Laporkan Masalah

Transformasi sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat Aceh tahun 1970-1999 :: Kasus zona industri Lhokseumawe

ALAMSYAH, Promotor Prof.Drs. H.R. Bintarto

2005 | Disertasi | S3 MIPA (Geografi)

Disertasi ini ditulis berdasarkan hasil penelitian mengenai transformasi sosial, budaya dan ekonomi masyarakat Aceh tahun 1970-1999 (kasus zona industri Lhokseumawe), dengan tujuan penelitian untuk mengkaji sebab terjadinya transformasi sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat. Metode yang digunakan adalah metode survai. Responden adalah penduduk asli dan pendatang yang telah lama menetap di daerah penelitian, dan berumur 45 tahun ke atas. Lokasi penelitian adalah daerah perdesaan dan daerah perkotaan kota Lhokseumawe. Jumlah responden yang diteliti sebanyak 150 kepala keluarga berada di perdesaan dan 150 kepala keluarga yang berada di perkotaan dari 6000 kepala keluarga yang dipilih secara Purposive Sampling dengan ketentuan jumlah petani 50 persen, buruh 10 persen, nelayan 10 persen, pegawai negeri 10 persen, pegawai swasta 10 persen dan pedagang 10 persen. Metode analisis data yang digunakan adalah metode tabulasi frekuensi dan tabulasi silang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi sosial di daerah perdesaan pada tahun 1970 adalah hubungan penduduk asli dengan pendatang harmonis. Kini menjadi kurang harmonis. Untuk daerah perkotaan pada tahun 1970 kurang harmonis, kini menjadi harmonis. Hal ini disebabkan masyarakat kota lebih mudah berinteraksi dan berkomunikasi dengan pendatang. Gotong royong di daerah perdesaan pada tahun 1970 sangat kuat jiwa gotong royong kini menjadi menjadi luntur, sedangkan di daerah perkotaan justru terjadi peningkatan jiwa gotong royong. Pendidikan di daerah perdesaan dan perkotaan pada tahun 1970 rendah, kini berada pada tingkat sedang. Hubungan dalam keluarga, kaum wanita baik di perdesaan maupun di perkotaan mulai mengambil peran tanggung jawab keluarga. Transformasi budaya yang terjadi adalah kehidupan syiar agama (Islam) mulai menurun ini terjadi baik di daerah perdesaan maupun di perkotaan. Adat dan upacara tradisional baik di daerah perdesaan maupun perkotaan kini mulai terlihat kurang mendapat perhatian dari masyarakat. Kesenian dan kerajinan, kini mulai terlihat kurang mendapat respon masyarakat perdesaan dan perkotaan. Bangunan-bangunan adat sudah tidak terlihat lagi bangunan yang baru. Transformasi ekonomi yang terjadi adalah mata pencaharian sudah banyak lapangan kerja baru yang pada tahun 1970 belum pernah ada dan responden banyak yang mempunyai pekerjaan sampingan. Pendapatan menunjukkan peningkatan yang tajam pada tahun 1999, namun tidak secara otomatis dipandang sebagai peningkatan kesejahteraan keluarga. Hal ini disebabkan pengeluaran untuk berbagai kebutuhan keluarga juga semakin meningkat. Pertambahan penduduk terjadi peningkatan sebesar 100,0% selama 28 tahun, dan tenaga kerja semakin meningkat. Penggunaan lahan lebih produktif, walaupun lahan pertanian semakin berkurang baik di daerah perdesaan maupun perkotaan.

This dissertation is written based on a research on impacts of industry toward social, cultural, and economic life (a case study in Lhokseumawe Aceh). The research aimed to study the cause of negative and positive impacts on social, cultural, and economic life. It applied a survey method. The respondents were native inhabitants and migrants who had setttled in the research areas and were 45-years old or older. The research areas covered urban and rural areas of Lhokseumawe. The respondents consisted of 150 households in rural areas and 150 households in urban area out of a total 6000 households population. They were selected in a stratified random sampling by considering the following proportions: 50% farmers, 10% labors, 10% fishermen, 10% workers at private institutions, 10% civil servants, and 10% sellers. Frequency tabulation and cross tabulation methods were used for data analysis. The research results show that the social, cultural, and economic condition in rural area before industrialization had a harmonious relation between the natives and migrants. After the industrialization, however, the relation reduces into a less harmonious one. In urban area, they used to have a less harmonious relation before industrialization but then grows into a harmonious one after industrialization due to the characteristic of urban society, i.e., easy to communicate and adapt with new comers. The spirit of mutual work in rural area used to be very strong before industrialization and grows weaker after it, while in urban area shows the opposite. Education in both rural and urban areas was low before and now it is in a moderate level. Tribal sensitivity and conflict often occur in both urban and rural areas after industrialization, which is induced by a feeling of competition among the society. Relation in family, between man and woman in urban and rural areas begin to take family responsibility. The impact on cultural life is that the magnificence of religion (islam) reduces both in urban and rural areas. Traditional custom and ceremony in urban and rural areas begin to receive less attention from the society. Arts and crafts get good responses from urban and rural areas. New buildings in traditional architecture disappear. The impact on economic life is growth of new labor opportunities, which did not happen before industrialization. Now, many respondents have side-jobs. Accordingly, income shows a steep increase after industrialization, but it directly imply an increase of family welfare as spending also increases. Population increases by 100.0% within 28 years and labor force also increases. The use of land becomes more productive although the size of land is shrinking in both urban and rural areas.

Kata Kunci : Transformasi Sosial, Budaya dan Ekonomi, Masyarakat Aceh 1970,1999, industrial impact, social, cultural, and economic impacts, labor opportunity, population growth, land use.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.