Gerakan Islam Syari'at reproduksi Salafiyah ideologis di Indonesia
NASHIR, Haedar, Promotor Prof.Dr. Sunyoto Usman, MA
2006 | Disertasi | S3 SosiologiPenelitian ini memusatkan kajian pada â€gerakan Islam syari‘at†di Indonesia, yakni gerakan Islam yang memperjuangkan penerapan syari‘at Islam secara formal dalam negara. Gerakan Islam yang dikaji ialah Majelis Mujahidin Indonesia, Hizbut Tahrir Indonesia, serta gerakan penerapan syari‘at Islam di Sulawesi Selatan, Jawa Barat, dan Aceh. Penelitian yang menggunakan perspektif sosiologi gerakan sosial (social movements) yang dipadukan dengan analisis integralisme dan dekonstruksionisme ini berusaha menjelaskan secara interpretatif mengenai fenomena cetak-ulang (reproduksi) â€gerakan Islam syari‘at†yang menunjukkan karakter â€salafiyah ideologisâ€. Dari penelitian ini diperoleh beberapa temuan penting antara lain sebagai berikut. Pertama, bahwa gerakan â€Islam syari‘at†muncul ke permukaan tidak semata-mata karena aspek-aspek yang bersifat situasional (konteks sosial, struktural, dan kultural) sebagaimana pada umumnya penelitian yang membedah â€fundamentalisme Islamâ€. Gerakan â€Islam syari‘at†muncul dengan militan karena dorongan keyakinan dan paham keagamaan yang ingin mencetak-ulang (reproduksi) tipe ideal Islam zaman Nabi dan generasi â€Salâf al-Shâlih†(generasi terbaik sesudah Nabi) secara harfiah dan formal. Gerakan ini juga menganut paham ideologis (Islamisme, Ideologi Islam) yang bertolak dari pandangan â€integralisme Islamâ€, bahwa Islam harus diwujudkan secara â€kaffah†(menyeluruh) dalam segenap aspek kehidupan, termasuk dalam institusi negara. Kedua, gerakan â€Islam syari‘at†karena memiliki keyakinannya yang kuat tentang syari‘at Islam (syar‘isme), menampilkan corak Islam yang serba harfiah, formalistik, dan doktriner. Dengan semangat mengembalikan Islam â€murni†(ideal) ke masa Salaf dan membangun ideologi Islam, maka gerakan ini secara tipikal menampilkan karakter â€salafiyah ideologisâ€. Gerakan Islam seperti itu merupakan penjelmaaan dari reproduksi (cetak-ulang) Revivalisme dan Neorevivalisme Islam yang cenderung â€tradisional†dan â€konservatif†sebagaimana ditemukan dalam gerakan Wahhabiyah, Ikhwanul Muslimin, Jama’at-i-Islami, dan Taliban. Di tangan kelompok â€Islam syari‘at†terjadi reduksi ganda, yakni Islam sama dengan syari‘at dan Islamisasi berarti â€syari‘atisasiâ€. Ketiga, gerakan â€Islam syari‘at†yang bercorak â€salafiyah ideologis†berbeda dengan arus-utama gerakan Islam sebagaimana ditunjukkan oleh Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama yang memilih orientasi Dakwah Islam secara umum dan menampilkan sifat â€moderatâ€. Dari aspek Islamisasi, gerakan Islam syari‘at juga menyempal dari pola Islamisasi para Wali yang bersifat lentur (kultural). Gerakan ini secara kategoris berbeda pula dengan orientasi Islam â€hakikat†sebagaimana Sufisme yang lebih mengedepankan substansi (isi) daripada stuktur luar (rukun) ajaran Islam. Gerakan ini bahkan berseberangan paham dengan Neomodernisme Islam yang cenderung â€liberalâ€, di samping memperoleh penentangan dari kelompok-kelompok lain dalam masyarakat. Keempat, gerakan â€Islam syari‘at†muncul secara terorganisasi, yang berbeda dari gerakan sosial “klasik†yang tidak terlembaga. Proses dan strategi gerakannya menempuh jalur â€atas†(top down) di ranah nasional serta jalur â€bawah†(bottom-up) di ranah lokal/daerah. Manifestasi gerakannya pertama-tama memperjuangkan kembali Piagam Jakarta masuk dalam amandemen UUD 1945 yang ternyata gagal. Langkah kedua beralih ke legislasi syari‘at dan pembentukan Otonomi Khusus di sejumlah daerah, yang terbukti cukup berhasil. Perjuangan yang ketiga ialah membangun kekhilafahan Islam melalui usaha-usaha penyadaran dan wacana publik secara demokratis.
The focus of this research is to analyzes about the “Islamic shari’a oriented movement†in Indonesia, especially Islamic movements, which make a great effort for the formal implementation of Islamic shari’a under the state regulation. The Islamic movements studied in this research are Majelis Mujahidin Indonesia, Hizbut Tahrir Indonesia, and also the Islamic shari’a movements in South Sulawesi, West Jawa and Aceh. This research, which draws on the sociology of social movement perspective combined with the integralism and deconstructionism analysis, tries to make an interpretive description of the reproduction of Islamic shari’a movements that reveal “ideological salafia.†The study has found several important findings as follows. Firstly, the emergence of “Islamic shari’a oriented movement†was not only driven by situational aspects (social, structural and cultural aspects) as usually found in Islamic fundamentalism analysis, but also appear as a militant movement driven by religious views and values which has intention to reproduce the ideal type of Islam similar to the period of the prophet and salaf al-shalih’s generation (the best generation after the prophet). This movement also obeying ideological view (Islamism, Islamic ideology), which based on “Islamic integralism†perspective, that Islam should be formed “kaffah†(comprehensively) in all aspects of human life including state institution. Secondly, because of it strong orientation toward shari’a, “Islamic Shari’a oriented movement†tend to show specific characteristics, namely literal, strict and doctrinaire. Driven by the spirit of the return to ideal or pure Islam in the period of salaf, this movement typically demonstrates “ideological salafiaâ€. character. This Islamic movement is the reproduction of revivalis and neorevivalis Islam, which tend to be traditionalistic and conservative in the same manner as found in Wahhabiah, Ikhwanul Muslimin, Jama’at-I-Islami and Taliban movement. In the hand of shari’a oriented groups occur double reduction of Islam, namely Islam is the same with shari’a and Islamization means “shari’atization.†Thirdly, “Islamic shari’a oriented movement,†which has “ideological salafia†is different from the mainstream of Islamic movement as shown by Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama which have general orientation in Islamic preaching and demonstrate “moderate†characteristic. From the Islamization aspect, shari’a oriented Islamic movement also take a side route from the cultural pattern of Wali. This movement also has different characteristic from sufism, which gives more attention to the substance rather than outer part of Islamic teaching structure. Furthermore, this movement even more has contradictory view with neo-modern Islam, which tends to be liberal. Fourthly, “Islamic shari’a oriented movement†appears as organized groups and therefore has different style with the old unorganized social movements. It employs top down strategy in national level and bottom up strategy in local or regional level. At the beginning, this movement strives for the reinsertion of the Jakarta Charter into the amendment of 1945 law, which was finally fail. The next step of it strategy was the legislation of shari’a and the establishment of special regional autonomy in several provinces, and in some cases it happen as expected. The third step of this movement struggle is developing Islamic empire by democratic public discourse.
Kata Kunci : Islam Syari'at,Dinamika Gerakan,Reproduksi Salafiyah Ideologis, Islam, Islamic shari’a, â€Shari’a oriented Islamâ€, reproduction, “ideological salafiaâ€, Islamic integralism, Islamism, Islamic movement