Laporkan Masalah

Pengaruh pemotongan akar dan takaran pupuk rendah terhadap pertumbuhan bibit teh

RAMBE, Rahmi Dwi Handayani, Prof.Dr.Ir. Didik Indradewa, Dip.Agr.St

2006 | Tesis | S2 Agronomi

Harga pupuk mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Untuk menurunkan jumlah pupuk yang digunakan dapat dilakukan dengan menggunakan tanaman yang efisien dalam penggunaan pupuk. Pemotongan akar dapat meningkatkan sistem perakaran bibit teh. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh pemotongan akar dan takaran pupuk rendah, dilaksanakan di Perkebunan PT. Pagilaran Kabupaten Batang Jawa Tengah pada ketinggian ± 900 m di atas permukaan laut. Penelitian dimulai pada bulan Juni 2005 dan berakhir pada bulan Maret 2006. Tanaman yang digunakan adalah bibit teh klon Gambung 9 berumur ± 12 bulan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial 3 x 4 yang di ulang sebanyak 3 kali, masing- masing petak perlakuan terdiri dari 9 bibit teh. Faktor pertama pemotongan akar terdiri dari 3 aras, yaitu: akar tidak dipotong, dipotong 25 dan 50% panjang polibek. Faktor kedua adalah pemberian pupuk terdiri dari enam aras, yaitu: 0, 25, 50, 75, 100 dan 125% dosis rekomendasi per polibek. Hasil penelitian menunjukkan pemotongan akar 25% dari dasar polibek memperbaiki sistem perakaran dan pertumbuhan bibit teh, dengan pemotongan akar tersebut diperlukan pupuk sebesar 51% rekomendasi lebih rendah dibanding tanaman yang tidak dipotong akarnya sebesar 81% rekomendasi.

The price of fertilizer is increasing from time to time. To reduce of the amount fertilizer should be use an efficient plant. Root pruning increase root system of tea seedling. An experiment to study the effect of root pruning and low fertilizer rate was done at Plantation PT. Pagilaran, Batang, Central Java at ± 900m asl (above sea level). The research was started on June 2005 and ended on March 2006. The plant used was clone Gambung 9 of tea seed age ± 12 months. The research was arranged by using completely randomized design of 3 x 6 factorial treatments replicated 3 times. Each treatment was consisted of 9 tea seedlings. The first was root pruning consisted of 3 levels: unpruned root, pruned 25 and 50% of polibag length. The second was fertilizer application consisted of 6 levels: 0, 25, 50, 75, 100 and 125% of recommendation dosage. The result of the research showed that the root pruning at 25% length of polibag from the base significantly improved root system and the growth of tea seedling, by with the seedling needed fertilizer 51% of recommendation dosage, lower than on unpruned root of tea seedling which needed 81% of recommendation dosage.

Kata Kunci : Bibit Teh,Pertumbuhan,Pemotongan Akar dan Pupuk, fertilezer application, root prunning and tea seed


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.