Laporkan Masalah

Pengelolaan lahan untuk meningkatkan potensi usahatani berkelanjutan :: Kasus usahatani lereng barat Gunungapi Lawu Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar Provinsi Jawa Tengah

RUSLANJARI, Dina, Promotor Prof.Dr. A.J. Suhardjo, MA

2006 | Disertasi | S3 Ilmu Lingkungan

Penelitian ini bermaksud mengungkapkan pengelolaan lahan untuk meningkatkan potensi usahatani berkelanjutan, kasus usahatani di lereng gunungapi, dengan tujuan : 1) menganalisis faktor abiotik sebagai penentu terhadap keberlanjutan usahatani di tiap satuan lahan di berbagai fungsi kawasan, 2) menguji perbedaan faktor kultural antara dua kelompok petani pada satuan lahan yang potensial untuk usahatani berkelanjutan dengan usahatani tidak berkelanjutan, 3) menyusun pola pengelolaan usahatani berkelanjutan di lereng barat Gunungapi Lawu di Kecamatan Tawangmangu. Peneliti memilih lahan di lereng Gunungapi Lawu, Kecamatan Tawangmangu guna mencapai sasaran, dengan mempergunakan pendekatan ekologikal. Penelitian ini menggunakan metode survai, dengan obyek satuan lahan sebagai unit analisis faktor abiotik lahan. Obyek untuk analisis faktor kultural menggunakan rumahtangga tani pemilik dan penggarap lahan sebagai unit analisis, yang dipilih secara purposive. Penelitian ini menggunakan data kualitatif dan kuantitatif, sifat uraian secara deskriptif yaitu penelitian yang menggambarkan keadaan aktual dari obyek penelitian berdasarkan fakta yang ada di lapangan. Hasil penelitian yang didapatkan: a). usahatani berkelanjutan pada budidaya tanaman semusim tidak dapat dilakukan di seluruh satuan lahan di kawasan fungsi lindung, karena telah mengakibatkan dampak negatif pada lingkungan, yaitu terjadinya longsor di Desa Gondosuli dan Desa Plumbon serta pertambahan lahan kritis di Desa Sepanjang; b). usahatani berkelanjutan tidak dapat dilakukan di kawasan fungsi penyangga di seluruh satuan lahan di Desa Gondosuli dan Desa Plumbon yang terletak pada lahan dengan kemiringan lereng antara 25–40% dan mempunyai fungsi sebagai kawasan recharge area; c). usahatani berkelanjutan tidak dapat dilakukan di kawasan fungsi budidaya yang terletak di Kelurahan Tawangmangu, Desa Blumbang, Kelurahan Kalisoro dan Desa Gondosuli. Tingkat erosi melebihi ambang batas yang dapat ditolelir. Usahatani berkelanjutan untuk budidaya tanaman semusim tidak dapat dilakukan di lahan pada kemiringan lereng >20%. Usahatani berkelanjutan yang terdapat di kawasan fungsi budidaya, terletak pada satuan lahan kemiringan lereng =20%. 2. faktor kultural sebagai pembeda satuan lahan yang mempunyai potensi untuk usahatani berkelanjutan dengan satuan lahan tidak berkelanjutan adalah, yaitu: a). status kepemilikan lahan, b). luas lahan kepemilikan, c). pemahaman konservasi, d). pendapatan usahatani, e). intensitas penggunaan lahan, dan f). swadaya teknologi konservasi. 3. Pola pengelolaan usahatani berkelanjutan di lereng barat Gunungapi Lawu pada Kawasan Fungsi Budidaya adalah dengan cara: peningkatan dosis pupuk organik, efisiensi dosis pupuk anorganik, dan menanggulangi faktor pembatas pada kesesuaian tanaman terhadap kondisi fisik lahan. Penanggulangan faktor pembatas dilakukan dengan cara: perubahan sistem tanam, perubahan waktu tanam, perubahan ukuran teras, mempertinggi guludan, pemberian mulsa jerami serta plastik untuk komoditas tertentu. Beberapa komoditas sayuran yang dibudidayakan petani telah mencapai produktivitas tinggi, walau tidak sesuai syarat tumbuh dengan kondisi fisik lahan. Tanaman tersebut secara ekonomi menguntungkan. Aktivitas usahatani untuk mencapai keberlanjutan, dilandasi dengan pemahaman akan makna konservasi oleh petani dan swadaya konservasi yang dilakukan berbasis konservasi sumberdaya lahan yang secara sosial dapat diterima oleh masyarakat.

This research aims to explore the land management to improve the sustainable farming, case of the farming in a volcano slope. Its purposes are 1) to analyze the land physical factors as the determinant of the continuing farming by measuring the land fertility, the level of erosion and land productivity in every land unit among the various functions of area, 2) to examine differences of cultural factors of farmers cultivating land units which are potentially sustainable and unsustainable, 3) to design the pattern of the sustainable farming on the slope of Lawu volcano in Tawangmangu district. The research belongs to the Study of Environment Science. The researcher selected the area using ecologycal approaches in order to achieve the purposes. The research applies survey method, in which the land unit as analyses unit of the physical factors. The land unit used to analyze the social economic factors is farming households, selected purposively from the households both the owner and the processor of the land. The research use quantitative and qualitative data, the descriptive note is the research elaborating the actual condition of the object based on the fact in the field. The results of the research show that the farming activities conducted by the households hereditary in the area above effect 1. a) sustainable farming in seasonal plant cultivation cannot be implemented on all unit of land in the conservation area, for it brings negative impacts to environment such as causing land-slide in Gondosuli and Plumbon villages and critical land in Sepanjang village; b) sustainable farming cannot be implemented in buffer area in Gondosuli and Plumbon villages. The land locate on a slope with 25-40% gradients, witch functions as recharge area; c) sustainable farming cannot be implemented on cultivation area located in Tawangmangu, Blumbang, Kalisoro, and Gondosuli villages. The evidence is a high level of erosion which exceeds the tolerable maximum level. Sustainable farming implemented in cultivation area shall locate on land with = 20 gradient. The cultural factors supporting the continuing farming are: a). the narrow land wide posed by the farmer, b). the income of the farming, c). the farmers’ understanding about conservation, d). self supporting technology of conservation, and e). intensity of the land use. The management pattern of the sustainable farming on the western slope of Lawu volcano in Tawangmangu district, on both sustainable and unsustainable land units in cultivation function area by increasing organic fertilizer dosage, making use of more efficient anorganic fertilizer dosage, and controling the limiting factor in plan properness to land physic. Controlling limiting factor in plant properness to land physic can be done in several ways such as changing the planting system, changing the planting time, changing terrace size, elevating bedding, adding straw mulch and plastic to certain commodity. A number of vegetable commodities planted by farmers have reached high productivity despite the unappropriateness to land physical condition. As the result, they can be economically profittable crops. Farming activity to achieve sustainability is based on the awareness of the importance of conservation by farmer and self funded conservation performed on the basis of land conservation socially acceptable for the society.

Kata Kunci : Usahatani Berkelanjutan,Pengelolaan Lahan,Lereng Gunung Api, land management, sustainable farming


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.