola and nematode infection couldn’t stimulate the production of this compound.
Kata Kunci : Varietas Kentang,Nematoda Sista Kentang, chlorogenic acid, Globodera rostochiensis, histopathology and mechanism of resistance