Laporkan Masalah

Aji Modereng :: Studi tentang Haji dan perubahan sosial budaya dalam masyarakat Bugis

LUTHFI, Asma, Prof.Dr. Sjafri Sairin, MA

2006 | Tesis | S2 Antropologi

Kajian ini bertujuan untuk melihat bagaimana masyarakat Bugis mengekspresikan pemaknaan dan pengalam ibadah haji mereka dalam konteks kehidupan yang mengalami perubahan. Kajian ini merupakan studi perubahan sosial yang menekankan pada praktik sosial, yakni praktik aji modereng dalam masyarakat Bugis sebagai suatu praktik keagamaan yang telah lama hidup tetapi menemukan bentuk dan makna yang berbeda tatkala globalisasi, modernisasi, serta etos konsumerisme masuk dalam kehidupan masyarakat Bugis di Pedesaan. Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian dilakukan di Takkalasi, Mangkoso dan AwerangE, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Sumber data dikumpulkan dari informan yang meliputi para pelaku aji modereng, tokoh masyarakat, dan warga di Takkalasi, Mangkoso, dan AwerangE pada umumnya. Dalam penelitian ini, data dianalisa dengan cara mengatur, mengurutkan, mengkelompokkan, memberi kode dan mengkategorikan. Kajian mengenai praktik aji modereng ini menunjukkan adanya implikasi modernisasi dan gejala konsumerisme masyarakat Bugis pedesaan yang bersemi dalam symbol,rutinitas, dan praktik keagamaan. Dalam hal ini, sakralitas dan eksklusifitas posisi ibadah haji serta kecenderungan masyarakat Bugis yang senantiasa memprioritaskan perempuan dalam pelaksanaan ibadah haji turut memberi andil yang cukup besar bagi berkembangnya praktik aji modereng ini. Praktik ini kemudian terlembagakan dalam struktur sosial masayarakat Bugis dan rutinitas kehidupan mereka utamanya dalam pesta perkawinan. Meskipun memiliki ekspresi dan model yang sama, tetapi pada kenyataannya praktik aji modereng ini mempunyai makna yang berbeda dalam konteks masyarakat yang berbeda pula. Kajian ini juga menghasilkan pemahaman bahwa munculnya praktik aji modereng sangat terkait dengan perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat Bugis, baik sebagai akibat globalisasi dan modernisasi, maupun karena struktur internal budaya Bugis sendiri yang selalu terbuka untuk menerima perubahan. Lewat praktik aji modereng ini, dapat dipahami bahwa globalisasi yang terjadi dalam masyarakat Bugis di pedesaan bukanlah proses satu arah, melainkan suatu bentuk negosiasi antara pengaruh global dengan kekuatan lokal yang selajutnya membentuk makna baru akan praktik keagamaan. Perubahan sosial masyarakat Bugis yang mendukung lahirnya praktik aji modereng ini disebabkan oleh adanya pergeseran nilai dan praktik keagamaan, pembentukan selera dan gaya hidup modern dan adanya pergeseran basis stratifikasi sosial dalam masyarakat Bugis pedesaan.

This study is aimed at exploring the way of Bugisnese society in expressing their understanding and experience of pilgrimage. This research focused on “aji modereng” as a social practice that shows a social change. In Bugisnese society, this practice forms a religious practice that has existed for a long time. However, when globalization, modernization and consumerism have meddled with the life of rural Bugisnese, they have understood and performed “aji modereng” differently from that they practiced in the past. The method used for this research is quantitative method. The research was done in Takkalasi, Mangkoso, and AwerangE. Barru, South Celebes. The data are collected by participation observation, in depth interview and documentation. The resource of data include informants, the subject of aji modereng, informal leader, and the ordinary people of Takkalasi, Mangkoso, and AwerangE. The collected data are analyzed by ordering, arranging, grouping, coding, and categoring. The data showed the implication of modernization and consumerism in religious symbols, rituals and practices of rural Bugisnese society. In this case, the sacredness and exclusiveness of pilgrimage and Bugisnese’s prioritization to women in performing pilgrimage influence the increase of “aji modereng”. This practice then has been institutionalized in the structure of Bugisnese society and their life particularly in their wedding ceremony. Although Bugisnese in different contexts express and experience “aji modereng” in the same way, they understand its meaning differently. This research points out that the emergence of “aji modereng” is not only due to globalization and modernization but also the openness of Bugisnese society to changes. The emergence of “aji modereng” practice is caused by the shift of values, religious practices, lifestyles and social stratification of Bugisnese society. “Aji modereng” shows that globalization and social change is not one way process, but a negotiation between global and local power that eventually creates a new meaning of a social practice.

Kata Kunci : Aji modereng, Praktik Sosial, Globalisasi, Modernisasi, social practice, globalization, modernization


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.