Pemaknaan sehat-sakit ditinjau dari tipe motivasi nilai dan kecenderungan kepribadian pada masyarakat Jawa dan Bali
HIDAJAT, Lidia Laksana, Promotor Prof.Dr. Sri Mulyani Martaniah, MA
2005 | Disertasi | S3 PsikologiPenelitian ini dilakukan atas dasar keinginan untuk menjawab sejumlah pertanyaan seputar kesejahteraan masyarakat Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan masalah kesehatan. Selama beberapa tahun terakhir, Indeks Pembangunan Manusia Indonesia menempati urutan yang memprihatinkan, hampir tergolong paling rendah di antara negara-negara ASEAN lainnya. Tolok ukur Indeks Pembangunan Manusia yang mencakup taraf pendidikan, ekonomi dan kesehatan, tetap belum menunjukkan hasil yang melegakan, meski telah banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk mengatasinya. Di bidang kesehatan, salah satu penjelasan yang dapat dikemukakan di antara berbagai alasan yang ada adalah adanya kesenjangan antara makna sehat, sakit dan gejala gangguan mental yang dipahami oleh para perumus kebijakan dengan makna sehat dan sakit yang diyakini oleh masyarakat banyak, sehingga layanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat tidak tepat sasaran. Sebagai negara dengan kebudayaan, suku bangsa dan bahasa yang sangat majemuk, masyarakat Indonesia juga diwarnai pandangan tradisional yang beragam mengenai sehat dan sakit. Meski tetap diakui bahwa ada gejala-gejala penyakit yang berlaku umum di dunia, namun persepsi, afeksi dan kegiatan suatu masyarakat tertentu akan sangat diwarnai oleh tema budaya setempat. Gejala yang muncul pada umumnya akan berjalan sejajar dengan kebutuhan pribadi dan psikologis mereka, sementara aspek-aspek tersebut dapat dipahami melalui berbagai tatanan yang diwariskan turun temurun melalui budaya. Nilai-nilai yang dianggap penting akan mendorong berbagai pola perilaku, sekaligus mewarnai tampilan luar jika terjadi gangguan mental. Penelitian ini disusun sebagai upaya awal untuk mengkaji peran Tipe Motivasi Nilai Individual dan Budaya sebagai indikator terhadap Kecenderungan Kepribadian dan Pemaknaan Sehat - Sakit pada masyarakat Jawa dan masyarakat Bali. Selanjutnya, pengetahuan yang menyeluruh tentang makna sehat, sakit dan gejala gangguan mental bagi kedua kelompok penelitian juga diharapkan membantu terwujudnya pelayanan kesehatan yang lebih sesuai untuk masyarakat tersebut. Dalam penelitian ini, pengukuran nilai menggunakan Inventori Tipe Motivasi Nilai yang mengacu pada Teori Motivasi Nilai Schwartz, sementara Kecenderungan Kepribadian diukur dengan Skala Kepribadian Universitas Gadjah Mada. Selain itu digunakan juga Inventori Pemaknaan Sehat - Sakit. Sejumlah 762 subyek berperan serta dalam penelitian ini, 72 orang adalah subyek penelitian tahap awal untuk penyusunan alat ukur, 183 subyek berikutnya membantu dalam tahap Uji Coba, sementara 507 lainnya adalah mereka yang datanya digunakan untuk analisis akhir, terdiri dari 274 orang subyek laki-laki dan 233 orang subyek perempuan. Subyek penelitian Jawa berasal dari Propinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, sedangkan subyek penelitian Bali berasal dari 7 Kabupaten di Propinsi Bali. Analisis data didukung oleh Program LISREL 8.54 untuk menguji sejumlah Model Persamaan Struktural yang diajukan, sedangkan SPSS for Windows versi 12.0 digunakan untuk menguji lebih rinci perbedaan yang terdapat antara kedua kelompok penelitian. Perubahan dilakukan terhadap alat ukur Tipe Motivasi Nilai yang digunakan dalam penelitian ini melalui 3 kali Uji Coba. Hal ini menunjukkan bahwa budaya setempat berperan penting dalam memahami orientasi nilai masyarakat Jawa dan Bali, sekaligus bahwa sudah waktunya untuk memiliki alat ukur orientasi nilai yang digali dari masyarakat Indonesia sendiri. Selanjutnya, masalah sehat dan sakit perlu dipahami dengan sudut pandang yang kontekstual dan sangat hati-hati karena tiap budaya memiliki sifat-sifatnya yang khas. Seluruh Model Persamaan Struktural dapat diterima, sedangkan Tipe Motivasi Nilai, Kecenderungan Kepribadian, Usia dan Pendidikan teruji memiliki keterkaitan yang signifikan, baik melalui sumbangan langsung maupun sumbangan tidak langsung yang diberikan satu variabel terhadap variabel lainnya. Tipe Motivasi Nilai juga teruji mampu menjadi prediktor terhadap Kecenderungan Kepribadian maupun Pemaknaan Sehat – Sakit. Ditemukan perbedaan yang bermakna antara masyarakat Jawa dan masyarakat Bali dalam Pemaknaan Sehat – Sakit, pada beberapa aspek Tipe Motivasi Nilai, juga pada sejumlah Kecenderungan Kepribadian. Perbedaan gender ditemukan dalam penelitian ini, baik antara laki-laki dan perempuan secara keseluruhan, antara laki-laki Jawa dengan laki-laki Bali, antara perempuan Jawa dengan perempuan Bali, laki-laki dan perempuan Jawa, serta laki-laki dan perempuan Bali. Usia dan Pendidikan juga merupakan aspek-aspek yang berperan penting terhadap variabel lain, sehingga keduanya perlu ikut dipertimbangkan dalam penanganan masalah sehat, sakit dan gejala gangguan mental. Dalam analisis akhir disertakan catatan-catatan yang diperoleh melalui Diskusi Kelompok Terarah.
This research was intended to answer several questions which came forward regarding the Indonesian people welfare, specifically in health related matters. For years, Indonesia belongs to the lower ranks of the World Human Development Index, which is based on the education, economic and health measures, almost to be one of the lowest among its ASEAN fellows. Many efforts that have been done by the government seem not well accomplished due to a number of shortcomings. Regarding the health status, one of the reasons is the discrepancy of meaning on health, illness and mental disorder symptoms between the policy makers and the community, resulting in ineffective health services efforts. As part of a country with enormously ethnical and cultural diversity along with hundreds of languages spoken, people and communities of Indonesia are ethnically and culturally diverse characterized by traditional outlooks towards health and illness. Despite physical and mental disorders in different cultures consider the existence of universal symptom patterns in major disorders, symptoms in areas of thought, perception, affection or motoric activity differs for the reason of emphasized local cultural themes. Patients are likely to engaged symptoms that are most disturbing to their normal psychic needs and self-image, whereas those aspects could be determined by patterns that are persevered within the culture. Values would reward and encourage different patterns of behavior and effect the socio-cultural change on adjustment which then coloring the external manifestation of mental disorders. The purpose of this study was to investigate the role of individual and cultural values as possible indicators of personality predisposition as well as the meaning of health and illness among Javanese and Balinese people. Moreover, a better knowledge about what health, illness and mental disorder meant to those people was expected to contribute to a more effective health service attempt. The human values were based on Schwartz Motivational Types of Values theory, whereas personality predispositions were measured using the Gadjah Mada University Personality Scale. The Meaning of Health and Illness Inventory was also implemented. As many as 762 subjects have taken a part in this study, 72 subjects took part in the preliminary study whose data were used for the inventory construction, the other 183 of them were the try out participants, while the later 507 are those men and women whose data were used for the final analysis. 274 are male samples, and 233 are female samples. The Javanese subjects were taken from Central Java Province and the Special Territory of Yogyakarta, while Balinese subjects were taken among the Province of Bali regions. The data analysis were supported by the LISREL 8.54 Program to examine a number of Structural Equation Models of Health and Illness Meaning, besides the SPSS for Windows 12.0 version to go through the detail differences between the two ethnic groups. The Individual and Cultural Motivational Type of Values Inventory had gone through three times alteration before being applied to this research, showing that to examine the structure of values or how its constituent parts are put together need a strong cultural reference. It also supported the necessity of an Indonesian value inventory of its own. Furthermore, health and illness related matters should be understood thoroughly on a contextual base since every culture preserves its specific characteristics. All Structural Equation Models proposed were tested significantly, whereas Motivational Types of Values, Personality Predisposition, Age and Education were proven to be significant, either through a direct contribution or an indirect contribution. Motivational Type of Values were also proven to be excellent predictors towards personality predispositions and mental disorder symptoms. Javanese and Balinese people were evidently different in the way they perceived health and illness, while some Motivational Type of Values differ as well, follow on dissimilarities in some personality predispositions. Gender differences were found in this study, either between male and female samples as a whole, or between Javanese men and Balinese men, Javanese and Balinese women, Javanese men and women, and also between Balinese men and women. Age and Education were also important contributors to other variables, telling that they play a special role in health and illness matters. The final analysis went along with clarifications taken from the Focused Discussion Group.
Kata Kunci : Kepribadian,Pemaknaan Sehat,Budaya Jawa dan Bali