Laporkan Masalah

Klasifikasi lahan potensial untuk rehabilitasi mangrove di pantai utara Jawa Tengah :: Rehabilitasi Mangrove menggunakan jenis Rhizophora mucronata

POEDJIRAHAJOE, Erny, Promotor Prof.Dr.Ir. Djoko Marsono

2006 | Disertasi | S3 Ilmu Pertanian (Kehutanan)

Kendala utama dalam merehabilitasi kawasan mangrove Pantai Utara Jawa Tengah adalah kondisi ekologis habitat yang kurang sesuai. Oleh karena itu perlu disusun suatu klasifikasi lahan untuk pertumbuhan mangrove. Tujuan klasifikasi adalah mengelompokkan kondisi habitat yang mirip diantara kawasan mangrove, agar diperoleh kesamaan dalam pengelolaannya. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan unit-unit ekologis kawasan mangrove, kemudian dilakukan pengelompokan berdasarkan klas kesesuaian dari variabel-variabel lahan yang penting bagi pertumbuhan mangrove. Pengelompokan tersebut membentuk klasifikasi, kemudian dilanjutkan dengan mencari parameter komponen lahan yang menjadi ciri pembeda terbentuknya klasifikasi. Dengan adanya ciri pembeda pada setiap pengelompokan, maka kawasan mangrove yang berada dalam satu kelompok paling tidak mempunyai kesamaan. Dengan demikian rehabilitasi dan pengelolaan mangrove selanjutnya akan mengacu pada komponen lahan yang sama. Penelitian diawali dengan membuat peta-peta dasar kawasan mangrove yang mendasarkan pada faktor kemiringan lahan, salinitas, ketebalan lumpur dan tahun tanam mangrove. Kemiringan, salinitas dan ketebalan lumpur diukur pada area mangrove tahun tanam 2000, 1999 dan 1997 mulai kawasan mangrove Pantai Utara Kabupaten Brebes sampai Rembang. Pembuatan peta masing-masing didasarkan pada data yang diambil langsung dari lapangan. Peta-peta yang terbentuk kemudian didelineasi sehingga membentuk unit-unit ekologis. Pada setiap unit ekologis dilakukan pengukuran terhadap variabel terpilih, yaitu komponen vegetasi yang terdiri dari kerapatan, tingi dan lebar perakaran mangrove, serta komponen lahan yang terdiri dari lengas, tekstur, pH tanah, C, BO, N, P, K, KPK, Kadar lempung, kadar debu, kadar pasir, kelas tekstur, suhu perairan, pH air, salinitas, DO, plankton dan nekton. Pengukuran komponen vegetasi dilakukan dengan membuat petak pada setiap luasan 15 ha. Luasan ini dianggap mewakili setiap populasi, karena habitat berupa perairan yang mempunyai homogenitas tinggi. Dengan demikian jumlah plot pada setiap unit ekologis adalah luasan unit ekologis dibagi dengan 15 ha. Sedangkan pada komponen lahan, petak diukur pada setiap luasan 60 ha. Apabila lebar jalur hijau diketahui rata-rata 533 m, maka peletakan petak untuk vegetasi dilakukan pada setiap jarak 300 m searah garis pantai. Sementara itu peletakan plot untuk komponen lahan ditempatkan pada setiap 1 km searah garis pantai. Ulangan dilakukan pada arah tegak lurus garis pantai dengan cara mebagi kawasan menjadi 3 sesuai dengan pembagian zonasi mangrove, yaitu arah menghadap laut, tengah dan darat. Dengan demikian berdasarkan perhitungan, maka jumlah plot untuk vegetasi sebanyak 419x3 atau 1257 dan jumlah plot untuk komponen lahan sebanyak 115x3 atau 345. Untuk memperoleh nilai indeks diversitas terhadap komponen lahan yang merupakan suatu populasi (plankton), maka analisis yang digunakan adalah formula indeks diversitas dari Simpson, sedangkan pengelompokan serta klasifikasi menggunakan analisis tandan (cluster analysis) yang mendasarkan pada koefisien jarak. Selanjutnya untuk mengetahui ciri pembeda dari hasil klasifikasi, digunakan analisis diskriminan (discriminant analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa delineasi dari peta lebar jalur hijau,salinitas, ketebalan lumpur dan tahun tanam mangrove membentuk 32 unit ekologis dengan total luasan 8.022,58 ha. Klasifikasi dari 32 unit ekologis berdasarkan kerapatan, tinggi, dan lebar perakaran mangrove pada jarak tandan ke lima menghasilkan 5 kelompok tandan, yaitu kelompok G, H, D, E dan F. Apabila kualitas lahan diurutkan mulai dari yang terbaik dalam klasifikasi diatas, maka ditemui urutan yaitu kelompok D, kelompok G, kelompok H, kelompok F dan kelompok E. Kelompok D meliputi wilayah sebagian Losari, Kramat dan Cepiring. Ciri-ciri kawasan tersebut adalah Plankton >250 ind/liter, kandungan N tersedia >150 ppm, DO >24,5 ppm,kemiringan pantai <2%, salinitas : 20-30‰, ketebalan lumpur >40cm, kerapatan tanaman >7000 ind/ha dan tinggi tanaman antara 100-150cm. Kelompok kedua adalah kelompok G yang meliputi wilayah Kecamatan Wanasari, Ulujami, sebagian Wedung,Kedung dan Kaliori. Kualitas lahan pada kelompok ini mempunyai ciri : densitas plankton antara 150-200 ind/lt, kandungan N tersedia antara 200-250 ppm, kerapatan tanaman antara 6000-7000 ind/ha, tebal lumpur antara 30-40cm, kemiringan pantai <2%, salinitas antara 20-30‰, dan tinggi tanaman antara 100-150cm. Kelompok ketiga adalah kelompok H. Kelompok ini meliputi meliputi wilayah Kecamatan Brebes,Ulujami, Sayung, sebagian Wedung dan Sluke. Ciri kawasan ini adalah Plankton antara 150-200 ind/lt, N tersedia antara 50-100ppm, kemiringan pantai antara 2-3%, kerapatan tanaman antara 5000-6000/ha, ketebalan lumpur antara 20-30cm, salinitas antara10- 20‰ dan tinggi tanaman antara 150-200 cm. Kelompok keempat adalah kelompok F. Kelompok ini meliputi wilayah Kecamatan Tanjung, Bulakamba, Wiradesa, dan sebagian Kedung. Ciri kualitas lahan dari kawasan ini adalah Plankton antara 100-150 ind/lt, kemiringan pantai antara 2-3%, kerapatan tanaman antara 3000-5000 ind/ha,Tinggi tanaman >200cm, ketebalan lumpur antara 20-30 cm, dan kandungan N tersedia antara 30-50 ppm. Kelompok kelima adalah kelompok E. Kelompok E meliputi wilayah Kecamatan Bangsri, sebagian Kedung, Cipiring Kendal, Wiradesa, sebagian wilayah Tegal Barat. Ciri kualitas lahan dari kelompok ini adalah Plankton <100 ind/lt,Kemiringan pantai >3%, kerapatan tanaman antara 2000-3000 ind/ha, tinggi tanaman >200cm, ketebalan lumpur <20cm, salinitas <10‰, kadar pasir >40%, dan kandungan N tersedia <30ppm.

Kata Kunci : Rehabilitasi Mangrove,Klasifikasi Lahan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.