Laporkan Masalah

Daya guna Daunorubicin Introperatif dibanding Mitomycin-C Intraoperatif terhadap kekambuhan Pterigium

WIDIATI, Retno, Prof.Dr. Suhardjo, SU.,SpM(K)

2005 | Tesis | PPDS I Penyakit Mata

Latar belakang: Pterigium masih menjadi masalah yang sulit karena risiko kekambuhan pasca bedah yang tinggi dan sukar diatasi. Aplikasi mitomycin C, suatu metode yang telah dilakukan selama ini dapat menyebabkan komplikasi yang parah dan angka kekambuhan yang tinggi. Daunorubicin merupakan antiproliferatif agent yang dapat menekan angka kekambuhan pterigium dengan komplikasi minimal. Tujuan: Membandingkan daya guna pemberian daunorubicin intraoperatif dengan mitomycin C intraoperatif dalam mencegah kekambuhan pterigium. Bahan dan cara: Penelitian eksperimental dengan rancangan Randomised Clinical Trial, dilakukan pada 59 pasien pterigium primer, usia kurang 50 tahun, dan secara acak dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan. Aplikasi daunorubicin intraoperatif dilakukan pada 30 mata, sedangkan aplikasi mitomycin C dilakukan pada 29 mata. Penelitian dilakukan di RSU dr. Sardjito dan RS Mata dr. Yap Yogyakarta pada bulan Juni 2004-01ctober 2005. Daya guna dinilai dari angka kekambuhan, reaksi sakit dan radang pasca bedah yang dilakukan dengan pemeriksaan lampu biomikroskopi selama masa tindak lanjut pada hari ke-1,7, 14, bulan ke-1,2,3. Uji kai kuadrat dilakukan untuk menilai kekambuhan. Hasil: Tidak ada perbedaan yang bermakna antara gambaran klinis (p=0,239) dan gradasi pterigium (p=0,243). Angka kekambuhan lebih tinggi pada kelompok mitomycin C dibanding kelompok daunorubicin selama masa tindak lanjut (37,90% dibanding 6,70%), secara statistik terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,001). Rasa sakit, hiperemi konjungtiva, lakrimasi dan blefarospasme pada kelompok mitomycin C lebih berat dibanding pada kelompok daunorubicin, terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik. Rasa sakit pada hari ke-1 (p,001), hari ke-7 (cF--0,000), hari ke-14 (p7,1,004). Hiperemi konjungtiva pada hari ke-1,ke-7 dan ke-14 (p),000). Lakrimasi pada hari ke-1 (p=0,001).Blefarospasme pada hari ke-1 (p=0,005), hari ke-7 dan ke-14 Simpulan: Aplikasi daunorubicin intraoperatif lebih efektif dibanding aplikasi mitomycin C dalam mencegah kekambuhan pterigium.

Background: Pterygium is still a great problems and difficult to treat due to the high risk of recurrence after extirpation. The application of mitomycin C is one of the method which had been done nowadays with high risk of complication and recurrence.Daunorubicin as an antiproliferative agent which can decrease recurrency with the lowest complication. Object: The objective of the study is to compare the efficacy of daunorubicin and mitomycin C intraoperatively to prevent the pterygium recurrence. Material and methods: A randomised clinical trial, was carried out in 59 patients with primary pterygium, the mean age was less than 50 years old, and randomized into two groups: intraoperative daunorubicin in 30 eyes and intraoperative mitomycin C in 29 eyes. The study were enrolled in dr. Sardjito general hospital and dr. Yap's Eye Hospital Yogyakarta, between June 2004 until October 2005. Patients were followed for recurrence, inflamation and complications from day 1,7,14, 15', 2nd and 3rd month by the biomicroscope examination. Chi-square test was used as statistical analysis to evaluated the proportion of recurrence. Result: There were no statistically significant differences between two groups in the clinical sign of pterygium (p).239) and the degree of pterygium (p4).243). The mitomycin C group shown the high number of recurrence (37.90%)compared to daunorubicin group (6.70%) with p=0.001. The inflammation and side effect were also evaluated in this study which were conjuctival hyperemia, tearing, blepharospasm, pain and granulation. Conjunctival hyperemia, tearing, blepharospasm and pain in intraoperative mitomycin c group were higher than in intraoperative daunorubicin group, and there were statistically significant difference in pain on day 1 (p41.001), day 7 (p.000), day14 (p=0.004); conjunctival hyperemia on day 1, day 7, day 14 (p-0.000); tearing on day 1 (p=0.001) and blepharospasm on day 1 (p=0.005) , day 7 and day 14 (p=0.000) . Conclusion: Application of daunorubicin intraoperatively appeared more effective than mitomycin C intraoperatively to prevent pterygium recurrence.

Kata Kunci : Pterigium Primer,Kekambuhan,Mitomycine C., primary pterygium-recurrence rate-daunorubicin-mitomycin C.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.