Stres, koping dan pencapaian adaptasi anak yang menderita Leukemia Limfoblastik akut
GAMAYANTI, Indria Laksmi, Promotor Prof.Drs. Sutrisno Hadi, MA
2006 | Disertasi | S3 PsikologiLatar Belakang Anak yang mengalami permasalahan kesehatan, pada umumnya akan mempunyai permasalahan psikologis. Terutama pada anak penderita penyakit kronis, dikarenakan memerlukan pengobatan jangka panjang. Salah satu penyakit kronis yang banyak terjadi dewasa ini adalah kanker. Jenis penyakit kanker yang paling banyak menyerang anak-anak adalah leukemia. Kognisi dan emosi adalah aspek yang banyak berperan dalam sistem psikologis dan mempengaruhi manifestasi perilaku individu. Bagaimana seseorang menerima kenyataan hidup yang dialami dan mengatasinya banyak diarahkan oleh kedua aspek ini. Menderita sakit yang kronis atau berat merupakan pengalaman hidup yang signifikan dalam menguras sumber pribadi seseorang. Bagaimana seseorang menghadapi, upaya mengatasinya dan hasil dari proses penyesuaian terhadap kenyataan tersebut dapat diterangkan melalui pembahasan tentang stres, koping, pencapaian adaptasi (Lazarus & Folkman, 1984). Karena ketiga atribut psikologi tersebut dianggap dapat mewakili kondisi psikologis seseorang ketika menghadapi situasi hidup yang berat. Tujuan Penelitian Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat aspek psikologis pada anak yang menderita leukemia, terutama melihat hubungan antara stres, perilaku koping dan pencapaian adaptasi anak. Tujuan utama dari penelitian ini adalah melakukan uji model hubungan stres, koping dan pencapaian adaptasi anak yang menderita Leukemia Limfoblastik Akut. Metodologi Penelitian ini merupakan penelitian lapangan, dengan menggunakan metode triangulasi yang mengaplikasikan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pengambilan data secara kuantitatif yang dilakukan secara potong lintang (cross sectional). Subyek adalah pasien LLA anak dan orangtuanya yang tercatat sebagai pasien di Rumah Sakit Umum Dr. Sardjito Yogyakarta, yang tercatat mulai tahun 1998 – April 2004. Tercatat 65 orang pasien dan orangtuanya menjadi subyek untuk pengambilan data secara kuantitatif, dan data kualitatif diperoleh dari 25 subyek. Hasil 1. Tingkat stres berpengaruh terhadap koping secara langsung, stres, dan koping berpengaruh terhadap pencapaian adaptasi baik secara langsung maupun tidak langsung. Dukungan sosial dan spiritualitas berpengaruh terhadap tingkat stres, koping, dan pencapaian adaptasi. Penjabaran lebih lanjut dari model tersebut adalah sebagai berikut: a. Tingkat stres berpengaruh negatif terhadap koping. Semakin tinggi tingkat stres anak semakin rendah koping. b. Koping berpengaruh positif terhadap pencapaian adapatasi, perilaku koping memberi pengaruh positif terhadap pencapaian adaptasi. c. Dukungan sosial berpengaruh negatif terhadap tingkat stres anak. Semakin tinggi dukungan sosial yang diperoleh semakin rendah tingkat stres anak. d. Dukungan sosial berpengaruh positif terhadap koping, semakin tinggi dukungan sosial yang diterima semakin tinggi koping. e. Spiritualitas berpengaruh negatif terhadap tingkat stres anak. Semakin tinggi spiritualitas semakin rendah tingkat stres anak f. Spiritualitas berpengaruh positif terhadap koping, semakin tinggi spiritualitas semakin tinggi koping 2. Usia dan fase sakit tidak berpengaruh terhadap tingkat stres, koping, dan pencapaian adaptasi. Akan tetapi, ada perbedaan jenis emosi negatif yang muncul berdasarkan usia. 3. Manifestasi perilaku stres dan koping orang-tua mempengaruhi manifestasi perilaku stres dan koping anak. 4. Efektivitas perilaku koping orang-tua berjalan seiring dengan tahapan kebangkitan spiritualitas yang dilalui oleh orang-tua. Perilaku koping orang-tua selanjutnya mempengaruhi perilaku koping anak. 5. Orang-tua tidak mengenal tanda-tanda awal penyakit, sehingga kurang tanggap dan membuat proses awal pencarian kesehatan menjadi lebih panjang. 6. Rasa sakit yang ditimbulkan oleh tindakan pungsi lumbal dan aspirasi sumsum tulang merupakan sumber stres yang besar bagi anak. Anak takut pada tindakan medis yang menyebabkan anak menjadi takut pula terhadap dokter atau perawat. 7. Masih terjadi kesenjangan dalam pemberian dan penerimaan informasi tentang penyakit dan proses pengobatan, yang disebabkan antara lain oleh : a. Keluarga pasien masih dalam keadaan terpukul atau sangat cemas sehingga informasi yang diberikan tidak semuanya dapat diterima dengan baik. b. Kadang masih banyak digunakan istilah medis dan sangat teknis dalam memberi penjelasan tentang penyakit dan proses pengobatannya sehingga pasien tidak memahami, terutama jika tingkat pendidikan pasien rendah. c. Pasien pada umumnya hanya menangkap gejala yang tampak atau dirasakan. d. Dokter kurang memahami situasi psikologis pasien dan kurang berempati dalam penyampaian informasi. 8. Adanya seorang anak dalam keluarga yang menderita LLA, selain masalah-masalah yang berkaitan langsung dengan masalah pengobatan, kompleksitas dampak yang ditimbulkan dapat meliputi : a. Berubahnya model pengasuhan terhadap anak, baik anak yang sakit maupun anak lain yang tidak sakit. Orang-tua cenderung menjadi lebih permisif terhadap anak yang sakit dan disisi lain merasa pengasuhan terhadap anak yang tidak sakit menjadi terabaikan. b. Terjadinya perubahan model interaksi dalam keluarga besar. Keluarga besar yang tadinya sudah tinggal terpisah, ikut datang dan berperan, dalam pendampingan anak yang sakit, pengasuhan anak yang lain, pembiayaan dan dukungan emosional. Hal ini secara umum dirasakan sangat membantu, akan tetapi dapat pula terjadi masalah karenanya. c. Masalah sekolah bagi anak, anak sering tidak masuk sekolah karena kondisi fisiknya tidak memungkinkan, sedang dalam perawatan di rumah sakit, orang-tua tidak mengijinkan anaknya masuk sekolah karena merasa khawatir, atau karena anak malu akan penampilan fisiknya. d. Masalah keuangan keluarga dan masalah pekerjaan orang-tua.
Background Children who have health problems generally develop psychological problems as well. It mainly occurs in children with chronic diseases on account of long-term therapy. Leukemia, as one of chronic diseases, is the most common type of cancer which attacks children. Cognition and emotion are the aspects that play an important role in the psychological system and affect individual’s behavioural manifestation. Suffering a chronic or severe disease is a significant life experience for an individual, which may drain his/her personal sources. Accepting the problem as the fact of life, attempting to solve it, and finding the solution were explained in the discussion on stress, coping, and adaptational outcome; because they were considered representing one’s psychological condition when faced with the worst life experience. Objectives of Study To study the psychological aspect of children suffering Leukemia, mainly by observing the relationship of stress, coping behaviour, and adaptational outcome. The major objective of the study was to perform the model of relationship of stress, coping, and adaptational outcome in children with Acute Lymphoblastic Leukemia. Methods It was a field study using a triangular method by applying the quantitative and qualitative approaches. Quantitative data collection was performed cross sectionally. The subjects were ALL patients and their parents at the Sardjito General Hospital recorded from 1998 to April 2004. Sixty-five patients were collected quantitatively and twenty-five qualitatively Results 1. The model describing the level of stress directly influenced coping. Stress and coping influenced, whether directly or indirectly, the adaptational outcome. It was accepted that the social and spiritual support influenced the level of stress, coping and adaptational outcome. The model was described further as follows: a. The level of stress had a negative influence on coping. The higher the level of children’s stress the lower the coping behavior was. b. The coping behavior showed a positive influence on the adaptational outcome, coping behavior brought positive influences to adaptational outcome. c. Social support led to a negative influence on the stress level of the children. The higher the social support the children received, the lower the level of stress was. d. Social support revealed a positive influence on coping. The higher the social support received the higher the coping was. e. Spirituality had a negative influence on the level of children’s stress. The higher the spiritual level the lower the children’s level of stress was. f. Spirituality positively influenced coping. The higher the level of spirituality the higher the level of coping was. 2. The children’s age and phase of sickness did not show influence on the level of stress, coping and adaptational outcome. 3. The manifestation of parental stress and coping influenced the manifestation of the children’s stress and coping as well. 4. The parents’ effective coping behavior increased along with their rising spirituality. The parents’ coping influenced the coping of the children subsequently. xxvi 5. The parents who did not recognize early symptoms of their child’s disease became less responsive and made the search for an early cure longer. 6. The pain as a result of the lumbar puncture and spinal fluid aspiration was the major cause of stress in children 7. There was still a gap between giving and receiving information about the disease and the process of treatment. These gap were caused by : a. Parents were still shocked and anxious, so that they couldn’t understand the information properly. b. Occasionally there are still many medical and very technical terms in the explanation about the disease and the treatment process so that patients could not understand, especially when the education level is low. c. Patients generally just catch the presenting or perceived symptoms. d. Doctors cannot understand well the psychological situation of patients and have less empathy in conveying information. 8. the presence of a child in a family who suffers from ALL can cause not only problems that is directly related to problem of treatment, but also the complexities of the impact which included: a. the change of parental model in the children, whether they were ill or not. Parents tend to be more permissive to the sick child and in the other hand, the well child became neglected. b. the change of interactions between husband and wife c. the change of interaction model in the big family. The big family that already lives separately, visits, and plays role in accompanying the sick child, taking care of other children, paying bills, and emotional support. This is generally very helpful; nevertheless it can cause other problems as well. d. School problems for children. There is frequent absence from school due to physical conditions, still being treated in the hospital, not being permitted by parents because of worry, or due to being embarrassed of the physical appearance. e. Family financial and work problems
Kata Kunci : Stress, Koping,Pencapaian Adaptasi,Penderita Leukemia,stress, coping, adaptational outcome, leukaemia, children