Laporkan Masalah

Asimilasi Cina dan Melayu di bangka

ABDULLAH, Promotor Prof.Dr. Sunyoto Usman, MA

2006 | Disertasi | S3 Sosiologi

Interaksi sosial orang Cina dan Melayu di Bangka diasumsikan cenderung berasimilasi. Asimilasi orang Cina dan Melayu ini tampak unik, yaitu natural dan relatif sempurna yang terjadi dalam beberapa tingkatan dengan derajat berbeda. Penelitian ini mengajukan dua permasalahan. Pertama, pada tingkatan apa sajakah terjadinya asimilasi orang Cina dan Melayu itu? Kedua, faktor apa yang mempengaruhi asimilasi orang Cina dan Melayu itu? Penelitian ini menggunakan pendekatan interaksionisme simbolik. Pendekatan ini berguna untuk memperoleh makna laten dari interaksi sosial individu atau etnis minoritas dengan individu atau kelompok etnis mayoritas. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Fokus penelitiannya ialah keluarga Cina yang berasimilasi dengan orang pribumi Melayu di Bangka. Informan penelitian sebanyak enam orang, yang dipilih berdasarkan: pendidikan, pengetahuan, ketokohan, dan pengalaman asimilasi, asal kota-desa, atau lingkungan, Selain itu, key informan diambil dari latar belakang beragam, yakni dari kalangan akademisi, pemuda, politisi, agamawan, birokrasi dan dari tokoh masyarakat. Semua informasi dari mereka dijadikan sumber data primer, yang dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi-partisipasi, in-depth interview, dan literature review. Data primer yang bersifat kualitatif yang dibantu dengan data kuantitatif (angka-angka), dianalisis melalui metode deskriptif-kualitatif. Teori asimilasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori asimilasi Milton M. Gordon yang dielaborasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa asimilasi orang Cina dan Melayu terjadi dalam beberapa tingkatan asimilasi, yaitu kultural, struktural, perkawinan, identifikasi dan asimilasi prilaku tanpa prasangka dan diskriminasi. Setiap tingkatan ini memiliki derajat berbeda. Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Bangka dapat mempengaruhi terjadinya proses asimilasi ini. Faktor pendukungnya adalah ekonomi yang relatif berimbang secara etnis; struktur etnis Melayu sebagai etnis mayoritas dengan kepercayaan etnis yang tinggi dan terbuka; pemukiman penduduk yang menyebar secara etnis; sistem pendidikan yang demokratis; agama Islam sebagai agama mayoritas; dan sistem politik yang demokratis. Selain itu, penelitian ini menemukan tiga faktor kendala asimilasi, yaitu perubahan lingkungan ekonomi yang cenderung kurang berimbang secara etnis; perubahan pendidikan anak-anak kedua etnis; dan perubahan kehidupan beragama. Dengan temuan tersebut, penelitian ini menunjukkan bahwa asimilasi orang Cina dan Melayu di Bangka merupakan suatu asimilasi natural dan relatif sempurna. Penelitian ini oleh karenanya mendukung dan sekaligus merevisi teori asimilasi Gordon tentang multi-tingkatan asimilasi. Dari temuan di atas, penelitian ini secara teoritis merupakan elaborasi terhadap teori asimilasi Gordon. Elaborasi dilakukan karena teori ini dalam implementasinya mengalami kendala, yaitu kesulitan mencapai semua tingkatan asimilasi, mengingat setiap masyarakat memiliki struktur sosial dan ekonomi yang berbeda. Penelitian ini, secara praktis menemukan bahwa masalah etnisitas merupakan suatu hal yang kompleks. Kebijakan pemerintah hendaknya dapat membela masyarakat secara keseluruhan, sehingga tidak ada suatu etnis yang dirugikan. Dari sini, penelitian ini menawarkan pentingnya masalah pluralisme budaya dalam rangka pengambilan kebijakan etnisitas.

It is assumed that the social interaction of Chinese and Malay in Bangka, tends to be assimilative. The social interaction seems unique, which is natural and relative full assimilated at multi levels with different degree. The study asks two questions: First, at what levels does the assimilation of Chinese and Malay occur? Second, what are the factors that influence the assimilation between Chinese and Malay? It uses symbolic interactionism approach. The approach is useful to find out the latent meaning of the social interaction of the individuals or the ethnic minority with the individuals or the ethnic majority. It uses quantitative method. It focuses on the Chinese families who assimilate with the native Malay in Bangka. There are 6 informants chosen on the basis of education, knowledge, character, and assimilation experience, the rural-urban place of origin or environment. Additionally, key informants are chosen from those of various backgrounds, which are academician, young people, politician, religionist, bureaucrat, and people figures. All of the information gathered from them is considered as primary data source and it collected using participative observation, in-depth interview, and literature review. The primary data is both qualitative and quantitative in nature and analyzed using descriptive-qualitative method. The assimilation theory used in the study is that elaborated by Milton M. Gordon. The study indicates that the assimilation of Chinese and Malay takes place at some assimilating levels, which are cultural, structural, marriage, identification and behavioral without any prejudice and discrimination. Each of the levels has different degree. It also shows that the social and economic condition of Bangka people can influence the assimilation process. The supporting factors are relative balanced ethnically; the Malay ethnic structure serves as the ethnic majority with high ethnic confidence and open; the settlement of the people is distributed ethnically; the education system is democratic; Islam serves as the relgion of the majority; and the political system is democratic. Additionally, it finds that there are three obstacles in the assimilation, which are the economic prospect that tends to be ethnically imbalanced; the increase in the religious education of the children of the two ethnics; and the formal education of them. Considering the findings it indicates that the assimilation of the Chinese and the Malay in Bangka is fully natural and relative perfect. Therefore, it confirms and in the same time revises Gordon’s theory on multiple assimilating levels. Based on the findings above it provides an elaboration of Gordon’s assimilation theory. The elaboration is made because the theory faces obstacles in its implementation considering that each people have different social and economic structure. Practically, it finds that the problem of ethnicity is the complex one. Government policy should be able to support the people as a whole that there is no ethnic group suffers under certain loss. It is here that the study provides the importance of cultural pluralism issue in ethnicity policy making.

Kata Kunci : Asimilasi,China dan Melayu,Bangka,Proses Sosial


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.