Laporkan Masalah

Peranan ikatan kekerabatan dalam proses migrasi penduduk :: Suatu studi pada warga sulit air di DKI Jakarta

ISKARNI, Paus, Promotor Prof.Dr.Ir. Edhi Martono, M.Sc

2005 | Disertasi | S3 Kependudukan

Selain faktor alam, faktor budaya juga turut mendorong sesorang pergi merantau. Merantau adalah sesuatu yang mulia, yaitu agar berguna untuk kampung halaman dengan memperkaya harta pusaka dan membangun kampung halaman, maka selama budaya Minangkabau masih ada, merantau akan tetap ada. Oleh sebab itu kekerabatan materilineal sebagai modal sosial harus berperan sebagai sumber daya, untuk itu perlu diketahui Bagaimana peranan ikatan kekerabatan dalam memperlancar proses merantau orang-orang Minangkabau (Sulit Air). Untuk itu, perlu dilakukan penelitian guna mengetahui sumbangan kekerabatan tersebut dalam proses migrasi yang dapat dimanfaatkan dalam pertimbangan pengambilan kebijakan dan sumbangan untuk hasanah ilmu, terutama kependudukan dan lebih khusus lagi migrasi penduduk. Penelitian ini menggunakan pendekatan strukturasi dengan memadukan pendekatan survey dan pendekatan kualitatif secara bersama-sama. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa ikatan kekerabatan nialrilineal Minangkabau yang memihak kepada ibu dapat berperan sebagai sumber daya yang turut memperlancar migrasi penduduk. Besarnya peranan kekerabatan dalam proses migrasi dipengaruhi oleh sosialisasi budaya nagari asal, ekonomi rumah tangga migran dan kontinuitas kekerabatan nagari asal. Hubungan dan jaringan kekerabatan telah membantu migran dalam uapaya adaptasi dengan daerah tujuan. Di mana, para migran berhasil mewujudkan hubungan kekerabatan menjadi jaringan ekonomi, sosial dan budaya. Ikatan kekerabatan menjadi dasar hubungan dan jaringan ekonomi migran untuk mewujudkan moto mereka, yaitu "meneruka di rantau dan membangun kampung halaman", sesuai dengan misi budaya Minangkabau tersebut. Adapun organisasi yang dibentuk oleh perantau (migran) yaitu Sulit Air Sepakat (SAS) turut membantu migran di daerah tujuan, baik untuk survival maupun pengembangan usaha. Seiring dengan perubahan lingkungan tempat tinggal, maka kekerabatan nagari asal tidak berlanjut secara utuh, namun perubahan tersebut masih dalam batas toleransi budaya Minangkabau itu sendiri sesuai dengan sifatnya yang tetap dan berubah dengan falsafah alam terkembang jadi guru. Untuk menjaga keberlanjutan nilai-nilai kekerabatan ncigari asal di daerah tujuan, selain orangtua di rumah tangga, organisasi juga turut berupaya dengan melaksanakan berbagai kegiatan, baik di daerah rantau maupun di daerah nagari asal. Berhubung kekerabatan tersebut terbukti sebagai sumber daya yang memberikan peran besar dalam memperlancar proses migrasi, maka keberlanjutannya perlu dijaga agar tetap menjadi aset dan kekuatan dalam pembangunan termasuk bidang kependudukan.

In addition to natural factor cultural factor also motivates people to leave their home to make their way in life. Therefore, the existing matrilineal kinship as social capital needs to play an important role in making use of the social resource. It is necessary to investigate to what extent the kinship ties play the role in paving the way for Minangkabau people to leave their home to make their way in life in other regions, especially because of the lack of water for daily use (the lack of fresh water). It is therefore necessary to conduct a study to find out the contribution of the kinship to the migration process. It is also expected that such a study is able to contribute to the process of decision-making and to enrich the science of demography, especially the migration of a population. The study uses survey approach and qualitative approach simultaneously. Based on the results of the study it can be concluded that the existing matrilineal kinship ties play an important role as social resource in paving the way for the local people to migrate to other regions. Along with the existing changes in the living environment, the kinship in the place of origin (nagari) is not able to survive completely. It changes in the tolerance of Minangkabau culture per se. The organization established by those living in other regions (also the migrants) is Sulit Air Sepakat, the agreement of the people with the lack of fresh water. The organization has helped the migrant in the area of destination much, both for their survival and for the development of their business. Also, it helps maintain the continuation of the kinship values of the area of origin (nagari) in the area of destination. In addition to the contribution to their parents in the home village, it also tries to organize various activities both in the area of destination and in the area of origin (nagari). Given that the organization and the kinship is proven to play an important role as social resource in paving the way for the local people to migrate, it is necessary to maintain the existence and the continuation of it.

Kata Kunci : Migrasi Penduduk,Ikatan Kekerabatan,Orang Minangkabau


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.