Laporkan Masalah

Analisis produktivitas, finansial dan ekonomi usahatani kakao dalam kawasan hutan di Sulawesi tenggara

RIANSE, Usman, Promotor Prof.Dr.Ir. Sri Widodo, M.Sc

2006 | Disertasi | S3 Ilmu Pertanian (Ekonomi Pertanian)

Penelitian bertujuan untuk: (1) mengetahui faktor- faktor yang mempengaruhi luas tanaman dan produktivitas usahatani kakao di Sulawesi Tenggara; (2) menganalisis produktivitas usahatani kakao pola monokultur dan pola integrasi yang diusahakan petani dan faktor-faktor yang mempengaruhinya; dan (3) mengetahui perbandingan manfaat dan biaya usahatani kakao yang diusahakan di dalam kawasan hutan pola monokultur dan pola integrasi aneka tanaman, baik dari aspek finansial maupun ekonomi yang mempertimbangkan aspek sosial dan lingkungan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif terhadap usahatani kakao pada sekitar dan dalam kawasan hutan di Sulawesi Tenggara. Pendekatan analisis yang digunakan adalah pendekatan ekonometrika dalam ”Pooled Cross-Section and Time-Series Estimation” model Fixed Effects dan model Random Effects mempertimbangkan hubungan antara explanatory variables dengan unobserved effects (perbedaan lokasi usaha) selama periode analisis. Estimasi yang digunakan adalah model fungsi permintaan input untuk luas tanaman kakao dan model penawaran output untuk produktivitas jangka panjang. Pada tingkat petani dilakukan pendekatan fungsi produktivitas usahatani dan produktivitas lahan. Persamaan matematis disusun dalam bentuk double log. Selain itu digunakan pendekatan analisis Extended Cost-Benefit Analysis (ECBA) dengan mempertimbangkan aspek finansial, ekonomi sosial dan lingkungan. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) Dalam jangka panjang, perkembangan luas tanaman kakao di Sulawesi Tenggara dipengaruhi oleh jumlah petani, harga input, teknologi dan populasi PBK. Pengembangan produktivitas usahatani kakao di Sulawesi Tenggara dipengaruhi oleh harga ekspor biji kakao, upah tenaga kerja, nilai tukar dollar USA terhadap Rupiah, teknologi usahatani dan kebijakan HKm. (2) Produktivitas usahatani kakao pada tingkat petani dipengaruhi secara bersamasama oleh luas tanaman, jumlah sarana produksi, umur tanaman, jumlah tenaga kerja, keadaan sosial ekonomi, sosial demografi, pengetahuan dan keterampilan petani, pola usahatani, status lahan, tingkat kemiringan lahan, dan lokasi usaha. (3) Integrasi Kakao+Cengkeh merupakan pola usahatani yang memberikan keuntungan kepada petani dibandingkan usahatani kakao pola monokultur. Secara ekonomi ditemukan 11 pola usahatani kakao integrasi yang lebih layak daripada pola monokultur. Dengan demikian, usahatani kakao pola integrasi aneka tanaman (agroforestri) lebih prospektif daripada usahatani kakao pola monokultur.

The research aims (1) to analyse factors affecting total size and cocoa cultivation productivity in Southeast Sulawesi, (2) to analyse productivity difference between monoculture cocoa cultivation and integrated cocoa cultivation, including the affecting factors, and (3) to analyse benefit and cost ratio of cocoa cultivation in forest area both adopting monoculture pattern and different crops integration pattern, from financial and economic aspects that also consider social and environmental aspects. The research uses descriptive method to study cocoa cultivation around and in forest area of Southeast Sulawesi. It applies econometric approach of “Pooled Cross-Section and Time–Series Estimation” of fixed effect estimation and random effects method depend of unobserved effect. The general model applied in regression analysis is “double log” for all estimator equations demand and output supply functions. Besides, it also uses Extended Cost Benefit Analysis (ECBA) approach by considering financial, economic, social, and environmental aspects. The research results are: 1) In the long run, the number of farmer is the main factor to cocoa farm extension in Southeast Sulawesi. The wages of labour on estate plantation is the main factor to increase the total productivity of cocoa farm. 2) The productivity of cocoa farm at farmer level is affected simultaneously by the size of area, number of production facilities, age of plant, number of workers, social and economic condition, social demography, farmers’ knowledge and skills, cultivation pattern, land status, gradient, and cultivation location. 3) Cocoa cultivation of cocoa+clove integration pattern around the forest area is financially most prospective for development, while cocoa+cashew+orange+ pepper integration pattern is economically most prospective for development. Therefore, cocoa farm of multi crops integration is more prospective than monoculture cultivation.

Kata Kunci : Usahatani Kakao, Kawasan Hutan,Produktivitas dan Finansial, land size and productivity, financial and economic feasibility, cocoa cultivation pattern, forest area.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.