Pemikiran Islam Liberal di Indonesia era 1991-2002
QODIR, Zuli, Promotor Prof.Dr. Sunyoto Usman, MA
2006 | Disertasi | S3 SosiologiStudi ini sesungguhnya didasarkan karena adanya fenomena yang given atas pemikiran Islam yang ada di Indonesia. Perkembangan pemikiran Islam di Indonesia yang selalu tumbuh dan bervariasi ternyata menciptakan daya tarik banyak peneliti dan pengamat. Sebagai orang Islam saya pun tertarik mengamati fenomena ini sebagai sebuah kajian akademik, karena bervariasinya fenomena Islam di Indonesia. Memang telah banyak dilakukan studi atas pemikiran Islam Indonesia, namun sejauh pengamatan saya, terlampau dominan perspektif politiknya, sehingga seakan-akan pemikiran Islam di Indonesia berkembang karena dimensi politik kekuasaan, padahal sejatinya tidak demikian. Ada faktor lain yang mempengaruhinya. Faktor non politik inilah yang menjadi fokus kajian dalam studi ini, sehingga lazim disebut sebagai faktor kultural, perse pemikiran Islam. Setelah melakukan studi terhadap pemikiran Islam liberal, ternyata pemikiran Islam liberal tidak tunggal, tetapi multi varian. Multi varian ini disebabkan karena banyak faktor, seperti latar belakang sosial aktor dan komunitasnya. Karenanya, membaca Islam Liberal di Indonesia tidak bisa hanya dari satu perspektif, yakni perspketif politik misalnya, tetapi multi perspektif. Sekurang-kurangnya ada lima varian dalam pemikiran Islam Liberal di Indoesia yang terjadi tahun 1991-2002. Liberal eksklusif, liberal progresif, liberal moderat, liberal radikal dan liberal transformative. Kelima varian ini kadang ada persamaannya namun tidak sedikit perbedaan yang tajam. Oleh sebab itu, tidak bisa menjustifikasi dan menghakimi bahwa Islam Liberal di Indonesia itu sama saja, antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, karena pada realitasnya memang berbeda secara ideologis dan perspektif yang dikembangkan. Kesediaan untuk tidak menggeneralisasi adalah yang paling penting tatkala hendak melilhat fenomena Islam Liberal di Indonesia. Untuk mendapatkan gambaran tentang Islam Liberal yang menjadi kajian dalam studi ini, dilakukan pendekatan sosiologi pengetahuan perspektif Bergerian, dan dikaitkan dengan studi ideologi. Hal ini dimaksudkan agar mendapatkan kejelasan apa sebenarnya yang menjadi latar belakang sosial pemikiran para aktor, dan komunitasnya yang terkait dengan gagasan mereka sebab gagasan seseorang senantiasa terkait dengan latar belakangnya dan di situ terletak kepentingan (ideologi) yang hendak dikembangkan. Untuk memperoleh data tentang pemikiran Islam Liberal tahun 1991-2002, dilakukan kajian literatur atas buku-buku terdahulu, terutama yang diterbitkan pada tahun 1991- 2002 atas karya-karya individu yang tergolong liberal, serta buku-buku yang ditulis oleh intelektual yang sering menjadi rujukan intelektual muslim liberal di Indonesia. Di samping juga dilakukan wawancara, focus group discussion (FGD) dan kunjungan obversvasi untuk melihat aktivitas para intelektual liberal yang menjadi subjek kajian. Untuk memperkuat kajian, dilakukan juga diskusi-diskusi tentang isu yang menjadi persoalan utama intelektual Islam liberal di lembaga- lembaga swadaya masyarakat (LSM), perguruan tinggi dan ormas keislaman seperti NU dan Muhammadiyah. Setelah mendapatkan data tentang studi ini, dianalisis dengan pendekatan hermeneutic kritis perspektif Habermasian, dengan melakukan kritik atas rasionalitas atas pendapat yang dilontarkan intelektual liberal serta pemahaman yang kritis atas seluruh data yang tersedia. Dari sini diharapkan adanya objektivitas atas data yang disajikan, sekalipun penulis sering terlibat dalam diskusi-diskusi dan membaca karya-karya mereka.
This overall study is, in fact, based on the paramount fact of current Islamic thoughts in Indonesia. The development of these thoughts in various forms and orientations, has elicited ever-growing attention on the part of many researchers and academic observers. Being a Moslem as well as social researcher, this phenomenon does attract me to look at it as an object of intellectual inquiry. It is the richness and the diversity of Islamic thought that have propelled my curiosity in understanding the phenomenon. It is evidently true that there have been a great deal of study on Islamic thought in Indonesia. But, unfortunately, too much stress on political aspect leads these studies to conclude without hesitation that Islamic thought in Indonesia is born out exclusively of political power. There are a number of non-political factors that invalidates this dubious conclusion. Among those discursive factors is cultural factor that has contributed much to the development of Islamic thoughts in Indonesia. This factor becomes the central theme of this study. Having explored on the liberal Islamic thought, this inquiry find out that the thought is not one already accomplished mode of thinking, but diverse in kind and orientation. This multiplicity is rendered possible by the working and intersection of various factors such as different background of its actors and communities, to name just a few. It is for this argument that understanding Liberal Islam in Indonesia can not take solely on political perspective, but requires various perspectives. There are at least four distinct liberal Islamic thought since 1991 up to 2002, namely, Liberal Progressive, Liberal Moderate, liberal Radical, and Liberal Transformative. There has worked an intensive discourse in the sphere of liberal Moslem intellectuals in Indonesia. Such discourse focuses on the way they interpret Al-Quran, democracy, religious diversity, political struggle on the part of Islamic community, modernization, gender equality, Islamic Law (Shari’ah). These seven issues are, in fact, confined to have been their intellectual themes during the years already mentioned. This inquiry is carried out by taking Berger’s sociology of knowledge as guiding perspective. It is by the help of this perspective that background of their thought and communities can be as easily as precisely discovered.
Kata Kunci : Islam Liberal,Indonesia 1991,2002