Laporkan Masalah

Perbedaan Retinopati Diabetika yang tidak terdeteksi di perkotaan dan pedesaan di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

SOEDARTO, A. Niken, dr. A. Nurini Agni, SpM, MKes

2006 | Tesis | PPDS I Penyakit Mata

Latar belakang: Retinopati diabetika sering tidak menimbulkan gejala sehingga tidak disadari pasien. Keadaan sosial ekonomi di pedesaan menyebabkan masyarakat tidak terbiasa check-up rutin, sehingga terjadi keterlambatan diagnosis. Tujuan:Menentukan perbedaan jumlah kasus retinopati diabetika yang tidak terdeteksi di daerah pedesaan dan daerah perkotaan di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Bahan dan cara:Penelitian cross-sectional pada 3000 orang berusia 40 tahun atau lebih pada pedesaan dan perkotaan. Kriteria Sensus Penduduk tahun 2000 digunakan untuk menentukan suatu desa digolongkan perkotaan atau pedesaan yang meliputi kepadatan penduduk, persentase rumah tangga tani, akses terhadap fasilitas perkotaan, persentase rumah tangga TV, jarak ke pusat hiburan terdekat, jarak ke sekolah terdekat, persentase rumah tangga telepon, dan persentase rumah tangga listrik. Penelitian berlangsung dari bulan Mei sampai dengan bulan Agustus 2004. Seluruh subyek penelitian menjalani pemeriksaan mata lengkap dengan protokol standar untuk menentukan adanya retinopati diabetika dan kuesioner lengkap tentang persepsi mereka terhadap diabetes dan retinopati diabetika. Hasil:641 laki-laki (46,7%) dan 733 perempuan (53,3%) untuk kategori pedesaan serta 584 laki-laki (35,9%) dan 1042 perempuan (64,1%) untuk kategori perkotaan turut serta dalam penelitian. Prevalensi retinopati diabetika pada subyek yang kadar gula darahnya lebih dari 140 mg/dl di pedesaan untuk mata kanan adalah sebesar 51,7% dan untuk mata kiri adalah sebesar 52,6%. Sedangkan di perkotaan untuk mata kanan adalah sebesar 47,1% dan untuk mata kiri adalah sebesar 48,4%. Tidak didapatkan perbedaan yang bermakna antara pedesaan dan perkotaan untuk mata kanan (p=289) dan mata kiri (p=0,336). Dari retinopati diabetika di pedesaan, 116 orang (95,9%) pada mata kanan dan 117 orang (95,1%) pada mata kiri adalah tidak terdeteksi. Dari retinopati diabetika di perkotaan, 143 orang (96,6%) pada mata kanan dan 147 orang (96,7%) pada mata kiri adalah tidak terdeteksi. Tidak didapatkan perbedaan yang bermakna antara retinopati diabetika yang tidak terdeteksi di pedesaan dengan di perkotaan untuk mata kanan (p=0,745) dan mata kiri (p=0,504) Simpulan: Retinopati diabetika yang tidak terdeteksi baik untuk mata kanan dan mata kiri di pedesaan secara statistik sama dengan di perkotaan.

Background: Diabetic retinopathy had often no symptom, so the condition is not realized by the patient. Social economic condition caused people in rural area can not undergo routine check-up, so the diagnosis is late. Objective: To determine the difference of undetected diabetic retinopathy among rural area and urban area in Yogyakarta province. Material and methods: A cross-sectional study among 3000 people aged 40 years and older from rural area and urban area. Population Census criteria in the year 2000 was used to determine whether a village was classified to rural or urban which included population density, percentage of agriculture’s household, access to urban’s facility, percentage of television’s household, distance to the nearest recreation’s centre, distance to the nearest school, percentage of telephone’s household, and percentage of electrical’s household.The study was conducted from May until August 2004. All study subject underwent complete eye examination with standard protocol to determine diabetic retinopathy and completed a questionnaire concerning their perception about diabetes and diabetic retinopathy. Result: There were 641 males (46.7%) and 733 females (53.3%) for rural category, and 584 males (35.9%) and 1042 females (64.1%) for urban category, included in the study. The prevalence of diabetic retinopathy among people who had blood glucose level >=140 mg/dl in rural area for the right eye and the left eye were 51.7% and 52.6%,respectively. In urban area for the right eye and the left eye were 47.1% and 48.4%, respectively. There was no significant difference of prevalence of diabetic retinopathy among rural area and urban area for the right eye (p=0,289) and the left eye (p=0,336). Of diabetic retinopathy in rural area, 116 persons (95.9%) in the right eye and 117 persons (95.1%) in the left eye were undetected. Of diabetic retinopathy in urban area, 143 persons (96.6%) in the right eye and 147 cases (96.7%) in the left eye were undetected. There was no significant difference of undetected diabetic retinopathy for the right eye (p=0.745) and the left eye (p=0.504) among rural area and urban area. Conclusion: Undetected diabetic retinopathy in rural area is statistically the same with undetected diabetic retinopathy in urban area.

Kata Kunci : Retinopati Diabetika, Perkotaan dan Pedesaan, Diabetes mellitus-diabetic retinopathy-prevalence-rural-urban


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.