Laporkan Masalah

Analisis model dinamis dampak inflasi terhadap sektor pertanian Indonesia tahun 1983-2004

NUGROHO, Rahmad Hadi, Dr.Ir. Any Suryantini, MM

2006 | Tesis | S2 Ekonomi Pertanian

Sektor pertanian memiliki pertumbuhan positif pada saat krisis ekonomi di tengah perekonomian nasional yang tumbuh negatif, dan peranannya dalam pembentukan PDB masih signifikan. Untuk lebih cermat menganalisis kinerja sektor pertanian dalam perekonomian nasional dan merekomendasikan kebijakan yang tepat, maka diperlukan analisis sektoral. Penelitian ini menggunakan landasan teori agregat makro ekonomi hubungan antara harga-harga dan pertumbuhan riil. Harga-harga yang digunakan pada model ini adalah agregat harga umum dengan menggunakan Indeks Harga Konsumen (IHK) dan agregat harga di sektor pertanian yang menggunakan proksi harga yang diterima petani (Pt) dan harga yang dibayar petani (Pb). Variabel penjelas lainnya adalah variabel dummy krisis ekonomi, serta upah pekerja sektor pertanian sebagai indikator dan agregat penawaran. Output sektor pertanian diwakili dengan variabel terikat PDB sektor pertanian. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data runtun waktu. Untuk mengatasi permasalahan regresi lancung pada analisis data runtun waktu digunakan model ECM. Hasil dan penelitian ini, faktor-faktor yang mempengaruhi PDB sektor pertanian adalah variabel jangka panjang harga yang diterima petani, harga yang dibayar petani, harga konsumen umum dan upah pekerja pertanian. Kecepatan pertumbuhan sektor pertanian melambat dengan adanya inflasi, oleh sebab itu hams diimbangi dengan kebijakan fiskal dan moneter yang mempengaruhi agregat permintaan ataupun kebijakan pendapatan yang mempengaruhi agregat penawaran agar terjadi peningkatan produktivitas sektor pertanian misalnya meningkatkan asupan teknologi dalam sektor pertanian, meningkatkan kualitas sumber daya di bidang pertanian dengan pendidikan. Gabungan antara kebijakan fiskal dan kebijakan pendapatan, contohnya program padat karya merupakan alternatif lain untuk membangun proyek-proyek pertanian, sehingga pengeluaran pemerintah meningkat sekaligus aset pertanian menjadi lebih besar.

Agriculture sector have positive growth while national growth have been negative, and its function in GDP still significant when economic crisis occured. For more accurate analysis, economic growth can be devide in to sectoral activities. Using macro economic theories through relationship between prices and real growth would be faced agricultural real growth through consumer’s price index, general prices in the agriculture sector within prices received and prices paid, and agricultural wage as an indicator for supply aggregate and dummy variable to vanish effect of economic crisis in the model. This study use time series data. To solve spurious regression, we use error correction model. The conclusions are, first, factors that influence GDP of agriculture sector are long runvariables of consumer’s price index, general prices in the agriculture sector within prices received and prices paid, and agricultural wage, second, inflation is faster than agricultural growth, that must be followed by fiscal and monetary policy to affect demand aggregate or income policy to affect supply aggregate, to increase productivity of agriculture sector, for instance by increasing technology in to agriculture sector, and more qualified human resource with education. Or can be combined between fiscal policy and income policy with labor intensive program to develop agricultural project, so government expenditure and agricultural asset increases all at once.

Kata Kunci : Inflasi,Sektor Pertanian, inflation, GDP of agricultural sector, prices


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.