Laporkan Masalah

Gerakan keagamaan radikal :: Studi antropologi atas gerakan Front Pembela Islam di Jakarta

ROSADI, Andri, Dr. Aris Arif Mundayat

2006 | Tesis | S2 Antropologi

Dalam tulisan ini, penulis menunjukkan bahwa, gerakan Front Pembela Islam yang muncul pada tahun 1998 merupakan bagian dari respons terhadap berbagai macam peristiwa yang pernah terjadi, sejak era kemerdekaan hingga era reformasi. Respons tersebut muncul didasarkan pada logika teori konspirasi dan ajaran agama, amar ma’ruf nahi munkar. Tafsir amar ma’ruf nahi munkar yang mereka gunakan menjustifikasi respons yang mereka lakukan. Respons tersebut kemudian penulis letakkan dalam konteks relasi FPI dengan negara dan masyarakat sipil. Dewasa ini, realitas menunjukkan bahwa, premanisme, pornografi, perjudian, pelacuran, dan kemaksiatan lainnya semakin menujukkan peningkatan di masyarakat. Tersebarnya kemaksiatan ini, diyakini juga bagian dari konspirasi asing untuk melemahkan dan menghancurkan umat Islam. Bentuk-bentuk kemaksiatan di atas kemudian digunakan oleh FPI sebagai kategori budaya untuk menggambarkan pelanggaran terhadap nilai-nilai agama dan hukum positif, di tengah kevakuman aparat negara dalam menegakkan hukum. Implikasi dari penggunaan teori konspirasi dan ajaran agama dalam memahami realitas menyebabkan munculnya perasaan terancam yang berlebihan, yang mengakibatkan munculnya reaksi untuk melakukan perubahan yang tidak menggunakan jalur formal institusi negara. Penggunaan jalur non formal untuk melakukan penegakan hukum menyebabkan terjadinya koflik vertikal dan horisontal. Inilah salah satu corak relasi FPI dengan negara dan masyarakat sipil. Dari hasil studi yang dilakukan, penulis melihat bahwa, munculnya reaksi yang berlebihan tersebut, di samping dipengaruhi oleh penggunaan teori konspirasi dan tafsir terhadap teks agama, juga disebabkan latar belakang sosial-ekonomi. Penulis berasumsi bahwa, status sosial seseorang ikut mempengaruhi corak keberagamaannya. Pengikut FPI yang mayoritas berasal dari kelas menengah ke bawah menunjukkan korelasi positif dari asumsi ini. Dari sini, bisa dilihat bahwa, sebenarnya, radikalisme merupakan suatu gerakan yang dipengaruhi faktor-faktor eksternal, bukan suatu kondisi yang inheren dalam diri setiap orang.

This research shows that Islamic Defenders Front’s (FPI) movement that emerged in 1998 is a response to various incidents since independence to reformation era in Indonesia. The emergence of response is based on a conspiratorial thinking and religious teachings i.e. amar ma’ruf nahy munkar. They justify of their direct-action based on their own interpretation on amar ma’ruf nahi munkar. The phenomenon of this response is put on the context of relation between FPI, state and civil society. Recently, the reality shows that vandalism, pornography, gambling, adultery and others immoral conduct increased continually in society. The spreading of this immoral conduct is also conceived as a result of foreign conspiracy to weaken and destroy Muslims community. The variety of this immoral conduct is used by FPI as cultural category to describe a religious deviation and violation of rule in society, in the absence of state apparatus commitment to enforce the law. The implication of using conspiratorial thinking and religious teachings in perceiving the phenomena (reality) lead to the emergence of over-threatened feeling. This threatened feeling leads them to take an action for the sake of change in society without respecting the state’s law. The using of non-formal way to enforce the law causes various vertical and horizontal conflicts. This is one of forms of relation between FPI, state and civil society. The result of the research shows that over-reacted ways of FPI’s followers, in addition to conspiratorial thinking and religious teachings, are also caused by social-economic background. From this result, researcher concludes that social status influences variety of people religiosity. The follower of FPI which is commonly rooted from lower-economic class shows that result. From this point, radicalism is actually seen as a movement that influenced by external factors, not as an inherent condition within people mind.

Kata Kunci : Radikalisme,Gerakan Islam,FPI, FPI, amar ma’ruf nahy munkar, conspiratorial thinking, radicalism, immoral conduct


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.