Laporkan Masalah

Daya guna Dexmedetomidine dibanding Midazolam sebagai premedikasi terhadap respon yang timbul akibat penggunaan Ketamine pada Total Intravenous Anesthesia (TIVA)

EVAWANI AD., Ayu, Dr. Muhdar Abubakar, SpAn.,KIC

2005 | Tesis | PPDS I Anestesiologi dan Reanimasi

Tujuan : Mengetahui dan membuktikan daya guna dexmedetomidine dibanding midazolam sebagai premedikasi terhadap respon yang timbul akibat penggunaan ketamine pada Total Intravenous Anesthesia (TIVA) Desain : Randomized Controlled Trial Ruang lingkup: Pasien-pasien pria dan wanita yang menjalani prosedur bedah superfisial elektif dengan menggunakan teknik TIVA dengan ketamine sebagai obat tunggal anestesi di RS DR.Sardjito, Yogyakarta dan RSUD Banyumas Subjek : 60 pasien (n1=n2=30), pria-wanita, status fisik ASA I-II, usia 18 – 40 tahun Intervensi : Subjek dibagi dalam dua kelompok (n1=n2=30), yang secara random ke-60 pasien tersebut akan mendapatkan premedikasi 0,6 mcg/kgbb dexmedetomidine atau midazolam 0,1 mg/kgbb iv selama 15 menit yang kemudian dilanjutkan dengan memberikan ketamine bolus 2 mg/kgbb iv selama 30 detik sebagai obat induksi. Metoclopramide 10 mg dan dexamethason 8 mg iv diberikan pada kedua kelompok A dan B sebagai preemptive postoperative nausea and vomiting (PONV). Ketamine drip 60 mcg/kgbb/menit serta oksigen 4 liter/menit digunakan sebagai zat pemeliharaan selama operasi berlangsung. Bilamana diperlukan, 1 mg/kgbb ketamine bolus iv akan ditambahkan sesuai kondisi klinis pasien. Hipotensi dan bradikardi yang timbul akan diterapi dengan menambahkan volume cairan infus intravena dan kalau perlu dengan menambahkan ephedrin 10 mg serta atropin 0,25 mg iv. Pengukuran utama : Tekanan darah sistolik, -diastolik, frekwensi detak nadi pada saat baseline , setelah premedikasi dan induksi dilaksanakan serta pengukuran terhadap kejadian delirium pasca anestesi. Hasil : Dexmedetomidine maupun midazolam mampu menekan nilai-nilai tanda vital pasca premedikasi, meskipun perbandingan kedua kelompok tidak bermakna (p > 0,05) . Kenaikkan nilai TDS, TDD dan MAP pasca induksi masih tetap terjadi dengan hasil uji statistik perbandingan antar kedua kelompok yang juga tidak bermakna (p> 0,05), terkecuali pada perubahan kenaikkan nilai HR kelompok midazolam yang lebih bermakna daripada kelompok Dexmedetomidine (p = 0,003). Delirium terjadi pada 6 orang subyek penelitian, 4 dari kelompok A dan 2 dari kelompok B. Mual-muntah masih merupakan masalah utama pasca anestesi dengan ketamine sehingga memerlukan penanganan yang lebih seksama

Objective : To determine wether dexmedetomidine is more efficient than midazolam intravenous as premedicant in order to prevent haemodynamic responses and emergence reaction after TIVA with ketamine. Design : Randomized Controlled Trial. Setting : Patients who were scheduled for elective superficial surgery under ketamine anaesthesia at Central Operating Theatre of DR. Sardjito Hospital in Yogyakarta and at RSUD Banyumas. Subject : Thirty patients each (n1=n2=30), men and women, ASA physical status I-II (18-40 years old). Intervention : Subject were divided into two groups, each group consists of 30 patients, allocated randomly to receive 0,6 mcg/kgbw dexmedetomidine or 0,1 mg/kgbw midazolam intravenous as premedicants, 15 minutes before start of the study. Ten mg metoclopramide and 8 mg dexamethason were given for both of groups as preemptive PONV. Two mg /kgbw ketamine boluses iv were administered over 30 seconds for induction. Anaesthesia was maintained with 60 mcg/kgbw/minute ketamine drip and supplemental oxygen 4 liter/minute. Ketamine boluses 1 mg/kgbw were added according to clinical condition of patients. Main measurement : The systolic-, diastolic blood pressure and heart rate at baseline, after premedication and induction and occurrence of delirium after emergence from anaesthesia. Result : There were no statistically significant between the groups (A and B) in attenuating haemodynamic responses after premedication (p > 0,05). Systolic-, diastolic blood pressure and MAP for both of groups remained increase after induction, but the differences still not stastically significant (p > 0,05). After induction by ketamine, the differences HR values for midazolam and dexmedetomidine were stastically significant (p = 0,003). Four patients from dexmedetomidine group and 2 patients from midazolam group were experiencing delirium. Nausea and vomiting were remains the most frequent adverse event after anaesthesia with ketamine that need more attention to be avoided.

Kata Kunci : Ketamine,TIVA,Dexmedetomidine dan Midazolam, sympathoinhibitory, dexmedetomidine, midazolam, ketamine, delirium


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.